Actually, I didn’t want to post something’s sad on 6 November. However, this is my mom’s birthday. But, I hope there are still next birthdays (yeah, with “s”) for her and something’s I want to post can’t wait until next day. Some post may remain forever so I hope this post becomes like a memento.

Malam itu, aku berniat membuat postingan wishlist untuk event Secret Santa 2015 di Lady Book’s Notes. Semua yang kubutuhkan sudah ada. Aku pun sudah menulis beberapa kalimat. Karena masih ragu, aku pun menunda pekerjaan itu. Aku membuka Facebook via hp. Ada komentar baru di statusku, dari teman kuliah. Kupikir, pasti komentar penting-nggak-penting dengan nada bercandaan. Toh, status yang kubuat memang penting-nggak-penting.

Ketika kubuka, aku tidak pernah menyangka apa yang akan kubaca. Bukannya memberi komentar sesuatu yang berhubungan dengan statusku, temanku itu justru memberi beri duka. Seorang teman kuliah kami meninggal.
Kejadiannya sangat mendadak. Almarhumah mengalami kecelakaan ketika akan berangkat bekerja. Sore hari, keadaannya menjadi kritis. Tapi, rumah sakit tidak bisa mengambil tindakan karena tidak ada keluarga yang bisa dihubungi. Keluarganya baru datang ketika keadaannya sudah koma.
Mungkin memang sudah jalan-Nya. Kalau memang jalannya seperti itu, ada saja yang bisa membuat penanganan medis terhalangi. Ada saja hal yang bagi manusia selalu bisa dikatakan “seandainya . . . “. Tapi, memang takdir berkata lain.
Dan kalaupun ingat ini kuasa-Nya, sebagai yang ditinggalkan, tetap saja menyisakan perasaan tak menentu.
Aku tidak begitu dekat dengannya. Aku memang tidak begitu dekat dengan banyak orang, hanya dekat dengan orang-orang tertentu. Tapi, bisa dibilang, dia cukup bisa meleburkan batas.
Siapa sih yang obrolan awalnya denganku dibuka selain tentang kuliah? Siapa sih yang bikin aku excited waktu ditanya tokoh di granskin hp-ku? Siapa sih yang suka ngajak ngobrol tentang anime? Siapa sih yang berani gelitikin Afifah Mazaya, yang keliatannya belagu itu?
Dia.
Pertama kali mengetahui namanya, kupikir dia laki-laki. Ya, aku memang lebih dulu mengetahui namanya, dari daftar absen, daripada mengetahui orangnya secara langsung. Kami satu kelas di semester 2.
Kami satu kelas, tapi tidak pernah bertegur sapa. Aku dengan teman-temanku, dia dengan teman-temannya. Dan itu bukan suatu masalah.
Aku tidak tahu kapan tepatnya kami saling bertegur sapa. Satu hal yang pasti, aku mengenal anime Free dari dia dan dia mengenal anime Kuroko no Basketball dariku, lebih tepatnya dari garskin hp-ku. Obrolan kami tidak melulu soal anime. Aku tidak akan nyambung membahasnya dengan dia. Pengetahuannya lebih banyak dariku. Aku hanya suka ala kadarnya. Tapi, kami pun tidak mengobrolkan soal kuliah. Kalaupun soal kuliah, tidak seserius dengan teman lain.
Kami pernah satu kelompok di semester 3. Kelompok besar. Sudah ada teman yang jago memasak dan dekorasi di kelompok kami. Jadi, kami hanya menjadi bagian “anak-anak biasa” dalam kelompok beranggotakan delapan orang itu padahal di memiliki kemampuan yang bisa membuatnya tidak menjadi bagian “anak-anak biasa”. Tapi, di situlah keuntungannya. Tidak terlalu banyak beban. Yang penting, kami bisa menjadi tim penggembira.
Aku juga mengenal aliaZalea dari dia. Waktu itu, aku men-dowload foto dari Facebook orang yang menjual koleksi bukunya. Dia membuka-buka Gallery-ku dan menemukan foto itu. Dia mengira buku-buku itu milikku dan ingin meminjam buku aliaZalea. Dia bilang, buku-buku aliaZalea “katanya” seru. Entah “katanya” siapa. Sejak saat itu, aku menjadi penasaran dengan aliaZalea, terlebih waktu itu buku terbarunya terbit dan cukup booming. Akhirnya, aku pun membeli salah satu buku aliaZalea, dan menyukainya.
Hal yang paling kuingat adalah aku sering harus menjauh darinya. Bukan apa-apa, tangannya jahil. Aku mudah sekali geli dan dia sepertinya tidak mau melewatkan kesempatan menggelitikku. Mana ada sih yang berani bersentuhan denganku sampai sebegitunya kalau bukan teman dekat.
Ah, Li. Untuk sekadar “bukan teman dekat”, aku bisa menceritakan tentangmu sepanjang ini.
Maafkan aku yang tidak ingat kapan terakhir kita bertemu. Semenjak Praktik Kerja Lapangan di tempat yang berbeda, aku jarang melihatmu.
Maafkan aku juga yang tidak bisa mengantarmu ke tempat peristirahatan terakhirmu.
Mungkin Allah sangat sayang denganmu sampai tidak mau semakin ternoda oleh dunia yang semakin aneh ini.
Rencanamu untuk diwisuda oleh rektor tanggal 11 November nanti, harus didahulukan oleh rencana-Nya untuk mewisudamu dari dunia ini pada tanggal 5 November.
Semoga tempatmu sekarang jauh lebih baik daripada di sini.

You may also like...

6 Comments

  1. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa Alie dan menempatkannya di sisiNya. Amin 🙂

  2. aamiin. 🙂

  3. aamiin.
    Panggilannya Lili, Mbak. 🙂

  4. Iya, Mbak. Hanya Dia yang tahu adegan kehidupan selanjutnya. 🙂

  5. Sedih ya Fah, tentunya ikut sedih pula mengingat kawanmu akan diwisuda, namun benar katamu, bahwa manusia hanya pelaku. Kita tidak bisa tidak hanya mengikuti kemauan sang Maha Sutradara

  6. semoga teman mbak di beri tempat yang layak di sisiNya, diampuni segala dosanya dan keluarga yang ditinggalkannya diberi ketabahan, amin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *