Indonesia punya banyak pesona alam. Gunung, desa, pantai, bahkan di dalam laut pun tersimpan banyak pesona. Beberapa tahun belakangan, daftar tempat indah yang semakin terkenal pun bertambah panjang. Salah satunya Karimunjawa.

Kepulauan kecil di Laut Jawa ini menjadi daya tarik banyak wisatawan. Lautnya indah. Pantainya cantik. Siapa, sih, yang nggak mau berkunjung sana? Aku pun mau berkunjung ke sana.

Saking terkenalnya Karimunjawa, namanya sudah sangat melekat diingatan. Kalau mendengar “Karimun”, hampir pasti terpikiran Karimunjawa. Dulu-dulu, kalau mendengar “Karimun”, mungkin yang terbayang adalah mobil.

Belum lama ini, aku baru tahu bahwa “Karimun” bukan hanya berkaitan dengan Karimunjawa dan merek mobil. Ada juga yang namanya Pulau Karimun Kecil.

Awal mengetahui nama tersebut, aku pikir letaknya di dekat Karimunjawa, hanya saja ukurannya lebih kecil. Tapi, ternyata, Karimunjawa dan Karimun Kecil terletak sangaaaaat berjauhan. Karimun Kecil bahkan bukan bagian dari Jawa. Pulau Karimun Kecil terletak di Kepulauan Riau.

Karimun Kecil adalah pulau kecil yang menjadi bagian Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.  Pulau Karimun Kecil adalah salah satu pulau terluar Indonesia. Pulau ini sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia.

Nggak jauh dari Pulau Karimun Kecil, ada Pulau Karimun Besar. Walau namanya “Besar”, menurutku nggak begitu besar, ya. Bukan karena aku pernah ke sana, sih, tapi hasil mengira-ngira di Maps. Hehe.

Tapi, dibanding Karimun Besar, Karimun Kecil jauuuuuh lebih kecil. Lihat saja perbandingannya. Google Maps bahkan cuma memberi tanda merah, nggak menuliskan nama pulau kecil itu.

Kecil, Apakah Sederhana?

Menurut data tahun 2014 yang aku baca di Academia.edu, jumlah penduduk Karimun Kecil hanya 42 jiwa. Jumlah itu bahkan lebih kecil daripada jumlah anggota keluarga besar nenekku.

Mayoritas mata pencaharian penduduk Karimun Kecil adalah sebagai nelayan atau menggarap lahan. Bangunan-bangunan rumahnya sebagian besar berupa bangunan nonpermanen dari kayu. Setidaknya, itu yang aku tangkap dari data di Academia.edu.

Aku penasaran, dengan jumlah penduduk yang nggak begitu banyak, apakah membuat semua penduduknya saling kenal? Apa lagi, nuansa pulau kecil mungkin beda dengan nuansa kota. Nuansa kota, sih, dengan tetangga saja belum tentu ingat nama. Kalau ada apa-apa di kota, serba dekat dengan kantor pemerintahan, kantor polisi, rumah sakit, sekolah, dll. Saking mudah akses ke mana-mana, kadang-kadang sampai lupa dengan orang-orang yang tinggal di sekitar, ‘kan?

Kalau di pulau kecil, akses serba terbatas, apakah gotong royong makin kuat?

Kadang-kadang, aku ingin tahu dengan kehidupan mereka. Terus, kebayang kalau bisa ke sana, membuat acara yang bisa dihadiri puluhan penduduknya. Bukan acara aneh-aneh, sih, sekadar chit-chat juga cukup.

Tapi, tentu hanya ngobrol ngalor-ngidul nirfaedah banget. Jauh-jauh ke pulau kecil, tentu sebaiknya ada yang bisa ditawarkan untuk mereka. Pendidikan baru, keterampilan baru, oleh-oleh makanan, dan lainnya.

Kalau harus menginap, kira-kira bangun tenda nggak, ya? Wujud Pulau Karimun Kecil cukup unik. Berbukit-bukit. Jadi, suasana pantai dapat, pemandangan hijau pun dapat.

Aku, sih, nggak berharap Karimun Kecil menjadi objek wisata. Biar saja warga di sana tetap dengan kesederhaaan seperti itu. Tapi, tentu bukan sekadar kehidupan yang statis. Peningkatan di bidang pendidikan tentu nggak ada salahnya. Apa lagi, selama ini, masih banyak warga Karimun Kecil yang nggak lulus SD.

Dilema, sih, ya. Mau bikin sekolah di pulau kecil, muridnya siapa? Tapi, kalau nggak ada sekolah, kasihan juga mereka jauh kalau mau sekolah.

Walau kehidupan petani dan nelayan sudah bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, tapi bukankah lebih baik bertani dan mencari ikan dengan ilmu-ilmu baru? Terutama yang lebih sustainable.

Wah, wah. Sampai di sini aku mulai sok tahu, padahal belum tahu keadaan sesungguhnya di sana. Memang sebelum menentukan “mau melakukan apa” di suatu tempat, perlu tahu dulu kehidupan di sana walau sekilas. Mirip penanganan terhadap pasien, ‘kan? Sebelum tahu “perlu tindakan apa”, perlu analisis dulu.

Jadi, kalau berkunjung ke pulau gitu, kalau hanya bisa sekali, yang pasti sih membawa kebahagiaan sajalah. Berbagi kebahagiaan. Kalau bisa beberapa kali, baru deh dipikirkan lagi yang bisa berguna jangka panjang. Iya, ‘kan?

 

 

 

You may also like...

4 Comments

  1. Tadi aku komentar lho disini, tapi kayaknya nggak masuk huhu

    1. Maaf, yaa. Entah kenapa error. Tapi, makasih. =)

  2. penasaran, sudah banyak review tapi belum aku coba.. hem harus cari temen bareng kesana

  3. Kalau di otakku Karimun ya Karimun Jawa langsung, teracuni Mbak Susi yang tiap hari di Wag cerita Karimun Jawa 🤣🤣

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *