Travel blogger adalah lifestyle blogger. Lifestyle blogger belum tentu travel blogger. Sebagian lifestyle blogger adalah travel blogger.

Kok jadi seperti Matematika?

Iya, aku lagi ngegaring.

I’m a lifestyle blogger. Itu pun supaya lebih keren saja daripada menyebut diri sebagai blogger gado-gado. Kalau ada blogger gado-gado, seharusnya ada blogger pecel, blogger karedok, dan semacamnya.

Walaupun lifestyle blogger, aku bukan travel blogger. Boro-boro jadi travel blogger. Habis jalan-jalan, maunya bobok cantik di rumah. Yaaah, sekarang sih mau agak insaf, biar kayak lifestyle blogger lain yang menulis tentang jalan-jalan.

Niatnya begitu, entah kenyataannya nanti. *ups*

Makanya, aku merasa ada yang janggal sewaktu mendapat e-mail dari salah satu resorts. Kok, ya, e-mail untuk travel blogger masuk ke akunku?

Diingat-ingat, memang aku pernah mendaftarkan diri untuk ikut mencicipi resorts mewah sekaligus glamour camping di Bandung (cerita pengalaman menginapnya setelah blogpost ini). Waktu itu, ada yang memberitahukan pengumuman itu via chat grup. Aku, sih, iseng saja ikut mendaftar. Kakak-kakak travel blogger atau yang blognya sering membahas traveling juga ikut mendaftar.

Rasanya seperti mendaftar SNMPTN dengan saingan jawara-jawara sekolah favorit. Terkesan bunuh diri, tapi kalau tidak mendaftar, penasaran. (ini bukan mengungkit masa lalu, kok)

So, waktu mendapat e-mail itu yang terbersit di pikiranku adalah:

1. Itu e-mail spam. Sewaktu mendaftar, aku tidak mengingat nama resorts yang menawarkan opportunity itu. Hehe. Maaf.

2. Salah kirim. Ini mah nyesek banget kalau aku bilang “iya” lalu dibalas dengan permohonan maaf bahwa yang barusan salah kirim. T_T

3.Waktu copas alamat e-mail blogger lain, e-mail-ku terbawa.

Jangankan resorts mewah, resorts biasa saja sepertinya aneh kalau nyangkut di e-mail-ku. Kalau dikedepankan adalah bahas makanan di resorts, aku masih mudah percaya. Biarpun belum banyak, setidaknya masih jauh lebih banyak daripada postingan traveling.

Untungnya, Kak Titis mengirim private chat. Kak Titis juga jarang menulis tentang jalan-jalan. Jadi, kebingungannya 4-5-6 denganku.

Daripada sama-sama bingung, mending sama-sama memberi jawaban “iya”, betul?

Makanya, akhirnya aku menyatakan kesanggupan.

Dan ternyata e-mail itu bukan April Mop. Bukan juga June Mop.

Yaaah, aku sambil berharap memang bukan salah kirim, sih. Bagaimanapun, kalau salah kirim, sepertinya tidak mungkin pengirim meralat kata-katanya.

So, aku pun bertemu para blogger spesialis traveling pada 26-27 Juni 2016. (Ada enaknya juga, ya, bukan pegawai kantoran yang susah cuti itu *ups*)

Kalau aku Jason dari Sorcerer Magazine, aku pasti sudah bilang “Cool, cool, cool!” sampai orang lain bosan. Nggak kenal Jason? Nggak tau Sorcerer Magazine? Ya sudah, lifestyle kita berbeda, Kakak.

Berhubung aku bukan Jason, jadi justru aku yang stay cool. 😛

Mereka sudah melanglang-buana ke banyak tempat. Aku? Keluar provinsi baru sebatas Banten dan . . . . DKI.

Tapi, kalau ke luar negeri, aku cukup sering. Lewat buku. Hehe. Betul, kan? Buku adalah jendela dunia. Setidaknya, terbayang dong, seperti apa tempat yang memang bagus, yang keren, yang luar biasa bagus dan keren dan indah banget, serta seperti apa tempat yang biasa saja.

Jadi, resorts itu termasuk kategori tempat seperti apa? Itu nanti, ya. Di postingan selanjutnya.

Sekarang, aku mau curhat soal pertemuan dengan travel bloggers dulu.

Pada sesi perkenalan, diketahui bahwa sebagian besar memang travel blogger alias mempunyai blog dengan niche traveling. (Makin merasa tersasar, deh). Kalaupun belum mempunyai blog khusus traveling, mereka suka membahas tentang jalan-jalan di blog lifestyle. Travel blogger juga ada yang mempunyai blog dengan niche lain. Ternak blog. Bisa, ya, rajin berkeliling dunia dan masih beternak blog.

Oh, ya, It was surprising ada Instagrammer favoritku. Siapakah dia? Ra-ha-si-a. Biar tidak ada yang melayang bagaikan terbang ke awan. Hoho.

Bayanganku tentang travel blogger adalah mereka petakilan, tidak tahu malu, aktif, dan semacamnya. Soalnya, rasanya tidak mungkin makhluk cicingan suka traveling, walaupun tidak menutup kemungkinan juga. Yah, mungkin petakilan terlalu berlebihan. At leaset, beranian lah, ya.

Ternyata tidak begitu. Ada juga yang kalem. Malah, waktu main games yang dipandu oleh orang-orang yang biasa memandu acara seperti itu (apa, ya, namanya? kayak yang memandu outbond atau team building di acara study tour itu, loh), ada juga travel blogger yang seperti malu-malu kucing. Semoga bukan pecitraan. Hehe.

Lagian, nggak penting juga, sih, Fah, bahas karakter tiap individu.

Ya, yang penting achievement-nya, kan?

Nah, malam harinya, ada acara api unggun. Acara ini salah satu fasilitas yang disediakan pihak resorts by request supaya tamu bisa bercengkerama sambil mengisi perut.

Pada pertemuan travel blogger, semua peserta berbagi pengalaman masing-masing. You know what? Ada yang sudah mendapatkan sesuatu sangat sangat sangat banyak di rekening berkat blogging. *tetap poker face mode*

Para travel bloggers juga kebanyakan sudah melancong ke berbagai belahan dunia, bukan hanya di Indonesia. Bukan hanya sebagai orang biasa, ada juga yang pernah bertemu orang penting dari suatu negara. Hebat, ya.

Walaupun begitu, bagi mereka, dan mungkin para blogger lain, achievement tertinggi adalah ucapan terima kasih dari pembaca yang menyatakan tulisan yang dibuat sangat membantu. Bagaimanapun, “thank you” adalah salah satu magic word, kan?

Anyway, ketika acara api unggun, orang yang waktu itu memberikan pengumuman soal kesempatan mencicipi resort ini akhirnya datang. Adis, penulis-penggagas-pemilik whateverbackpacker.com.

Kak Adis juga bercerita soal pengalamannya, bahkan pengalaman sebelum dia menekuni blogging. Pengalamannya bikin aku kaget? Tidak terlalu. Mungkin karena Kak Adis terlihat apa adanya jadi orang yang melihatnya sudah bisa menebak sebelum yang bersangkutan bercerita detail. Lagian, dari tulisan-tulisannya juga sudah terlihat, kan?

Selain menceritakan pengalamannya, Kak Adis juga mengatakan bahwa yang terpilih untuk acara tersebut adalah yang yang mempunyai pageview di atas 500.000. Lima ratus ribu.

Oke, di bagian ini, aku memang shocked.

Ada tiga kemungkinan:

1. Aku salah memasukkan data. (tapi masa tidak dicek lagi?)

2. Namaku terselip ketika copas.

3. Salah nama.

Wait. Kemungkinannya ada empat.

Kemungkinan nomor 4: takdir. *makan permen H_x_s*

Kemungkinan yang mana pun itu, namanya juga kesempatan. Senang sekali bisa mengenal travel bloggers, bertemu Instagrammer favorit (dan akhirnya tahu kenapa foto-fotonya kece), dan yang tidak kalah penting adalah bisa mencoba marshmallow bakar yang selama ini hanya dilihat di film atau komik.

Tetap, ya. Urusan makanan penting. Lol.

Marshmallow lebih enak kalau dibakar, loh. Apalagi dibakar langsung di api unggun. Pantas, ya, tokoh-tokoh fiksi suka membakar marshmallow.

Oke. Tulisan ini cukup sekian. Ini sebetulnya bukan reportase. Hanya curhat anak ayam setelah berkumpul dengan kaum angsa yang suka bermigrasi.

See you on the next story!

You may also like...

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *