Reportage

Aktivitas Fisik Keluarga Mencegah Penyakit Tidak Menular

Siapa di sini yang rutin berolahraga?

Pertanyaan “jleb” itu membuka sesi bincang-bincang bersama Kemenkes.

Kurang dari setengah hadirin yang mengacungkan tangan. Ketika pertanyaan diganti sebaliknya: siapa yang jarang berolahraga, barulah banyak yang mengacungkan tangan. Termasuk aku.

Yap, aku sudah jarang banget berolahraga. Jangankan berolahraga, sedikit-sedikit semua bisa via ponsel. Makin mager, deh.

Lalu, datanglah undangan dari acara Kemenkes 13 Juni 2017 lalu. Lebih tepatnya, dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

Penyakit yang menjadi highlight kali ini adalah penyakit tidak menular (PTM).

Apa itu PTM?

Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu mengenai PTM, tapi mari me-refresh. PTM aliasn penyakit tidak menular adalah penyakit-penyakit yang tidak disebabkan oleh infeksi. Seringnya, penyakit ini disebabkan oleh gangguan metabolisme. Contoh PTM antara lain, jantung koroner, gagal ginjal kronis, diabetes melitus, dan kanker.

Menurut dr. Lily Sulistyowati, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Indonesia dihadapkan pada kasus naiknya PTM, sekaligus masih dihadapkan pada penyakit menular.

Indonesia juga masih dihadapkan pada dua masalah gizi ganda: sebagian kurang gizi, sebagian lagi kelebihan gizi. 11,9% balita mengalami kegemukan. Hal ni menjadi faktor penghambat perkembangan kognitif dan motorik, serta meningkatkan resiko PTM ketika dewasa. Selain balita, 28,9% usia di atas 18 tahun juga mengalami kegemukan. Lagi-lagi, ini meningkatkan resiko PTM.

Resiko meningkat, tapi masyakarat masih banyak yang belum menyadari pentingnya deteksi dini. 2/3 peenduduk tidak tahu dirinya terkena PTM. Umumnya, masyarakat baru datang ke petugas kesehatan kalau masalah sudah berat. Kalau baru hipertensi ringan, masih diabaikan. Tapi, justru itu yang mengawali penyakit lain seperti stroke dan jantung koroner.

Peran Keluarga Mencegah PTM

Keluarga adalah tempat pertama pembelajaran dan penanaman gaya hidup sehat. Keluarga sangat berperan untuk mencegah penyakit tidak menular karena umumnya PTM disebabkan gaya hidup yang tidak sehat. Parenting menjadi salah satu faktor penentu mencegah atau menaikkan PTM.

Ada beberapa kegagalan dalam parenting:

1. Tidak memberikan kesempatan anak bereksplorasi rasa.

Orang tua cenderung memberikan makanan instan kepada anak. Anak menjadi kurang mengenal cita rasa sayur dan buah sejak dini.

2. Memaksa anak makan dan tidak mengenal istilah kenyang anak

Orang tua sering mengeluhkan anaknya tidak mau makan. Tapi, setelah dilihat, anaknya justru obesitas. Orang tua sering tidak menyadari pertambahan berat anak dan masih beranggapan gemuk = sehat.

3. Orang tua tidak bisa menjadi role model

Anak-anak belum bisa menyaring perilaku orang tua. Hal yang dilakukan orang tua, akan diikuti anak. Orang tua makan sambil menonton tv, anak akan mengikuti. Orang tua jarang berolahraga, begitu pun anak.

Karena itu, penting bagi orang tua untuk mempunyai pengetahuan gizi dan kesehatan. Sabar juga menjadi kuncinya. Dan, tentunya, peran orang tua untuk mau menjadi role model yang baik.

Aktivitas Fisik Cegah PTM

Sudah tahu mengena PTM, tapi selalu ada alasan untuk tidak mencegahnya. Salaah satu alasan yang mungkin sering adalah mengenai aktivitas fisik.

Aktivitas fisik? Mana sempat.

Hidup di zaman sekarang memang banyak tuntutan. Anak-anak saja sudah dituntut dari segi pendidikan. Jam sekolah yang lama. Belum lagi harus les. Belum lagi, belajar di rumah. Waktu bermain berkurang. Kalaupun bermain, permainannya kurang melibatkan aktivitas fisik, seperti mobile games.

Kemudahan zaman juga menyebabkan aktivitas fisik berkurang. Sekarang, apa-apa tinggal melalui ponsel. Makan, tinggal pesan. Belanja bulanan, tinggal pesan. Sesekali boleh, tapi sesekali juga fisik perlu jalan-jalan.

Menurut dr. Micheal Triangto, Sp.KO, untuk meningkatkan kesehatan, aktivitas fisik yang dibutuhkan tidak perlu berat. Malah, jangan berat-berat. Kalau terlalu berat, justru beresiko cedera. Yang berat untuk atlit yang sudah sering berlatih saja. Jalan kaki setiap pagi cukuplah bagi kita.

Aktivitas fisik yang benar sesuai dengan prinsip BBTT:

1. Baik

Disesuaikaan kondisi fisik dan kemampuan supayaa terhindar dari cedera. Gunakan pakaian yang aman dan nyaman.

2. Benar

Dilakukan secara bertahap. Dimulai dari pemanasa (termasuk peregangan), latihan int (latihan pada ntensitas yang dituju), hingga pendinginan (termasuk peregangan).

3. Terukur

Mencuci dan mengepel mengeluarkan keringat? Tapi, bukan itu aktvitas fisik yang dimaksud. Aktivitas fisik yang dilakukan dengan mengukur intensitas dan waktu latihan. Misalnya, sambil mengetik di komputer, sambil melakukan olahraga kaki selama 2 jam.

4. Teratur

Latihan 3-5 hari seminggu cukup. Berikan selang waktu istirahat dari hari berolahraga ke hari berikutnya.

Merasa tidak sempat melakukan aktivitas fisik?

Nggak melulu harus ada waktu khusus berolahraga. Jalan cepat atau naik sepeda ke tempat kerja juga bisa menjadi aktivitas fisik. Jarak tempuh dari rumah jauh? Dari halte juga bisa. Jalannya dipercepat, bukan jalan yang santai biasa.

Sambil duduk pun bisa saja melakukan aktvitas fisik. Gerakan-gerakan ringan pada kaki dan tangan bisa membuat banyak hal berubah.

Bahkan, sambil mengasuh anak juga sambil latihan beban. Anak yang dijadikan sebagai objek. Walaupun, hal ini mungkin hanya bisa kalau anak masih anteng.

Aktivitas fisik anak bagaimaana? Untuk anak yang sudah bersekolah dan sibuk, kurang lebih sama dengan orang dewasa. Kalau anak masih sering bermain, ajak bermain yang bisa meningkatkan aktivitas fisik. Bisa juga dengan mengikutsertakan anak pada kegiatan pekerjaan rumah. Yang penting anak menjadi lebih aktif.

Aktivitas fisik nggak harus melulu di gym atau tempat-tempat training. Di mana pun bisa. Kapan pun. Semua asal ada kemauan. Mau ‘kan terhindar dari PTM?

 

 

2 Comments

  1. Ah sayang aku gak dateng ke acara ini padahal bagus banget ya materinya.

  2. tidak menular sih, tapi penyakit nya berbahaya.. jauh jauh deh.. btw K nya itu kelola stress ^^’ ini termasuk penyakit kaum milennial kan yah hehehee

Leave a Reply

Required fields are marked*