Health Reportage

Lawan Kanker Payudara Lebih Murah dan Efisien dengan Trastuzumab Subkutan

Breast cancer Trastuzumab Subkutan

 

Kalau kamu ke daerah sekitar Rumah Sakit Kanker Dharmais, kamu akan menemukan banyak sekali kost keluarga di sekitar sana. Awalnya, aku heran, kenapa di sekitar rumah sakit banyak tempat kost? Setahuku, di sekitar rumah sakit di Bogor tidak demikian. Di dekat beberapa RS di Bogor banyak kost, sih, tapi kan lokasinya juga dekat dengan kampus. Jadi, wajar, kan?

Berbeda dengan RS Dharmais. Seingatku, tidak ada kampus di sekitar situ. Apakah staff rumah sakit tersebut ditambah 2 rumah sakit lainnya di samping RS Dharmais memang sebanyak itu? Yaaa, memang ketiga rumah sakit itu rumah sakit besar, sih.

Tapi, ketika aku dan teman-teman mencari kost di sekitar sana, banyak juga kost yang menawarkan kost untuk keluarga. Sempat terpikir, apakah kontrakan di Jakarta luar biasa mahal sampai keluarga lebih memilih kost?

Jawabannya aku dapatkan ketika bertemu tetangga kost. Kamarnya dihuni 3 orang: ayah, ibu, anak. Sang Ibu adalah salah satu pasien kanker. Rupanya, bukan hanya ibu tersebut. Banyak juga pasien lain yang memilih kost di sekitar rumah sakit agar bisa fokus terapi. Nggak bolak-balik jauh. Terutama, kalau asal mereka dari jauh, tentu akan lebih efisien untuk tinggal sementara di daerah rumah sakit.

Sebelumnya, aku tidak tahu bahwa pengobatan pasien kanker membutuhkan waktu lama untuk 1 sesinya. Aku baru tahu setelah mengikuti acara pengenalan Trastuzumab Subkutan kepada media pada 11 Juli 2018. Memang, sih, tetanggaku dulu pasien kanker, tapi kan aku juga nggak memerhatikan berapa jam yang dihabiskannya di rumah sakit karena aku pun tidak selalu ada di kost.

Trastuzumab Subkutan

Aku mau membagikan yang aku dapat dari acara hari itu. Semua yang aku tulis dalam artikel ini adalah rangkuman dari para pembicara:

1. Dr. dr. Nugroho Prayogo Sp.PD(K)HOM (Staf Medis, sub-divisi Hematologi-Onkologi Medik Rumah Sakit kanker Dharmais dan RSCM)

2. Zr. Mursini S.ST (Perawat Kanker Rumah Sakit Dr Soetomo, Surabaya)

3. Dr. Diah Ayu Puspandari Apt., M. Kes, KPMAK UGM (Direktur Pusat Kebijakan Pembiayaan & Manajemen Asuransi Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada)

4. Prof. Dr. dr. H. Abdul Kadir, Ph.D, SpTHT-KL(K), MARS (Direktur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais)

So, let’s talk about Trastuzumab Subkutan.

Formulasi Baru untuk Kanker Payudara 

Jadi, yang akan aku bahas kali ini spesifik untuk kanker payudara, tipe HER2-Positif. Formulasi Trastuzumab Subkutan adalah untuk pengobatan kanker payudara tipe HER2-Positif.

Aku yakin, kamu pasti tahu, kanker ada stadium-stadiumnya, tapi ternyata bukan cuma itu. Kanker payudara nggak cuma kanker payudara tok gitu aja, tapi juga ada tipe-tipenya. Salah satunya adalah HER2-Positif.

Breast cancer

1 dari 5 wanita di dunia yang terkena kanker payudara didiagnosa menderita HER2-Positif yang bersifat agresif.

HER2 adalah suatu protein yang diproduksi oleh gen tertentu dan memiliki potensi untuk menyebabkan kanker jika terekspresi berlebihan di permukaan sel-sel.

Hemat Waktu di RS, banyak Waktu untuk Keluarga

Sebelumnya, Trastuzumab memang sudah digunakan untuk perawatan kanker payudara. Trastuzumab bekerja dengan cara mengaktivasi sistem kekebalan tubuh, menghentikan sinyal dari HER2, dan menghancurkan sel-sel tumor. Trastuzumab memberikan efek meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan menurunkan resiko kekambuhan.

Semula, pemberiannya adalah melalui intravena (IV) dengan infus, tetapi sekarang sudah ada Trastuzumab Subkutan. Trastuzumab Subkutan (SC) diberikan dengan cara disuntikkan di paha atas.

Kebayang dong bedanya waktu yang diperlukan untuk infus habis dan waktu yang diberikan untuk menyuntik? Trastuzumab IV membutuhkan waktu sekitar 90 menit. Trastuzumab Subkutan hanya memerlukan waktu 2-5 menit.

Rata-rata pasien yang biasa menggunakan Trastuzumab IV membutuhkan waktu 4 jam di rumah sakit mulai dari administrasi, pemeriksaan awal, pemasangan infus, pemberian premedikasi, infus obat, pengawasan, dan pelelasan infus. Kalau menggunakan Trastuzumab Subkutan, pasien hanya perlu berada di rumah sakit selama 1.4 jam. Hal ini berdasarkan Analisis Ekonomi Penggunaan Trastuzumab Subkutan (Trastuzumab SC) bagi Pasien Kanker Payudara HER2-Positif Stadium Awal yang dilakukan oleh Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan (Pusat KPMAK) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM (FKKMK UGM).

Trastuzumab Subkutan

Believe it or not, setiap waktu bagi pasien kanker jauuuh lebih berharga daripada waktu kita yang sehat. Daripada lama di rumah sakit, mending digunakan untuk keluarga, kan? Logically, kalau 1 pasien bisa ditangani dengan cepat, antrian pun akan lebih cepat, kan?

Aku belum mengunjungi RS Dharmais dan berharap nggak akan pernah perlu ke sana, tapi ternyata kadang-kadang, pasien harus antri karena jumlah tempat tidur dan pasien nggak sebanding. Sebegitu banyaknya pasien kanker di Indonesia. Huhu. Dan, 48% pasien RS Dharmais adalah pasien kanker payudara.

Dengan adanya Trastuzumab Subkutan, semoga saja pasien nggak perlu antri lama. Kan sudah nggak perlu pakai tempat tidur. Sambil duduk pun bisa diberi terapi. Trastuzumab Subkutan juga mengurangi resiko sakit pada tempat yang digunakan memasukkan obat. Iya, sih, disuntik pasti sakit, tapi kan sakitnya nggak sebanyak diinfus. Selain itu, bekas infus kadang-kadang ngebendung. Duh, bahasaku. Itu loh, yang menjadi semacam benjolan dan kulit di sekitarnya berubah. Kalau ada tangan yang sudah seperti itu, pemberian obat berikutnya hanya bisa melalui tangan satunya.

Biaya Lebih Hemat

Soal harga, ternyata Trastuzumab Subkutan juga lebih murah. Kalau biasanya Trastuzumab IV membutuhkan biaya puluhan juta untuk 1 sesi (iya, 1 sesi. Aku nggak salah ketik), Trastuzumab Subkutan hanya membutuhkan biaya belasan juta saja untuk 1 sesi. Untuk kanker payudara HER-2 Positif kan membutuhkan 18 sesi, jadi, dengan Trastuzumab SC, bisa lebih hemat 35% dibanding dengan Trastuzumab IV. Terima kasih banyak pada kemajuan teknologi.

Memang, sih, masih mahal, tapi setidaknya, beda beberapa juta kan lebih dari lumayan. Bisa untuk membeli makanan sehat, menyewa tempat kost yang lebih sehat, atau hal-hal lainnya.

Waktu mengetahui soal harga, aku langsung kepikiran orang-orang yang sampai harus menyewa kost di sekitar rumah sakit. Memang, biaya terapi kanker nggak semuanya sampai puluhan juta, tapi kan nggak ada yang cuma belasan ribu juga. Sudah obat luar biasa mahal, kost juga mahal, belum lagi kalau mata pencaharian di tempat asal harus ditinggalkan sementara waktu. Waktu zaman aku nge-kost, BPJS belum seluas sekarang.

Oh, ya, Trastuzumab Subkutan sedang diajukan agar dapat di-cover BPJS. Semoga diterima, ya.

Trastuzumab Subkutan di BPOM

PT Roche Indonesia mengumumkan bahwa Trastuzumab Subkutan sudah mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejak 23 Mei 2018. Formulasi ini juga dikembangkan tanpa menggunakan sesuatu yang berasal dari babi.

PT Roche Indonesia, sebagai perusahaan yang mengembangkan Trastuzumab Subkutan di Indonesia, adalah perusahaan bioteknologi terkemuka. Perusahaan ini mengembangkan pengobatan mutakhir di bidang onkologi, imunologi, penyakit menular, serta penyakit mata dan sistem saraf. Roche juga merupakan perusahaan terkemuka untuk diagnostik in-vitro, diagnosis kanker berbasis jaringan, dan perintis dalan penatalaksaan diabetes.

Dengan kemajuan teknologi, semoga saja pengobatan kanker semakin mudah dan murah. Tentunya, semoga semakin berkurang pengidap kanker. Sehat-sehatlah kalian yang baca tulisan ini.

 

You may also like...

5 Comments

  1. Alhamdulillah ya kalau ada obat dengan teknologi baru sehingga waktu dan biaya bisa lebih murah. Pasti pasien Ca Mammae bakal terbantu banget

  2. aku juga pakai ini untuk pengobatanku mba. Semoga makin banyak pasien kanker payudara yang bisa diobati ya di Indonesia

  3. Aku pun berharap trastuzumab ini bisa segera di cover BPJS ya mba biar sangat membantu penderita kanker payudara. Keren Roche selalu berinovasi dengan baik di bidang kesehatan

  4. Kalau mendengar kata kanker selalu merinding deh… Tapi syukurlah Ada pengobatan baru dengan biaya terjangkau ya

  5. semoga makin banyak pasien tertolong ya jangan sampe deh kena kanker payudara, ya Allah lindungilah kami semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *