Kusta.

Pertama kali aku mengetahui nama penyakit itu adalah sewaktu SD. Namanya sering disebut dalam suatu mata pelajaran. Waktu itu, aku belum tahu apa sebenarnya penyakit kusta. Aku hanya sekadar menerka bahwa kusta adalah penyakit kulit, seperti panu.

Buku sekolah sering kali menampilkan kisah tentang seseorang yang terkena kusta. Unsur kurang percaya diri—terutama soal fisik—melekat dalam cerita-cerita.

Saat itu, pikiran sederhanaku beranggapan: kurang percaya diri biasanya karena penampilan. Penyakit yang merusak penampilan biasanya penyakit kulit. Begitulah yang aku sangka.

Bertahun-tahun kemudian, barulah aku tahu bahwa kusta bukan sekadar penyakit kulit seperti panu. Kusta berhubungan dengan saraf. Salah satu dampaknya memang bisa timbul pada kulit. Dampak lainnya adalah kusta bisa menyebabkan kecacatan.

Sumber foto 1: Karolina Grabowska di Kaboompics

Apa itu Kusta?

Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycbacterium leprae. Penyakit ini menyerang susunan saraf perifer, lalu menyerang kulit, mukosa (mulut), saluran pernapasan atas, dan organ lain, kecuali susunan saraf pusat.

Terdapat dua tipe kusta:

  • Tipe PB (Pausi Basiler) atau kuman sedikit
  • Tipe MB (Multi Basiler) atau kuman banyak

Kusta adalah penyakit menular, tapi tingkat penularannya sangat rendah. Sebagian besar orang kebal dari penyakit ini karena imun yang baik.

Tanda-tanda

Berikut adalah beberapa tanda-tanda kusta:

  • Bercak pada kulit disertai mati rasa.
  • Ditemukannya bakteri. Namun, hal ini tidak mutlak karena ada tipe kusta yang bakterinya negatif.
  • Adanya gangguan fungsi saraf. Kusta yang terlambat ditangani bisa menyebabkan gangguan yang parah, seperti gangguan saraf di mata sehingga mata tidak bisa menutup; telapak kaki menjadi kebal sehingga jika terjadi luka, tidak segera diketahui dan bisa menyebabkan infeksi; kelamahan otot hingga kelumpuhan.
  • Kerusakan saraf juga bisa menyebabkan perubahan bentuk anggota gerak atau struktur wajah.

Dengan besarnya bahaya yang bisa timbul kalau kusta tidak segera ditangani, sangat penting untuk aware tentang penyakit ini. Kalau melihat bercak di tubuh, ada baiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Apakah Kusta Bisa Disembuhkan?

Begitu melihat kata “lumpuh”, mungkin kita langsung terbayang hal seram. Namun, tidak perlu overthinking. Kusta bisa disembuhkan.

Kusta ada obatnya. Karena itu, begitu melihat tanda-tanda kusta, segera pergi ke dokter. Semakin cepat ditangani, semakin baik. Obat kusta gratis di puskesmas.

Bagaimana Penularan Kusta?

Kusta bisa menular dari penderita kusta yang belum berobat kepada orang lain yang berada di dekatnya dalam waktu lama, seperti orang yang tinggal serumah atau sekamar. Kalau penderita sudah mendapat pengobatan, kecil kemungkinan untuk menularkan. Namun, hal ini kembali lagi ke kekebalan tubuh masing-masing.

Pencegahan kusta dapat dilakukan dengan pemberian obat pencegahan kusta. Selain itu, tentunya imunitas tubuh perlu tetap dijaga selalu. Begitu juga dengan higienitas dan sanitasi.

Stigma Kusta di Masyarakat

Dampak dari penyakit kusta bukan hanya perubahan fisik. Penyakit ini juga bisa berdampak pada psikologis dan ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah masih banyak orang yang mengucilkan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK).

Salah satunya adalah kejadian yang dialami Mohammad Solihin. Beliau bekerja di bengkel. Terkadang, ketika ada pelanggan yang mengetahui bahwa beliau pernah terkena kusta, pelanggan itu langsung pergi.

Kejadian seperti ini mungkin terjadi karena seseorang takut tertular. Mungkin juga karena ada anggapan bahwa kusta adalah penyakit kutukan.

Aduh. Aduh. Kusta bukan penyakit kutukan! Kusta disebabkan oleh bakteri, bukan kutukan.

Kalau soal takut tertular …

Peluang tertular kusta kecil banget, loh! Dari 100 orang, 3 orang terkena kusta dan bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan; dan 2 orang terkena kusta dan butuh diberi obat untuk bisa sembuh. 95 orang lainnya tidak tertular kusta.

Kita memang wajib menjaga diri. Walau begitu, jaga dirinya bukan dengan mengucilkan OYPMK. Bukan juga dengan bertindak ofensif, seperti buru-buru pergi begitu tahu beliau OYPMK.

Menjaga diri bisa dilakukan dengan menjaga imunitas, higienitas, dan sanitasi. Gampang, ‘kan? Tanpa perlu membuat orang lain sakit hati.

Orang yang sedang atau pernah mengalami kusta justru butuh dukungan psikologis. Well, setiap orang yang sakit apa pun butuh dukungan psikologis, ‘kan?

Kita mungkin bukan seseorang yang pandai meramu kata untuk memotivasi seseorang. Mungkin juga bukan seseorang yang selalu bisa mencerahkan ruangan. Kita juga mungkin belum bisa memberi lapangan pekerjaan baru bagi mereka yang kehilangan pekerjaan. Namun, dengan tidak mengucilkan orang sakit, itu artinya kita tidak menambah beban mereka.

Akses Ekonomi bagi Kusta

Kusta bisa mengakibatkan sumber penghasilan berkurang. Masyarakat yang kerap mengucilkan pengidap kusta menjadi salah satu masalahnya, seperti telah disebutkan di atas.

Masalah lainnya adalah karena kusta dapat menyebabkan disabilitas. Masih ada orang yang menganggap penyandang disabilitas itu tidak mampu bekeja dengan baik, ‘kan? Ironis.

Isu inklusivitas masih perlu digaungkan: bahwa disabilitas bukan hambatan dalam berkarya.

Untungnya, beberapa perusahaan sudah mulai membuka peluang bagi OYPMK maupun penyandang disabilitas. Salah satunya adalah di Jawa Pos.

DR Rohman Budijanto SH MH—Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi–JPIP, Lembaga Nirlaba Jawa Pos yang bergerak di bidang otonomi daerah—mengatakan bahwa apa pun keadaannya inklusivitas tidak baik diabaikan.

Jawa Pos tidak memandang perbedaan fisik maupun psikologis dalam rekrutmen. Tidak ada diskriminasi.

Semua diukur berdasarkan kompetensi. Oleh karena itu, siapa saja yang mempunyai kualifikasi dipersilakan mendaftar. Penyaringan diukur melalui uji kompetensi. Disabilitas bukan masalah kalau skills yang dimiliki sesuai yang dibutuhkan.

Selain Jawa Pos, PT United Tractors juga mulai membuka peluang bagi OYPMK. Monika SintaTeam Leader CSR PT United Tractors—mengatakan bahwa banyak testimoni yang dikumpulkan dari users dan supervisors tentang bagaimana OYPMK berkarya di lingkungan kerja.

Tentunya, perusahaan-perusahaan lain pun diharapkan bisa menerima OYPMK dan penyandang disabilitas.

Melebarkan Peluang Diri

Tidak bisa dipungkiri mencari pekerjaan di era sekarang bukan hal mudah. Selagi mencari peluang, tidak ada salahnya untuk membuka lebih banyak pintu.

Berikut ini beberapa tips alakadarnya dariku:

a. Asah skills dan pengetahuan

Sebetulnya, aku yakin teman-teman pencari rezeki tidak akan berdiam diri. Teman-teman terus mengasah diri, ‘kan? Jadi, poin ini sekadar pengingat saja.

Belajar otodidak, mengikuti pelatihan intensif, mengikuti kelas singkat. Selagi menunggu pekerjaan baru, ada baiknya untuk terus mengasah diri. Sesekali, sepertinya tidak ada salahnya juga mencoba bidang yang berbeda dari sebelumnya. Terkadang, peluang bisa didapat dari arah tak terduga.

Bagi yang sudah memiliki pekerjaan, melatih kemampuan diri pun tetap berguna. Mengasah diri akan menjadikan diri lebih baik. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan orang-orang.

b. Ikuti program sertifikasi

Skills sudah dimiliki, tapi apakah orang lain bisa langsung percaya bahwa kita mampu? Mungkin bisa. Namun, kadang-kadang, bukti hitam di atas putih pun diperlukan.

Karena itu, kalau ada kesempatan untuk sertifikasi, jangan sampai terlewat. Setahuku, program seperti ini ada yang gratis dan berbayar. Tinggal kita mencari dan memilih.

Pelatihan-pelatihan singkat yang disertai sertifikat pun bisa menjadi pilihan. Lumayan untuk dimasukkan ke dalam CV kalau relevan dengan pekerjaan yang dilamar.

c. Manfaatkan media sosial

Media sosial adalah tempat yang cocok dalam berpromosi. Promosi barang dan jasa bisa dilakukan di media sosial. Sekarang, semakin banyak yang berjualan di media sosial, ‘kan?

Penjual barang konkret sudah pasti banyak. Tas, sepatu, makanan, dll. Produk digital pun banyak. Bahkan, ada yang menjual jasa menulis.

Keberadaan internet seharusnya menjadi kabar baik bagi OYPMK maupun penyandang disabilitas lain. Internet bisa menjadi penghubung. Internet juga menjadi ladang yang inklusif.

Sepengalamanku dalam dunia internet, hampir tidak ada yang pernah bertanya tentang keterbatasan fisik maupun penyakit. Sesekali pernah ada yang pertanyaan mengenai kemampuan mendengar atau berbicara, itu hanya untuk make sure dalam pemilihan media komunikasi. Kalaupun ada keterbatasan kemampuan berbicara atau mendengar, bisa diatasi melalui fitur chat, ‘kan?

Para pencari rezeki di internet tidak perlu saling pandang bentuk fisik atau riwayat penyakit karena yang terpenting adalah kualitas karya yang dihasilkan.

Hanya saja, internet memang belum menyasar semua orang di Indonesia. Tugas kitalah—para warganet dengan akses internet lancar—membantu mereka. Mulai dari menyebarkan informasi yang benar tentang kusta dan disabilitas pun sudah sangat membantu. Semakin banyak yang menyebarkan, akan semakin banyak pula stigma negatif terpatahkan, ‘kan? Dengan begitu, peluang OYPMK dan penyandang disabilitas untuk berkarya dan bekerja pun semakin luas.


Sumber foto 1: Karolina Grabowska di Kaboompics
https://kaboompics.com/photo/21178/pink-calendar-with-planner-glasses
Sumber informasi:
Buku: 
Syafri. Tanpa tahun. Peningkatan Harga Diri Pasien Kusta. Gowa: Pustaka Taman Ilmu. 
Internet:
https://instagram.com/nlrindonesia
https://www.kbrprime.id/?page/show/73/31096/
https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20140403/1910048/penyakit-kusta/

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *