There’s always be an Asian better than you

Beberapa hari ini, aku terngiang kata-kata itu. Aku menemukannya di komen-komen YouTube.

Mungkin konteksnya kata-kata itu disuarakan oleh Western. Tapi, yah, aku juga jadi kepikiran.

Yang dimaksud “Asian” di YouTube sepertinya lebih sering mengacu pada “East Asian“. Memang perlu diakui, mereka itu kece-kece kalau sudah mendalami suatu bidang.

Smartphone yang kupakai sekarang juga asalnya dari perusahaan Asia Timur.

Namun, kutipan di atas hanya menyebut “Asia”. Nggak pakai timur, selatan, barat, dll. Jadi, yaaah, sebagai orang Asia, kata-kata itu bisa menjadi penyemangatku.

Bahwa aku bisa better dari orang lain. Entah siapa. Mungkin sesama Asia, atau bahkan Indonesia.

Bagaimanapun, pada dasarnya, kita mungkin mempunyai sesuatu yang lebih baik daripada orang lain. Apa pun itu.

Nggak bermaksud membandingkan. Namun, pencapaian kecil bahwa “aku lebih baik” bisa sangat berarti, ‘kan? Terutama bagi orang-orang yang mempunyai low self confidence.

Kepercayaan diri yang rendah bisa jadi karena merasa orang-orang lebih baik daripada dirinya, ‘kan? Makanya, menemukan dan menghasilkan suatu pencapaian sangatlah berarti.

Salah satu hal yang bisa menjadi indikator pencapaian adalah lomba. Ada juga sih indikator sederhana seperti apresiasi dari seseorang. Namun, pencapaian dari lomba juga sangat memupuk kepercayaan diri.

Di sisi lain, kalau kalah lomba, bisa juga menjadi latihan membangun kepercayaan diri.

Untuk ikutan lomba saja sudah butuh kepercayaan diri, ‘kan?

Ditambah lagi, dengan berlomba, kita bisa mempunyai pengetahuan baru. Seperti strategi-strategi baru dalam kehidupan.

Pertama Kalinya Ikut Lomba

Kamu masih ingat kapan pertama kali ikutan lomba?

Lomba pertamaku sewaktu aku berumur sekitar 4-5 tahun. Lomba mewarnai di salah satu pusat perbelanjaan. Artikel ini sekalian menjawab tema Cerita Pertama ft Kak Zelie dengan tema lomba.

Menang? Tentu nggak.

Namun, dari situ jadi ada pengalaman baru. Pengalaman berkompetisi di keramaian. Dan pengalaman-pengalaman lain yang dulu sih belum kepikiran tapi sekarang ketika dipikirkan lagi, ada faedahnya juga.

Begitu masuk TK, aku ikut lomba mewarnai lagi di sekolah. Menang? Nggak.

Aku tuh memang nggak punya ketelatenan dalam mewarnai. Sampai sekarang. Haha.

Aku suka menggambar, tapi untuk mewarnai … Hehe.

Mungkin ini bisa menjadi pengingat bagi para ortu bahwa nggak semua anak suka mewarnai. Jadi, kalau ikut lomba mewarnai dan hasilnya jauh dari harapan, ya sudah.

Well, aku bukan benci mewarnai. Aku cukup suka. Tapi, setelah memulai, aku bisa hanya mewarnai sebagai saja dan sisanya untuk lain waktu.

Walau begitu, aku nggak pernah merasa terpaksa mengikuti lomba mewarnai. Aku suka.

Lomba mewarnai kan nggak cuma tentang mewarnai. Bisa menyenangkan karena atmosfernya. Bisa bikin penasaran gambar apa yang akan diwarnai. (Mungkin) bisa juga membantu mengasah pengambilan keputusan: warna apa, ya, sebaiknya?

Lomba “Murid Teladan”

Seperti yang aku bilang, lomba bukan cuma tentang menang.

Di SD, sudah nggak ada lomba mewarnai. Lalu, aku baru ikut suatu lomba lagi di kelas 5.

Namanya lomba “Murid Teladan”.

Salah satu yang dilombakan adalah mata pelajaran. Setiap sekolah mengirimkan perwakilan 2 siswa: 1 perempuan, 1 laki-laki.

Dari lomba itu, aku jadi tahu bahwa dunia luar terkadang lebih keras daripada dunia sekolah. #halah.

Nggak deh, bukan gitu.

Jadi, walau judulnya “lomba mata pelajaran”, soal-soalnya agak lebih sulit daripada soal ulangan. Makanya, tentu saja aku dan temanku nggak menang. *Mon maap, ini dari tadi cerita nggak menang melulu*

Namun, dari situ, jadi tahu bahwa untuk menang lomba semacam itu, perlu latihan. Dan, latihannya perlu sesuatu yang lebih daripada “pelajaran biasa”.

Pertama Kalinya Menang Lomba

Dari tadi kalah melulu, jadi aku kasih cerita kemenangan, deh.

Skala lombanya sekadar lomba lokal di sekolah (di kelas, bahkan), sih. Namun, yang ini memang unexpected.

Sewaktu di kelas 5 juga, ada lomba menuliskan sinopsis salah satu acara tv. Acara yang hari itu saja. Acaranya adalah acara hari Minggu pagi jam XX.XX di salah satu stasiun tv swasta.

Aku suka menonton. Minggu pagi pun biasanya dihabiskan menonton. Tapiiii, justru acara tv yang dilombakan itulah yang nggak aku ikuti.

Jadi, yah, aku bahkan nggak tahu kenal mereka yang di tv dan nggak begitu tahu kenapa mereka begitu. Cuma pernah dengar seputar hal umum tentang mereka.

Walau begitu, aku tetap menonton.

Aku cukup paham apa yang ditayangkan hari itu. Cukup menarik.

Aku pun menuliskan sinopsis seperti yang ditugaskan. Aku menuliskan di selembar kertas buku tulis. Itu pun nggak sampai penuh sehalaman.

Begitu di sekolah, teman-temanku menuliskannya panjang-panjaaaang. Aku nggak tahu apa yang mereka tulis.

Aku mau menambahkan tulisan, tapi memang sudah mentok. What did you expect from 30 minutes show? Rasanya, aku sudah menuliskan semua.

Karena itulah, begitu pengumuman, aku sama sekali nggak menyangka. Aku menang!

Lombanya diperuntukkan bagi kelas 4, 5, 6 atau 3, 4, 5 aku lupa. Dan dari setiap kelas, dipilih pemenang.

Di sekolahku setiap tingkat hanya ada 1 kelas. Jadi, saingannya nggak begitu banyak. Walau begitu, menang seperti itu tetap saja menyenangkan.

Bisa dibilang, itulah pertama kalinya aku mendapat uang dari menulis. Hadiahnya adalah uang Rp50.000.

Mengingat momen itu membuatku ingat untuk “menjadi diri sendiri” dalam hal menulis.

Zaman sekarang, menulis mungkin mengikuti algoritma Google. Namun, bukan berarti kesenangan dari menulis harus hilang.

Lagipula, terkadang kita mendapatkan hasil yang tidak terduga, ‘kan?

Artikel yang paling banyak dilihat di blog ini saja menurutku tidak terduga. Ada artikel-artikel lain yang sengaja aku bagus-baguskan. Namun, yang salah satu yang paling populer justru yang awalnya curhat. Hehe.

Dalam hal menulis, aku pun kadang-kadang merasa kepercayaan diriku menurun. Jadi, aku berharap artikel ini bisa membantu diri sendiri.

Bahwa ada banyak hal yang tidak terduga di dunia tulis-menulis.

Kembali kepada kutipan di atas, mungkin pada beberapa hal, kita di bawah orang lain.

Namun, ada banyak hal di luar dugaan yang ternyata diri kita bisa jauh lebih baik daripada siapa pun. Semangat!

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *