Photo by Scott Webb from Pexels

 

Untuk apa ngeblog?

Aku pernah membahas hal tersebut duluu banget. Aku membahas latar belakang aku membuat blog dan hal-hal lain di artikel tahun 2015.

Wah, sudah lama banget, ya.

Konsistensi blogging-ku juga sempat timbul-tenggalam beberapa waktu terakhir. Di sisi lain, aku nggak bisa betul-betul meninggalkan blog. Blog sudah menjadi bagian dari diri selama sekitar 10 tahun. Mulai dari remaja unyu yang niat blogging-nya murni sampai menjadi manusia yang kenal uang. Lalu, sekarang, aku semakin yakin blogging itu luas.

YouTube dan media sosial lain semakin melebarkan sayap. Aku pun sempat berpikir apakah blog akan bertahan?

Sekarang, pikiran itu sudah hilang. Ada hal-hal tertentu yang hanya bisa dilakukan media tulisan.

Aku mau memberikan sedikit opini mengenai manfaat blogging, ya. Opini kali ini terlepas dari soal bisnis dan uang. Hal ini juga supaya aku ingat mengenai kemurnian blogging. *Tiba-tiba keingat susu kaleng*

Jadi, berikut manfaat blogging versiku.

Bagi Diri Sendiri

Tempat Menuangkan Buah Pikiran

Pada dasarnya, manusia perlu menuangkan buah pikiran. Blogging bisa menjadi salah satu cara. Bahkan, walau akun di-set privat supaya tidak ada orang lain yang baca, kata-kata yang sudah tertuang bisa membuat perasaan lebih lega.

Bagi sebagian orang, mungkin bercuap-cuap lebih melegakan. Nggak apa. Mungkin ada yang prefer membuat video.

Namun, bagi sebagian orang lain, menyusun kata-kata menjadi tulisan lebih memberikan ketenangan. Menuliskan kata-kata membutuhkan waktu lebih panjang daripada mengucapkannya.

Karena itu, ada kesempatan bagi diri untuk memproses setiap hal yang akan dilontarkan.

Menulis bisa melalui manual dengan pensil ataupun digital. Aku pribadi lebih menyukai digital, makanya memilih blog.

Media sosial juga bisa dijadikan saran menulis digital. Aku juga suka menulis di media sosial. Namun, menulis di blog mempunyai kepuasan tersendiri. Tampilannya mudah disesuaikan keinginan pribadi.

Memadukan gambar dan tulisan sangat mudah dilakukan di blog. Melihat tulisan yang rapi, dengan gambar yang pas setiap beberapa paragraf, rasanya betul-betul puas. Seolah semua buah pikiran sudah tersalurkan.

Ah, aku jadi kangen menulis artikel yang rapi.

Mengasah Kemampuan Bahasa

Kehidupan ini nggak akan lepas dari kebutuhan terhadap kemampuan bahas. Ilmuwan, yang berkerja di lab pun, suatu saat akan membutuhkan kemampuan bahasa. Publikasi hasil penelitian tentu nggak lepas dari dunia literasi.

Mengasah Kepekaan Terhadap Zaman

Kalau mau menjadikan blog sebagai lahan yang dibaca banyak orang, kita perlu menggunakan bahasa sesuai zaman.

Nggak harus “haeeee gaes”, kok. Maksudku, kalau gaya bahasa yang digunakan seperti buku-buku zaman dulu, mungkin akan membuat pusing pembaca, ‘kan?

Di sinilah tantangan mengasah kepekaan bahasa sesuai zaman. Dari memerhatikan bahasa populer, secara nggak langsung kita pun akan semakin mengenal perkembangan dunia.

Memang nggak harus selalu mengikuti perkembangan zaman, tapi setidaknya tahu apa yang sedang terjadi di bumi.

Tapi, yaaaah, ini pilihan masing-masing, sih. Kalau nyaman dengan gaya bahasa zaman dulu, nggak apa. Sebelum membahagiakan pembaca, penulis harus lebih dulu bahagia, ‘kan? Dengan begitu, tulisan yang tertuang pun kemungkinan bisa lebih bermanfaat.

Bagi Orang Lain

Berbagi Pengetahuan

Apa lagi, sih, yang paling diinginkan ketika memublikasikan sesuatu selain berbagi pengetahuan, ‘kan? Terutama bagi para ahli di bidang masing-masing, nih.

Blogmu mungkin belum TLD, tapi percayalah ada saja pembaca yang senang ketika menemukan bahasan yang dicari.

Ketika menyusun karya ilmiah, mungkin guru akan bilang pernah bilang “jangan dari blog”. Lalu murid pun menghindari link yang masih ada embel-embel “blogspot.com”, “wordpress com”, atau semacamnya. Alasan guru melarang biasanya karena “blog kurang bisa dipercaya”.

Setelah terjun ke dunia blogging, aku justru tahu blog sering kali lebih bisa dipercaya daripada web-web yang cuma ingin nampang di page one Google.

Di sisi lain, blog-blog yang tampak kecil mungkin lebih valid karena penulis sesuai bidang keilmuwannya.

Aku pribadi suka membuka blog-blog gratisan ketika mencari sesuatu. Barangkali saja penulis blog itu adalah ahli di bidangnya, ‘kan? Kalau nggak dibuka, nggak akan ketahuan.

Kalau setelah dibuka ternyata nggak valid, setidaknya nggak penasaran. Kalau ternyata valid kan, beruntung banget, apalagi kalau bahasannya rinci.

Jadi, ayolah kita makin rajin blogging. Bangun kepercayaan supaya nggak kalah dengan web yang cuma ingin tenar. Kalau ada rezeki, boleh banget kulit luar blog dibuat makin kece kayak web-web besar.

Membangun Awareness

Akhir-akhir ini, aku kayaknya makin sering menulis tentang environment di blog. Melihat dunia sekarang rasanya bikin merinding banget, sih.

Aku mungkin belum sepersuasif blogger lain. Aku juga belum punya kemampuan influencing yang luar biasa. Tapi, nggak ada salahnya mencoba menuliskannya, ‘kan?

Aku mungkin lebih sering menggunakan media sosial untuk membahas soal lingkungan. Tapi, blog adalah penguatnya. Tulisan di blog bisa lebih panjang, lebih detil.

Awareness semacam next level dari pengetahuan. Kalau sudah tahu dan dirasa perlu dibagikan, media digital sangat membantu.

Membangun Semangat

Aku nggak pernah menyangka salah satu tulisan yang dibuat untuk memenuhi suatu kewajiban menjadi salah satu artikel yang paling sering dibaca.

Mungkin karena yang aku tulis betul-betul dari hati? Tapi, yang pasti, artikel itu masuk most viewed karena banyak mencari.

Banyak yang mencari biasanya karena butuh, ‘kan?

Artikel mana, sih? Artikel terbang.

Aku harap artikel itu bisa bermanfaat bagi hati pembaca.

Tulisan blog nggak harus selalu berisi sesuatu yang mengasah otak untuk menjadi bermanfaat. Tulisan yang bisa menjadi makanan hati dan jiwa pun bisa sangat bermanfaat.

Semoga saja tulisan tersebut betul-betul bermanfaat dalam kebaikan.

Manfaat lain blogging mungkin masih banyak. Yang pasti, blog adalah salah satu penghubung manusia untuk melihat banyak hal.

 

You may also like...

2 Comments

  1. Bener, Sepakat Mbak.
    Kita kalau sudah terbiasa menulis sepertinya susah meninggalkannya.
    Blogging itu mempunyai daya tarik tersendiri di tengah maraknya media lain.
    Blogging selalu punya penggemar sendiri yang tidak akan meninggalkannya. Karena saat menulis itu rasanya beda dnegan berbicara di depan kamera atau sekedar pose foto. Bahkan informasi yang di dapat seseorang dalam bentuk tulisan dan suara juga gambar tetap rasanya beda. So, happy blogging. You already awesome, Mbak!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *