Nggak pernah mimpi aku akan membuat postingan semacam ini. Keuntungan memasak sendiri? Hah! Jangankan untung, yang ada malah kebayang masa kuliah.

Masa-masa Horror

Cerita sedikit, ya. Aku kuliah di salah satu jurusan yang semula aku pikir jurusan ilmu pasti. Sebelum memilih jurusan, aku sudah lihat kurikulum. Ada sih mata kuliah-mata kuliah yang sepertinya mesti bersinggungan dengan dapur. Tapi, aku pikir hanya sekian persen.

Begitu masuk, ternyata banyak banget praktikum di dapur. HAHAHA.

Well, okelah. Nggak apa. Toh, kemampuan mengolah makanan merupakan salah satu kemampuan bertahan hidup, kan?

Ternyata, positive thinking saja nggak cukup. Jadi, setelah melalui beberapa praktikum, aku jadi tahu kenapa kebanyakan chef malah cowok.

Pertama, karena cowok yang masuk jurusan masa-memasak memang perlu passion banget. Cowok yang masuk jurusan itu, sudah jelas punya passion. Cewek yang suka memasak, yang aku lihat dari teman-temanku, kebanyakan sudah cukup puas dengan masak untuk keluarga. No offense, ya. Kan hanya observasiku.

Kedua, dapur pengolahan ternyata sama kayak hutan rimba. Horrornya sama. Kehidupan dapur memang keras. Nggak heran di film banyak chef berwajah seperti ini. Aslinya banyak yang berwajah lebih ramah, sih.

Oh ya, in case ada yang ingin tahu kenapa jurusan tata boga perlu tinggi badan minimal (sebelum aku masuk jurusanku yang nyerempet tata boga, pertanyaan itu banyak muncul), ini aku kasih tahu: supaya kamu nggak tenggalam di balik alat dapur. Alat-alat dapur industri kebanyakan besar-besar. Untuk masak air aja ada alat khusus. Kalau kamu mungil, mungkin alat itu justru lebih besar daripada kamu.

Hal ini juga berhubungan dengan ergonomi. Kalau kamu mungil, akan sulit mengambil alat atau bahan yang letaknya di atas. Yang mana, alat atau bahan kadang-kadang memang sengaja diletakkan agak tinggi demi hygiene dan sanitasi.

Lah. Aku jadi menjelaskan ini-itu.

Move On! 

Setelah lulus, aku mau terbebas dari kehorroran dapur. Jadilah, aku benci dapur. Bukan passion, mau gimana lagi? Aku ke dapur paling juga cuma untuk membuat mie instan atau, paling keren, telur dadar. Lol.

Nah, selain itu, memasak juga nggak bisa sendiri. I’m not talking about team work. Aku bicara soal hal-hal yang bisa berpengaruh terhadap hasil masakan. Api, kualitas bahan, dan semacamnya. Bahkan mood juga mempengaruhi banget. Di sisi lain, aku paling nggak suka harus bergantung pada hal-hal yang bisa terlihat mata/disentuh/dirasakan langsung, tapi sebenarnya nggak pasti.

Kalau algoritma media sosial kan nggak pasti, tapi juga nggak bisa terlihat mata. Jadi, yaudahlah. *iya, aku pilih kasih*

Tapi, tanpa ada Negara Api menyerang, tiba-tiba saja aku berubah pikir soal dunia memasak.

Hidup itu harus move on. HARUS.

Dapur industri makanan memang agresif, tapi dapur rumah kan nggak. Logically, kalau dapur rumah sebegitu horror, ibu-ibu yang mau masak pasti nggak akan banyak, kan? Kalaupun banyak yang tetap mau memasak, pasti jadinya juga banyak ibu-ibu yang luar biasa strict kayak para chef.

Demi yang Dicintai

Anyway, thanks to founder Instagram. Sukses bikin aku cinta terhadap media sosial itu. Sukses bikin aku mau melakukan perubahan demi survive.

Aku tuh cintaaaa banget dengan makanan. Aku suka makan. Sampai-sampai, aku memutuskan bahwa Instagram isinya harus hal-hal yang bisa membuatku bahagia, yaitu buku dan makanan. Kalau melihat feed rapi, rasanya senaaang banget.

Tapi, aku kan belum jadi manajer yang gajinya puluhan juta perbulan. Masalahnya, demi feed rapi, aku perlu foto-foto yang konsisten. Foto buku sih mudah. Comot saja buku apa pun dari rak. Bahkan, seandainya setahun nggak beli buku, aku masih bisa memfoto buku-buku yang ada, buku-buku perpustakaan, atau buku-buku pinjaman.

Nah, untuk bagian makanan gimana? Yaaa, mau nggak mau harus jajan. Kayaknya, kurang menarik kalau setiap minggu sampai muncul sayur kangkung lagi, sayur kangkung lagi.

Sayangnya, jajan memang kadang-kadang nggak murah, kan? Seperti kataku, aku belum jadi manajer dengan gaji puluhan juta perbulan. Jajan terus kadang-kadang membuat sesak. Apa lagi, jajan seringnya nggak cukup sedikit. Niatnya mau beli ini, mata melirik ke itu. Hih! Ya sudahlah, perut kenyang, dompet lapar. Kan kasihan si dompet.

Akhirnya, aku mencoba membuat makanan sendiri. Sekarang kan mencari resep mudah banget, ya. Bahkan, mau membandingkan resep pun ada banyak yang bisa dibandingkan.

Lalu, setelah dijalani, ternyata apa?

TERNYATA MEMASAK NGGAK HORROR.

HAHAHA.

Keuntungan Memasak

Baru beberapa kali memasuki dapur, aku sudah menemukan beberapa keuntungan memasak sendiri. Ini nih:

1. Hemat

Oh, ini kan alasan utama? Rata-rata, masak sendiri memang lebih murah. Biaya belanja nggak harus ditambah biaya pekerja dan untung penjualan. Hehe.

Tapi, ini juga harus dihitung banget-banget. Kadang-kadang, ada juga menu yang jatuhnya lebih mahal daripada beli.

2. Lebih sehat

Tentu, dong. Nggak pakai msg, gula dan garam terkontrol, minyak jelas nggak dipakai berkali-kali, dan segala macam kontrol lain.

Memasak sendiri juga terjamin soal kebersihan. Taulah, ya, kalau jajan di luar kayak gimana? Hehe.

Kalau sudah kebanyakan jajan tapi sedang kaya raya, ingat saja biaya dokter dan rumah sakit nggak sedikit, dan menginap di rumah sakit nggak biss menghasilkan uang banyak. Lol.

3. Lebih sesuai selera

Seenak-enaknya makanan di luar, ternyata makanan buatan sendiri bisa lebih enak. *oke, ini narsis*

Tapi, betulan kok. Sebelum disajikan kan dicoba dulu. Yaa, kecuali semacam kue. Walau begitu, untuk kue, kalau betul mengikuti resep, kemungkinan besar enak kok.

4. Melatih intuisi

Tadi kan aku bilang, aku kurang suka memasak karena sulit untuk mengontrol ini-itu. Setelah dijalani, ternyata nggak begitu.

Hal-hal yang tadinya di luar kuasa pun bisa ada dalam kontrol diri sendiri kok. Cukup mengandalkan intuisi saja supaya bisa terkontrol.

5. Melatih emosi

Adegan potong-memotong saja perlu emosi yang tepat. Kalau mau membuat hiasan, sang tomat atau sang timun harus dibaik-baiki supaya hasilnya bagus. Kalau mau mencincang, bolehlah segala emosi dikeluarkan. Tapi, jangan deh kasihan. Lagian, somehow, aku melihat bahan makanan sebagai sesuatu yang mempunyai soul. Bahkan, saat mengubah bahan besar menjadi potongan kecil pun rasanya seperti menyalurkan aliran jiwa diri sendiri.

Got the point? Abstrak banget, ya, penjelasanku. Hehe.

6. Meningkatkan kreativitas

Kalau sudah sering, selain intuisi terangkat, kreativitas pun demikian. Dari masakan ini, bisa dimodifikasi jadi masakan itu. Modifikasinya bukan hanya dalam blue print.

Ini yang aku lihat mamakku, ya. Aku mah kreatif kalau harus mencari bahan pengganti yang lebih murah. Lol.

Itulah keuntungan memasak sendiri versi aku. Tapi, selain keuntungan, tentu ada kerugian. Biar adil, aku paparku juga kerugian, ya. Nggak banyak kok, dan bisa ditanggulangi.

Rugi?

Jadi, ini beberapa kerugian memasak. Dengan sedikit cara menyesuaikannya.

1. Butuh waktu

Oh, tentu. Aku malah sempat kesal waktu pertama kali merebus wortel dan kentang. Kok lamaaa banget empuknya? Haha.

Padahal, kalau dipikir-pikir, perjalanan ke tempat makan pun butuh waktu, tapi kenapa nggak kesal, ya?

2. Capek

Yaiyalah. Memasak kan mengeluarkan tenaga. Kontrol ini sih yang masih sering membuatku sebal. Mungkin karena belum sepenuhnya passion. Padahal, mau makan kan niatnya untuk bahagia.

3. Bisa lebih mahal daripada membeli makanan jadi

Nah ini jebakan. Niatnya irit, malah sebaliknya. Salah satunya, bisa karena bahan yang diperlukan hanya sedikit, lalu tersisa banyak. Kemudian, malah membuat percobaan makanan apalah. Atau, lebih parahnya, malah dibiarkan basi.

Bisa juga karena effort yang dikeluarkan memang nggak sesuai. Kayak memasak bebek, misalnya. Aku ingat banget waktu praktikum, mencabuti bulu bebek nggak bisa kilat. Ada juga teman yang membersihkan belut sampai darahnya ke mana-mana. Kalau kayak gitu, aku mending mencari resto bebek goreng dan belut goreng.

Kalau yang butuh effort besar kan jelas mudah ditinggal saja. Lain halnya kalau menemukan makanan yang sepertinya mudah dibuat, tapi bahannya mahal.

Aku sering sebal kalau begitu. Lalu, harus cari masakan. Eh, malah sama saja mahal. Padahal, masakan mahal kan biasanya tampak cantik di Instagram. Haha.

Kadang-kadang, aku malah nggak menghitung perkiraan harga bahan. Sudah yakin akan murah. Tapi, giliran mau evaluasi, malah takut sendiri. Huehe.

Makanya, supaya nggak terlalu sebal, aku menghitungnya menggunakan kalkulator. Entah kenapa, menghitung menggunakan kalkulator ponsel, kadang malah membuat sumpek. Efek tampilan kali, ya.

Tadinya, sih, aku menggunakan CASIO scientific calculator. Yang hitam itu, loh. Kebanggaan sejak masuk kelas SMA IPA.

Tapi, sekarang aku pakai Colorful Calculator, #CASIOMyStyle yang warna-warni itu. Aku pakai warna ungu, sesuai kepribadianku waktu tes kepribadian dulu.

Casio my style

Weleh, kok malah jajan kalkulator?

Kalkulator kan benda yang nggak akan habis dipakai 1-2 tahun. Kalkulator lamaku saja masih hidup. Apa lagi, CASIO kasih garansi 1 tahun. Jadi, lebih tenang. Oh, ya, kalau mau beli Colorful Calculator ini, bisa di MatahariMall dan dapat diskon pakai kode voucher: CASIOBLOGVH17.

Kalau dengan kalkulator justru bisa meningkatkan produktivitas karena mood naik, kenapa nggak kan? untung saja meja dapur di rumah sekarang dialasi taplak warna-warni. Jadi, mood di dapur selalu baik.

Kalau produktivitas naik, kali aja proyek masak iseng bisa jadi penghasil pundi-pundi harta. Kayak akun-akun Instagram food gitu. *ngarep*

Oh, ya, CASIO My Style bisa untuk menghitung tax. Yang mempunyai bisnis enak, nih.

Kalkulatornya siap untuk bisnis, orangnya kapan? Huehe.

Sekadar Saran

Nah, saranku buat yang mau mulai belajar memasak demi hidup hemat:

1. Direncakan dahulu mau bikin apa saja supaya sekalian belanja. Keseringan masuk pusat perbelanjaan juga nggak baik bagi dompet. Hehe.

2. Hal no. 1 berlaku kalau niat memasaknya nggak dijeda lama. Kalau minggu ini mau bikin bulgogi, lalu baru niat memasak ayam bakar 2 minggu lagi, jelas nggak mungkin sekalian. Tapi, bisa diakali dengan membeli bahan keringnya sekalian. Ayamnya menggunakan layanan pesan antar.

3. Kalau bisa membeli online, beli saja. Kayak bumbu-bumbu kering, bahan makanan yang awet, banyak kok di toko daring. Harganya juga kadang-kadang lebih murah. Tapi, yaaa, kalau pas ke pasar, cek saja dulu. Hehe. Oh, ya, kadang-kadang, varian bumbu juga lebih banyak  di toko daring.

Itu saja, sih, saranku.

Anggap Saja Karya

Blogpost ini sudah panjang, tapi supaya nggak dibilang hoax bahwa aku mulai belajar memasak, ini aku beberapa mahakaryaku. [1]mahakarya

Kare Jepang

kare jepang halal

Bumbu kare Jepang sekitar Rp20.000 termasuk ongkos kirim. Bisa untuk 4 porsi, tapi di sini aku buat 2 porsi dahulu. Jadi anggaplah Rp10.000. Kentang Rp5.000. Wortel Rp2.000. Bawang bombay aku pakai sedikit banget karena nggak suka, tapi taruhlah Rp1.000. Jadi sekitar Rp18.000 untuk 2 porsi. Beli kare di resto belum tentu dapat Rp20.000 seporsi.

Salted Egg Chicken Nugget

nugget

Ini chicken nugget diskon. Rp30.000 dapat banyaaak. Bahagia banget karena memang suka stok nugget. Telur asinnya Rp3.500 per butir. Susu? Jatah harian aku ambil sedikit. Ketahuan kan cukup murahnya?

Kering Kentang

Kentang lagi, nih. Yang dibeli sama dengan untuk kare. Bumbunya pakai bumbu yang ada di rumah. Toh, ini masakan rumahan. Jadi, yaa, anggap saja nggak nyatut apa pun untuk cost.

Oh, ya, sebelum kena komplain soal gas, aku pakai gas alam. Pastinya lebih murah daripada gas tabung.

Hitung-hitunganku belum profesional, sih. Masih sering ambil dari persediaan dapur mamak. Hehe. Tapi, yaa, semoga aja nanti bisa lebih benar. Sekarang sih masih berprinsip, “kan nggak sering belajar masaknya. Ambil bawang sebiji nggak akan kerasa.”

Walau begitu, memang kerasa sih antara jajan dan bikin, lebih murah bikin. In case aku harus ganti bawang dam garam mamak, tetap lebih murah daripada jajan di resto.

Well, semua itu pilihan, sih. Mungkin ada juga yang lebih memilih mengeluarkan cost ke resto daripada mengorbankan waktu di dapur. Hal yang berharga bagi tiap orang kan berbeda.

Yang pasti, aku jadi tahu bahwa kalau sudah menaklukan ketakutan, hal-hal yang tidak terbayangkan sebelumnya akan menghampiri.

Referensi

Referensi
1 mahakarya

You may also like...

2 Comments

  1. Memasak sendiri kalau buat aku lebih hemat, lebih bersih, lebih sesuai dengan yang dinginkan. Jadi ga ribet complain hehhee.

  2. […] itu, belajar memasak adalah hal utama yang patut dilakukan. Asah keahlian membuat roti sampai mendapatkan roti yang […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *