Image source: Desktop Nexus Wallpaper, edited by me.

Pada suatu hari . . .

Aku baru keluar dari sebuah restoran cepat saji dan berniat mampir ke toko buku di sebelahnya. Di antara restoran dan toko buku terdapat undakan. Di sana, seorang wanita paruh baya membuka lapak, menjajakkan kudapan tradisional.
Biasanya, aku kurang tertarik dengan jajanan seperti itu. Bukannya sok modern, hanya saja jajanan semacam itu umumnya lebih cepat mengenyangkan daripada jajanan-jajanan zaman sekarang.

Ada satu hal yang membuatku tertarik: senyum ibu itu.
Di antara orang yang berlalu lalang, beliau menawarkan jajanannya dengan wajah ceria. Suatu hal yang menarik menurutku, mengingat lebih banyak orang yang mengabaikan daripada sekadar meliriknya. Tidak seperti penjual lainnya yang menawarkan dagangannya dengan suara keras, tetapi senyuman yang terkadang dirasa palsu. Ibu itu menawarkan dengan suara yang kurasa sudah maksimal untuk seusianya, tetapi dengan senyuman yang kurasakan tulus.
Sayangnya, aku hanyalah satu bagian dari orang-orang yang mengabaikannya.
Aku melewatinya begitu saja dan masuk ke toko buku. Aku melihat-lihat beberapa novel dan mengecek apakah seri terbaru komik yang kuikuti sudah terbit. Aku juga membaca sekilas beberapa buku yang segelnya telah lepas. Namun, senyuman itu membayang.
Aku pun keluar dari toko buku dan menghampiri ibu itu. Aku membeli beberapa kue bugis dan papais pisang. Satu hal cacatku saat itu adalah aku tetap berdiri seolah menunjukkan dominasi padahal ibu itu duduk di undakan pertokoan. Terkadang, aku menyesali otakku tidak bisa memproses banyak perintah sekaligus dan selalu terburu-buru.
Saat itu, aku sempat berpikir bagaimana seandainya kue-kue itu tidak sesuai dengan harapanku?
Untungnya, papais pisang yang kubeli pas dengan seleraku. Kue bugisnya bagaimana? Aku tidak mencobanya, tetapi tidak ada komplain dari ibuku, jadi kurasa baik-baik saja.

You may also like...

13 Comments

  1. Intan Novriza Kamala Sari

    Banyakin senyum ah sama Afifah 😀

  2. senyum yang tulsu kadang tampak di wajah seseoarng ya

  3. Alhamdulillah ada rizqi untuk ibu itu.

    Makasih banyak ya, Mba Afifah.
    Kisahnya menyentuh

  4. semoga si ibupenjual kue dimurahkan rejekinya ya mbak, amiinn

  5. kalau ramah itu seneng ya ^^
    jualannya kayak seneng yang beli juga seneng ^^

  6. Kalii kamu kalah banyak senyumnya fah sama Ibu itu hahaha
    Mulai sekarang harus rajin2 senyum yah faaah, biar laris kaya ibu itu *ehhh

  7. Iya dong. Kan kita teman. :))

  8. Aku emang jualan apa, kak? -.-

  9. berarti senyum membawa berkah buat penjual itu mba 🙂
    tapi emang kalau belanja & pelayan atau yang punya toko nya ketus udah males banget deh mendingan buru2 keluar & pilih toko lain walau harga mahalan dikit

  10. Banyak senyum memang akan membawa bnyak rezeki 😉

  11. Harus banyakin senyum biar banyak yang beli 😀

  12. senyuman bisa merubah segalanya, termasuk hati pembeli yang awalnya enggan untuk membeli #MenyentuhHati

  13. senyum dan ketulusan memang mampu menggerakkan hati. Kata anakku senyum Fifah manis… sering2 senyum yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *