Kamu tahu intoleransi laktosa?

Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan tubuh mencerna laktosa. Laktosa adalah jenis karbohidrat yang terdapat dalam produk susu.

Jadi, buat yang mempunyai intoleransi laktosa, memang sebaiknya menghindari produk susu.

Walau begitu, aku sempat melihat beberapa orang yang intoleransi laktosa tetap mengonsumsi produk susu. Kenapa? Godaan bangeeeet. Siapa yang bisa menolak es krim?

Mereka lebih memilih perut kenapa-kenapa, asalkan bisa menikmati produk susu. Tapi, tentunya mereka tahu batas, ‘kan?

Kali ini, aku bukan mau membahas kesehatan tubuh, sih. Aku mau membahas … kesehatan jiwa, mungkin (?)

Berkaitan dengan toleransi-intoleransi.

Di kehidupan sehari-hari, kita sering berhadapan dengan situasi mirip intoleransi laktosa, ‘kan?

Contoh kecil:

Ada yang nggak suka kalau pasta gigi bukan ditekan dari bawah lalu langsung bilang “pencet dari bawah, please“. Ada yang nggak suka seperti itu tapi hanya berpikir “ya sudah, nanti saja aku yang rapikan pasta giginya”.

So, yah, ada orang yang punya toleransi besar soal pasta gigi. Ada yang agak sedikit intoleransi soal itu walau nggak sampai marah-marah.

(Tapi please kalian jangan ribut cuma gara-gara pasta gigi atuhlah. Cuma contoh itu mah.)

Pengertian toleransi? Kamu juga pasti sudah tahu, deh. Menghargai, menghormati individu atau kelompok lain. Kalau ada perbedaan, nggak gelud.

Pembahasan soal toleransi seringnya beraspek di kata “lain” itu. Tapi pernah nggak kamu menilik sisi “diri sendiri” juga?

Batas toleransi tiap orang mungkin berbeda. Aku juga nggak bisa menilai seberapa besar toleransi seseorang.

Tapi, ketika melihat cerita orang-orang yang “berusaha bertahan”, jadi muncul pertanyaan: apakah itu juga termasuk toleransi?

Apakah perbedaan toleransi dan menyiksa diri memang tipis banget? Sampai kadang nggak ketara?

Menurutku, sih, kita memang harus tahu cara toleransi kepada orang lain. Jangan war mulu. Tapi, kita juga harus tahu batas toleransi diri sendiri.

Terus kalau sudah mencapai batas, gimana? Boleh ikut war? Ya nggaklaaaah.

IMO, kalau sudah mencapai batas toleransi, tinggilkan saja. Solusi paling mudah versiku. Kamu punya solusi versimu?

Contoh mudahnya, di Twitter deh.

Entah sudah berapa akun yang aku blok, bub, atau mute. Ada yang karena tweets-nya kurang aku suka. Ada yang karena pernah mengirimkan sesuatu yang mengganggu di dm. Alasan lain pun sepertinya ada.

Alasan pertama kayaknya paling sering.

Aku paling nggak mau pusing cuma karena Twitter. Kalau aku nggak suka, mending aku nggak perlu lihat semua kontennya.

Mungkin ada konten-kontennya yang bisa aku sukai. Tapi, aku nggak mau mengambil resiko kesal.

Itu. Batasku memang hanya segitu.

Mungkin batasmu berbeda. Mungkin kamu masih mau melihatnya berseliweran di timeline. Mungkin kamu bisa bersikap bodoh amat kalaupun ada konten yang nggak disuka.

Yup, batas toleransi kita mungkin berbeda. Dan aku nggak berpikir blok, bub, atau mute adalah hal childish.

Know your limit. Jangan sampai karena takut dibilang childish atau nggak enak dengan pihak sana malah jadi menyiksa diri.

Seperti perut punya keterbatasan, mental kita juga mungkin ada batasnya. (Maaf aku bukan anak Psikologi, jadi aku pakai “mungkin” instead of ” pasti)

Kalau so-called-toleransi sudah mencapai batas yang menyiksa diri, buat apa toh?

Kita memang harus toleransi terhadap orang lain. Tapi kita juga harus toleransi terhadap diri sendiri.

Orang yang intoleransi laktosa mungkin sudah tahu seberapa banyak dia masih bisa menoleransi susu.

Kita juga harus tahu seberapa banyak kita masih bisa menoleransi sesuatu. Seberapa banyak kita akan stress gara-gara berusaha toleransi.

Kalau kelebihan susu, intoleransi bisa diare. Kalau kelebihan sesuatu yang nggak disuka, bisa apa? Bisa gila, mungkin.

Jujur saja dengan diri sendiri.

Selama kita nggak langsung merugikan siapapun, apakah salah?

Menghindari sesuatu rasanya masih lebih baik daripada terpelatuk dan duaarrr perang, ‘kan?

Menghindari susu lebih baik daripada diare (bagi yang intoleransi laktosa).

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *