Menjadi penulis buku adalah impian banyak orang. Di era digital ini, masih banyak orang yang ingin mempunyai buku hasil karyanya. Bahkan, mereka yang sudah tenar di dunia maya pun sering kali tiba-tiba mengeluarkan buku.

Buku memang memberikan sensasi tersendiri bagi pembaca maupun penulis. Jangkauan pembaca buku juga dapat lebih luas daripada pembaca dunia maya. Mereka, yang tinggal di daerah dengan keterbatasan internet, masih bisa menikmati ilmu melalui buku. Setiap buku yang berharga pun bisa diwariskan terus-menerus tanpa takut tenggelam di dunia maya yang selalu dibanjiri informasi setiap detik.

Duuuh, ngomong apa, sih, Fah?

Pokoknya, masih banyak orang yang pengin punya buku hasil karya pribadi. Masih banyak juga yang mau baca buku. Titik.

Aku juga ingin mempunyai buku karyaku. Dulu, maunya sih bikin buku fiksi. Sempat mengirimkan naskah untuk ikut lomba walau sadar banget acak-acakan luar biasa. Haha.

Untungnya, kalah dan nggak pernah diterbitkan.

Kok untung?

Karena sekarang, kalau dipikir-pikir, naskahku itu agak kurang baik untuk kehidupan akhiratku nanti. Pernah menulis dan terbit 1 buku antologi keroyakan saja, aku takut banget ceritaku menjadi dosa. Mau tau aku menulis tentang apa? Rahasia. Haha. Yang pasti, menurut kepercayaan yang aku anut, menulis kan sebaiknya cuma memikirkan soal dunia, tapi juga sebagai amal akhirat.

Kok malah jadi ceramah, sih, Fah?

Maaf, kan aku jadi flashback. Lol.

Sekarang, aku masih ingin menerbitkan buku, tapi buku nonfiksi. Berharap bisa menjadi kebaikan abadi dan menghapus kesalahan apa pun yang pernah aku “cetak” di dunia nyata ataupun maya. Makanya, aku semangat datang ke acara hasil kolaborasi Komunitas ISB dan CNI.

Tulisan tentang acara ini aku bagi 3, ya. Ada tentang SEO dan kesehatan. Semua sudah di-publish. Nah, langsung saja ke acara inti dengan narasumber Mbak Nunik Utami, yang sudah menerbitkan banyak buku.

Mau Menulis? Baca Dulu!

Manalah ada penulis yang nggak suka baca. Kalaupun ada, kemungkinan itu aji mumpung (kalimat ini kataku, bukan kata Mbak Nunik). Semacam mumpung tenar, maka cepat-cepat bikin buku.

Membaca akan membuat otak senantiasa berpikir. Menambah kemampuan imajinasi. Mencetuskan ide. Membayangkan apa yang sebaiknya ditulis. Memahami struktur kebahasaan. Dan, banyak lagi manfaatnya.

Aku jadi ingat sewaktu membaca naskah seseorang. Mentah banget. Ejaan berpencar entah ke mana. Tanda baca melompat-lompat. Waktu aku tanya, kenapa kok gitu banget? Orang tersebut mengaku sudah jarang membaca. Dia lebih sering menonton.

Cat GIF by sheepfilms - Find & Share on GIPHY

Memang, sih, menonton pun bisa mendatangkan ide. Walaupun begitu, tetap saja beda hasilnya seandainya lebih rajin membaca. Ketika kita membaca, secara nggak sadar kita memproses setiap struktur bacaan tersebut. Hal ini menjadikan ide yang kita tuangkan menjadi lebih sistematis.

Tulis Saja!

Tadi aku memang menyebut soal sistematis, tapi kedatangan ide kadang-kadang memang nggak sistematis.

Banyak orang bingung bagaimana memulai menulis. Cara memulai menulis, ya, menulis saja. Tuangkan saja dulu segala ideΒ supaya nggak lupa.

Kalau ide sudah tertuang, barulah pikirkan soal sistematika. Baca ulang. Self-editing. Dari situ, akan ketahuan juga seandainya ada ide yang seharusnya di-cut, ide yang sebaiknya diluruskan, ataupun yang harus lebih perjelas

Ikut Lomba

Sering kali kita bingung mau menulis. Nggak ada ide. Nggak percaya diri. Atau apalah hal-hal yang membuat kita terbelunggu.

Mbak Nunik juga pernah mengalami masa-masa itu. Beliau mengatasinya dengan mengikuti lomba. Kompetisi dapat memicu semangat menulis.

Nggak perlu mengerdilkan diri sendiri. Jangan sampai belum apa-apa, sudah takut kalah. Kalau rajin ikut lomba, walaupun belum menang, nama kita akan lebih mudah diingat penyelenggara. Dari situ, karakter tulisan kita pun akan terkenang. Hal itu bisa menjadi suatu peluang baru. Siapa tahu, dari ikut lomba, ada pihak yang menghubungi untuk berkolaborasi membuat buku tertentu.

Oh, ya, dari hasil ikut lomba, Mbak Nunik pernah berhasil menerbitkan 6 buku dalam sebulan, loh!

Oh My God Reaction GIF - Find & Share on GIPHY

Ikut Workshop

Membaca mendatangkan kemampuan baru. Tapi, duet membaca dan belajar dari pakar? Wah, bisa jadi senjata banget.

Dalam acara workshop, kita bisa belajar dari ahli. Workshop juga sering kali memberikan tugas-tugas sesuai materi. Hal ini tentu membuat kemampuan kita akan lebih terasah.

Kirim ke Penerbit yang Sesuai

Naskah sudah jadi. Apa langkah selanjutnya? Tentu saja mengirim ke penerbit kalau memang ingin diterbitkan. Kalau nggak? Nggak apa, sih. Mau disimpan di bagian laci terdalam pun, siapa yang melarang?

Kalau mau menerbitkan di penerbit mayor, cari informasi cara mengirimkannya di web atau media sosial penerbit itu. Setiap penerbit mempunyai kriteria berbeda. Jumlah halaman, kategori buku, naskah harus dikirim versi cetak atau bisa melalui e-mail saja, dan hal-hal lain semacam itu perlu banget dilihat. Kalau hal seperti itu sampai salah, kan malesin banget. Dosen pembimbing saja kadang-kadang nggak mau menerima tulisan yang nggak sesuai kriterianya, ‘kan? Apa lagi penerbit yang dalam sehari bisa dikirimi ratusan naskah.

Cat Resting GIF - Find & Share on GIPHY

Memang ada juga kasus istimewa. Misalnya, mengirimkan naskah ke penerbit yangΒ  nggak biasa menerbitkan buku parenting, lalu malah diterima dan diterbitkan. Hal ini mungkin terjadi, seperi salah seorang teman Mbak Nunik.

Penerbit melihat naskah tersebut sesuai kebutuhan pasar saat ini dan langsung mempertimbangkan naskah tersebut. Tapi, tentunya harus naskah yang luar biasa bagus sampai membuat penerbit yakin untuk keluar jalur.

Kalau naskah yang nggak greget sama sekali tapi nekat mengirimkan ke penerbit yang nggak sesuai? Bisa-bisa malah di-blacklist. Yang ini bukan cerita Mbak Nunik, tapi kata seseorang dari suatu acara lain yang pernah aku ikuti.

Etika Menunggu

Kalau sudah mengirimkan naskah, saatnya menunggu. Ini bisa sampai berbulan-bulan. Waktu tunggu minimal banget itu 3 bulan. Kalau penerbit besar, ada yang setahun baru memberi kabar.

Selagi menunggu, jangan coba-coba mengirimkan naskah yang sama ke penerbit lain. Kalau ternyata kedua penerbit itu ingin menerbitkan naskah tersebut, urusan akan jadi ribet. Penerbit bisa merasa direndahkan. Nggak etis banget. Akhirnya? Just another blacklist.

Tired Good Night GIF - Find & Share on GIPHY

Kalau memang sudah beberapa bulan nggak ada kabar, coba tanyakan. Kalau ingin nggak ada kabar sama sekali dan ingin mengirimkan naskah ke penerbit lain, lebih kirimkan e-mail penarikan naskah ke penerbit sebelumnya. Bilang bahwa kamu ingin menarik naskahmu. Kalau takut nggak dibalas juga, bilang saja bahwa kalau nggak ada balasan dalam kurun waktu sekian, berarti penarikan naskah disetujui. Dengan bahasa yang sopan, ya.

Nah, selagi menunggu kabar naskah, sebaiknya sih kita tetap produktif menulis, ‘kan? Jaga ritme menulis supaya tetap semangat!

Kim Kardashian Twitter GIF - Find & Share on GIPHY

Terbitkan Sendiri

Kalau kamu nggak sabar menunggu kabar bukumu terbit dari penerbit mayor, terbitkan saja sendiri. Bukan mencetak buku sendiri lalu mengasong-asongkannya ke toko buku, ya. Menerbitkan sendiri ini maksudnya melalui penerbit juga. Penerbit indie atau self-publishing.

Tahu ‘kan bedanya penerbit mayor dan penerbit indie? Kalau belum tau, googling saja, ya. Masa semua aku tulis di sini. Hehe.

Mungkin penerbit mayor tampak lebih prestisius karena ada proses seleksi panjang, sedangkan penerbit indie menerbitkan semua naskah. Belum lagi, karena biasanya penulislah yang membayar biaya penerbitan di penerbit indie, ada saja kesan “memaksa menerbitkan buku”. Padahal, nggak sama sekali, loh.

Bisa saja karena malas berurusan dengan proses panjang, menerbitkan secara indie justru menjadi pilihan. Pun, karena prosesnya relatif cepat, ilmu yang mau disebarkan pun lebih mudah tersampaikan.

Oh, ya, kalau naskah sudah dikirimkan ke penerbit mayor tapi kemudian ingin diterbitkan di penerbit indie, jangan lupa mengirimkan surat penarikan naskah.

Belajar EBI

Sudah, ya, nggak perlu memusingkan soal penerbitan naskah. Kalau buku bagus dan bermanfaat, pasti ada yang baca kok.

Buku bagus itu dinilainya bukan cuma dari isi konten, tapi juga dari kebahahasaan. Makanya, belajar EBI itu penting. EBI adalah Ejaaan Bahasa Indonesia. Jangan mengandalkan editor untuk hal ini. Kalau EBI berantakan, jangankan dibaca sampai selesai, dibaca satu bab saja sudah bagus. Selanjutnya, berakhir di tempat sampah.

Kalau menggunakan istilah asing atau penjelasan sesuatu yang asing, jangan juga berharap editor akan memperbaiki kalau salah penggunaan. Editor bukan manusia-tahu-segala. Editor juga akan percaya kepada penulis karena diyakini penulis ahli di bidang tersebut. Kan nggak mungkin satu persatu hal asing dalam naskah dicek semua.

Aku kok jadi kayak nakut-nakutin, ya? Maksudku supaya nggak menyepelekan proses penulisan buku, supaya lebih mudah lolos penerbit, dan supaya nggak menjadi bahan hujatan kalau buku sudah terbit.

Untuk menggapai sesuatu, selalu ada proses panjang, ‘kan? Begitu juga menulis buku. Proses panjang itu seharusnya menempa kita untuk menjadi lebih baik dan menghasilkan karya yang lebih berkualitas.

Jadi, selamat menulis!

Cat Reaction GIF - Find & Share on GIPHY

 

Semua gif pada artikel ini dari Giphy.com

You may also like...

46 Comments

  1. EBI furai ini loh yang ditakutkan hehehe, tapi klau jadi penulis bisa juga ya mba meminta salah seorang guru bahasa indonesia untuk mengecek karya kita, bisa ga ya hehehe

  2. Ilmu menulis saya masih jauh dari standar menulis buku hehe masih harus banyaj mengasah lagi, makasih mba tipsny

  3. Wah…. cita2 banget sih bisa nulis bukuuu apalagi kalau sekalian bisa jadi tabungan di akhirat…
    tapi yang paling susah itu ngatasi males dan ngumpulin niatnya yaa hahaha

  4. Banyak sekali manfaat dari membaca, dari yang nggak tahu jadi tahu banyak hal. Makasih Mbk tips2 dan sharingnya…

  5. “jangan mengerdilkan diri” ini gimana ya, kadang emang pas nulis tiba2 ngerasa minder banget sama tulisan sendiri

  6. Aku masih belajar pengen buat buku nih, Mbak. Tapi bukan buku yang karya pribadi. Masih keroyokan beraninya. But at least dengan belajar dari teman-teman, aku belajar jadi editor untuk naskahku sendiri. Semoga suatu saat ada kesempatan untuk menulis sendiri.

  7. Aku trauma nulis buku nih, Mbak. Dah susah-susah begadang, mikir ide, dll. Udah terbit, bantu masarin. Eh, yang punya penerbitan ngilang. Sampai sekarang belum dapet hidayah buat nulis buku lagi. 😒

  8. Meski blm pernah punya buku solo tp soal meneebitkan buku aku banyak belajar pada anak sulungku, dia udah nerbitin buku sejak SD di sebuah penerbitan Mayor…. Butuh wkt sih yg utamanya dan sbg emak rempong wktku mmg rebutan heu..

  9. Wah keren bgd itu mbk Nunik, sebulan bisa menerbitkan 6 buku. Kereennn.
    Btw iya sih mbk, karya kita berupa buku juga bisa jd amal atau malah dosa bg kita. Makasih ya mbk udh diingatkan.

  10. Aku udah vakum nih menulis buku. Mau mulai lagi tapi kok gak mulai-mulai hehe…

  11. Alhamdulillah dapat suntikan semangat nulis dri mba Afifah 😍😍 saya pengen banget publish buku hasil karya sendiri mba, mudah2an terealisasikan 😊

  12. Sebagai cat lover, saya sempat salfok dengan kucing yang lucu-lucu, Mbak hihihi…
    Saya terakhir nulis buku itu, di tahun 2017. Belum bisa nulis lagi, karena kegiatan ngeblog. Haish alasan aja ya …wkwkwk
    Mudah-mudahan tahun depan saya bisa menerbitkan buku lagi, aamiin.

  13. Selalu terpukau dengan para blogger yang bisa menulis buku juga. Aku pun ingin sekali menulis buku dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Tapi sepertinya itu masih dalam mimpi saja karena belum bisa terwujudkan sampai saat ini.,

  14. Selalu terpukau dengan para blogger yang bisa menulis buku juga. Aku pun ingin sekali menulis buku dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Tapi sepertinya itu masih dalam mimpi saja karena belum bisa terwujudkan sampai saat ini.

  15. Setuju bangeeettt, TULIS saja.
    Banyak yang hanya mikiiiirrrr aja, padahal kan mending tulis apa yang sedang dipikirin itu.
    Kalau ikut lomba enggak ah.
    Saya kurang tertarik, meding bangun blog dengan ODOP, biar dapat sponsored post eh.
    Sponsored post juga bikin saya tertantang untuk bikin artikel yang menarik, bagus dan layak lah.

    Kalau lomba blog, ampun deh, waktu saya habis tercurah untuk satu artikel, yang belum tentu juga saya bisa menang (pesimis hahaha)
    Kadang waktu yang seharusnya bisa menerbitkan artikel 3-4 buah, habis hanya untuk mikirin 1 postingan lomba hiks

    Makanya sementara ini saya lebih senang ikut lomba kalau ada tanda kutipnya wkwkwk.
    Selebihnya saya milih menulis terus aja di blog, banyakin artikel, perbaiki performa blog πŸ˜€
    Eh jadi curcol panjang πŸ˜€

  16. EBI ini peer besar banget. Aku pernah demgar salah satu triknya harus banyak membaca, mempelajari karya orla bukan sekedar penikmat.

  17. Ah, Mbak Nuniek emang jago! Aku setuju tuh sama poin EBI. Ini yang paling bikin bete kalau baca tulisan orang tapi EBI-nya amburadul. Duh, gimana ya, sekolah udah bertahun2 tapi kok EBI masih salah2 aja πŸ˜€

  18. Alhamdulillah aku pernah ikutan buat satu buku meskipun bareng-bareng, hehehe. Masih pengen nulis buku lagi tapi entah kenapa lebih suka nulis blog meskipun blognya juga gak rajin rajin amat diisi, hahahhaha *gubrak*

  19. aahh jadi paham deh step by stepnya. karena aku penasaran cara menerbitkan buku yang bukan self publishing πŸ™‚

  20. Waaaahhhh…aku nggak selesai baca tulisan di artikelmu ini Fah..banyak banget kucingnya…aku phobia kucing

  21. Aku tetep sih kangen pingin nulis fiksi lagi. Ngenovel lagi

  22. Mbak, baca artikel mbak, Ujame seperti tercerahkaaaaan :’)
    tapi bener sih mbak, buku-buku yang diterbitkan sendiri itu kualitasnya gak kalah bagusnya. Malah beberapa lebih menarik.
    Jadi semangat ngelanjutin naskah :’)

  23. Iya, jngn berharap langsung ngirim naskah ke penerbit mayor kl kepengen punya buku. Bikin Self Publishing aja dulu kayak bunda nih. Punya buku 19 tp antologi, gpp. Ambikin an yg tulisan kita, minta izin ke penyelenggarsnya aja dulu, udah diizinin baru deh cetak self publishing. Bunda punya buku 1 dari kumpulan postingan ppilihan dari blog bunda. Jaci deh punya buku “Me n My Life” lumayan udah laku wlp blm fiatas 109 eksemplar rapopo. Ayooo…bikin buku sendiri aja, kecuLi kl ngerasa sekaliber Dee Lestari bolehlah coba2 ke Penerbit Mayor. Ee..panjang banget yak komentarnya. Maaaap.

  24. nampar aku bnaget nih mba.. masih selalu minder tiap da yg ngajakin nulis buku, semoga tahun depan ada keberanian, Aamiin.. πŸ™‚

  25. Aku sekarang ini belum kepikiran lagi buat nerbitin buku. Dulu suka ya kalau kroyokan. Tpi sekarng ya itu, mikir deh apa manfaatnya buat aku dan orang lain nanti

  26. 6 buku dalam sebulan . Wow .

    Membaca ternyata itu penting sekali , bisa mengabdikan karya lewat buku dan bisa di baca banyak orang

  27. Ah Fifah ceritanya nanggung banget, aku kan jadi penasaran isi cerota antologi yang rahasia itu πŸ™‚

  28. Mba Nunik idolaque huhu sayang banget deh aku ga bisa waktu workshop sama beliau,, semoga aja nanti ada workshol lagi ya dengan narasumber beliau.

  29. aku juga pengen mba punya buku hasil karyaku sendiri, aku sudah buat outlinenya cuman eksekusinya malas sampe sekarang hahha..makasi tipsnya jadi semangat lagi nih pengen buat buku lagi

  30. Gagal fokus dengan buku yang pernah diterbitkan dulu. Buku apaan sih? Percintaan yaa, wakaka… Bagiku jadi penulis buku kok berat ya, apa aku yang malas nulis panjang-panjang atau gimana ya *malah nanya XD

  31. Bener tuh ya, sering2 ikut lomba juga bisa kasih peluang bagus, trus sering ikut workshop juga, dari situ bisa ketemu banyak kenalan untuk jadi teman sharing info dan tips

  32. Gemes banget lihat kucing, hahaha
    aku ingin nulis buku tapi enggak tahu nulis apaan. Hahaha
    eh alhamdulillah tahun ini satu buku antologi. Pecah telor!

  33. Saya pernah boseen banget nunggu kepastian dari penerbit akhirnya milih nerbitin secara indie xD tapi alhamdulillah sekarang udah banyak sekali opsi penerbit mayor dan indie ya, calon penulispun bisa memilih yg sesuai

  34. Kenal mba Nunik dari Zaman Forum PBA (Penulis Bacaan anak) lalau mba Nunik makin kece dan banyak karyanya kalau saya mah mandek hehehe

  35. Ini narsumnya emang kece abisss… Nunik nih produktif banget yaaa… buku yang dicetak udah banyak, aktif pula nulis content dimana2. Nunik idolaqueee….

  36. Wah, boleh-boleh nih kiatnya. Udah lama aku gak menerbitkan buku. Terakhir tahun 2011. Kangen juga. πŸ˜€

  37. Alhamdulillah dah punya brp antalogi walau masih bisa diitung jari, cumaaa emang pengen sih punya buku solo. Moga2 2019 bisa. Makasih tips2nya mbak πŸ˜€

  38. Wah tip2 dari nunik manfaat yaa… yang penting banyak baca dan terus latihan menulis ya

  39. Semangat Mbk menerbitkan buku, semua berawal dari halaman pertama, Insya Allah tahun 2019 terbit ya bukunya

  40. Mbak Nuniek mah penulis buku cerita anak idolaku mbak. Betul banget, untuk menjadi penulis harus punya bekal buku bacaan dan mau menulis. Kalau ga ada dua hal itu, kayaknya omong kosong deh. Ga bakalan jadi penulis hehe

  41. Masa tunggunya itu loh, lumayan bgt ya berbulan2, aku rasanya gk sanar. Hahah

  42. Aku dan suami sempat kepikiran pengin nerbitin buku hehe mudah-mudahan nggak sebatas wacana πŸ™‚

  43. Setelah ikut acara ini, saya jadi ingin segera ikut bikin buku πŸ™‚

  44. Alhamdulillah dengan mengikuti lomba blog, lama kelamaan tulisan bisa terasah. Saya punya buku sih, tapi ya gitu, yg beli masih dikit banget, wkwkwkwk #jejakbiru

  45. waduh, menunggunya itu yang bikin males yah. Jadi dilema kalau udah lama nunggu eh ternyata ga lolos, kan asem. Pilihan yang terbaik sih nerbitin sendiri, jual sendiri, kalau tulisannya bagus dan banyak penggemarnya pasti penerbit besar juga akan meliriknya.

  46. […] Aku tulis di artikel selanjutnya saja, ya. Tentang SEO dan menulis buku. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *