Opinion

Medsos Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat, Masa?

Di Kelas Bogor 26 September lalu, aku bertemu seorang teman SMA. Waktu mau pulang, ada yang memanggilku. Wajahnya seperti nggak asing. Otakku pun bergegas mencari informasi. Ketika menemukan 1 nama, mulut dan wajah nggak juga mau sinkron dengan otak. Dia pun menyebutkan namanya, sekaligus sekolahnya. Duh, semoga nggak dikira melupakan teman lama.
Kami nggak pernah sekelas. Kalau dipikir-pikir, agak aneh kami bisa saling kenal. Aku ini anak nggak gaoel. Mainnya dengan teman sekelas atau mantan teman sekelas saja, paling jauh mungkin temannya teman. Ikut organisasi atau ekskul malas. Ke kantin malas. Masih punya teman saja untung. LOL. Untung suka cari sensasi jadi biar teman nggak banyak, tapi tetap eksis. *ditimpuk kue sagu*
Aku jadi menggali ingatan, gimana caranya bisa kenal orang yang kayaknya jauh banget. Mungkin dia temannya teman, tapi aku lupa teman yang mana. Satu hal yang aku ingat, kami seringnya berinteraksi via Facebook. Mungkin kenalnya di Facebook.
Lucu sih. Kalau dari jarak, lebih dekat satu kelas ke kelas lain daripada muter-muter ke tempat Mark Zuckerberg dulu. Tapi, kalau tanpa Facebook, entah aku akan kenal dengan orang-orang seperti itu atau nggak. Temanku punya kasus yang serupa tapi tak sama. Dia berkenalan dengan (mantan) pacarnya via Facebook. Sering berinteraksi via Facebook sebelum akhirnya bertukar nomor ponsel. Dan, mereka juga satu sekolah.
Katanya, media sosial mendekatkan yang jauh. Mungkin beda kelas bisa dibilang jauh. Sekarang, aku kenal banyak orang dari beragam komunitas berkat media sosial. Beberapa sudah pernah bertemu.
Katanya, media sosial menjauhkan yang dekat. Kalau yang ini, aku belum merasakannya. Sejauh ini, aku merasa hubunganku dengan orang-orang di sekitar biasa saja. Mungkin yang sering menjadi masalah adalah sekarang banyak orang yang sedang berkumpul, tapi masing-masing sibuk dengan ponsel sendiri. Ini sebetulnya semacam kebiasaan. Ketika berkumpul dengan A, malah chat dengan B. Ketika berkumpul dengan B, malah chat dengan A. Selama ujung-ujung nggak berantem karena merasa dikacangin, sepertinya sah-sah saja. Yang penting, saat diajak bicara, nyambung.
Aku pribadi sepertinya mustahil menjauh dari media sosial. Medsos sudah menjadi semacam tempat iklan gratis. Bikin postingan, share di medsos. Ikut giveaway, pasti ada aturan share di medsos. Berinteraksi dengan beberapa orang pun hanya bisa dengan medsos.
Dunia sekarang memang sudah berubah. Mau menanggapi positif atau negatif, tergantung masing-masing individu.

You may also like...

10 Comments

  1. Aku juga merasa gitu Mbak. Masih bisa interaksi dgn keluarga, sodara, dan temen di dunia nyata. Kalo medsos buat nyambung yg jauh hihi

  2. eh… tapi itu karena terjadi proses penumpukan ingatan sih sebenarnya… jadi karena kurang intensif bertemu maka ingatan tentang dia terkubur dengan ingatan yang sering dilihat yaitu teman2 yang sering menyapa di medsos

  3. Iya, mbak. Nggak menjauhkan yang dekat, tapi tetap mendekatkan yang jauh, ya. ^^

  4. Waaah, baru tau ada yang namanya penumpukan ingatan. Tapi kayaknya memang kenal di medsos, soalnya dulu nggak tau nama asliku *jaman nama aneh-aneh*. 🙂

  5. Iya ya. Asalkan jangan sampai kecanduan. Hihi. ^^

  6. sebenarnya tergantung pribadinya jg kan ya mba…gak mesti juga menjauhkan yg dekat hehe…tergantung porsi dan kadarnya saja sih main di medsos kayak apaan…

  7. yah meskipun medsos kadang bisa jadi penyelamat paling oke situasi awkward

  8. kalau lagi kumpul sama keluarga, lebih baik matiin smartphone deh biar nggak keganggu 🙂

  9. Kalo saya yang penting interaksi di medsos dan di kehidupan nyata harus sama besarnya supaya tidak ada istilah 'dunia maya', karena fungsi medsos kan harusnya menghubungkan orang-orang dalam kehipuan kita baik jauh maupun dekat..

  10. Hai. Ijin blogwalking ya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *