Manusia adalah khalifah di muka buka.
Pernyataan yang sangat sering didengar, dilihat, dibaca sejak lama. Dan itu juga pernyataan yang sering dianggap angin di kala gerimis: tidak dianggap.

Khalifah itu pemimpin. Esensi dari kalimat tersebut tentu saja manusia adalah pemimpin. Pemimpin yang memimpin dunia, memimpin negara, perusahaan, keluarga, dan tentunya diri sendiri.

Kali ini tidak akan dibahas mengenai masalah yang timbul akibat kepemimpinan, tetapi masalah manusia menjadi pemimpin, agar manusia lebih hati-hati.

Well, manusia adalah makhluk yang diberi kelebihan berupa pikiran. Pikiran, bukan akal. Pikiran itu datangnya dari hasil kerja otak membentuk sesuatu, bisa lepas dari perasaan atau pun tidak. Akal datangnya dari otak tetapi tidak menggunakan usaha keras untuk membentuknya, cukup menyatukan naluri dan perasaan.

Kelebihan manusia yang satu ini seharusnya dipergunakan untuk kemakmuran seluruh makhluk hidup. Namun, di sisi lain, kelebihan juga dapat menjadi bumerang. Semakin tajam bumerang itu, ketika dia berbalik, justru akan semakin berbahaya.

Selain pikiran, manusia juga memiliki hawa nafsu. Ketika hawa nafsu bertemu pikiran, ada dua hal yang mungkin terjadi: bekerja sama atau bertengkar.

Jika pikiran bekerja sama atau kalah dengan nafsu jahat, yang terjadi adalah pikiran akan membuat segala kemungkinan yang menurutnya baik untuk melegalkan kejahatan tersebut. Mungkin alasan keluarga, alasan keuntungan, atau yang lainnya.

Dalam skala kecil, hal itu belum terlalu berpengaruh. Namun, dalam skala besar jelas berbeda. Pejabat korup tentu (mungkin) saja sudah mengerahkan seluruh pikirannya untuk melawan hawa nafsu korupsi namun akhirnya mengerahkan seluruh pikirannya untuk melegalkan perbuatannya. Akhirnya, rakyat yang dipimpinnya lah yang menanggung akibatnya.

Bagaimanapun, setiap manusia memiliki sisi baik, nafsu baik, pikiran baik, yang terkadang terlupakan. Yang perlu dilakukan adalah membangkitkan seluruh sisi baik itu, entah bagaimana caranya.

Seorang pemimpin tentu memiliki pengaruh. Negatif atau positifnya pengaruh itu tentu akan diterima yang dipimpinnya. Yang terpenting adalah memimpin diri sendiri agar menjadi pengaruh yang baik bagi orang lain dengan cara mengendalikan kelebihan manusiawi.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *