Blog lain mungkin membuat artikel tips agar anak gemar membaca. Saya sih belum bisa. Kan saya belum punya anak. Kalau saya membuat hal semacam itu, namanya cuma teori dong. Makanya, saya membuat artikel awal mula anaknya ibu saya a.k.a saya bisa gemar membaca.
Dahulu kala . . .
Waktu saya masih imut-imut kecil, ibu saya selalu membelikan saya Bobo. Itu loh, majalah yang ikonnya kelinci. Saya tidak ingat spesifiknya sejak kapan, yang pasti sebelum usia saya lima tahun.
Karena saat itu saya belum bisa membaca, ibu saya membacakan majalah itu. Saya hanya mendengarkan sambil melihat gambar-gambar yang ada. Selain majalah, ibu saya juga kadang membelikan buku-buku cerita bergambar lain. Saya ingat pernah mempunyai kumpulan buku cerita kecil-kecil yang berbentuk rumah, toko, pool pemadam kebakaran, pokoknya seperti sebuah kota. Ada tempat untuk menyusunnya juga. Kalau buku-buku itu disusun, akan melengkapi gambar sebuah kota. Saya suka dibacakan cerita sambil membayangkan saya juga berada di dalamnya.
Cerita-cerita yang biasa dibacakan oleh ibu saya hanya cerita bergambar. Buku-buku ceritanya pun hanya memuat paling banyak satu paragraf setiap halaman. Paragrafnya pun tidak gondrong. Saya tidak dibacakan cerpen atau buku yang paragrafnya panjang.
Kadang-kadang, karena saya ingin tahu ada cerita apa di balik tulisan-tulisan panjang itu, saya minta dibacakan. Tapi, karena gambarnya sedikit, saya juga kadang malas mendengarkannya. Hehe. ^^v
Lama-kelamaan, saya menjadi tidak sabar harus menunggu ibu saya untuk membacakan majalah atau buku. Saya ingin begitu melihat majalah atau buku, saya bisa membacanya sendiri supaya saya bisa langsung terjun membacanya sendiri. Mungkin itu awal mula saya belajar membaca.
Sekadar perbandingan, adik saya belajar membaca lebih cepat daripada saya, tapi dia hanya belajar, ibu saya tidak membacakan cerita untuknya. Waktu kecil, dia juga suka membaca apa saja termasuk RPUL, tapi kebiasaan itu tidak bertahan lama.  Setidaknya, otaknya berkembang lebih cepat.
Seperti adik saya, seperti anak-anak lain yang baru bisa membaca, saya pun membaca apa saja yang saya lihat. Nama toko, stiker di jalan, spanduk, papan peringatan, dan semacamnya. Oke, ini bagian yang agak nggak penting. Kita skip saja.
Ibu saya juga masih suka membelikan buku cerita bergambar. Saya ingat saya mempunyai satu-satunya buku cerita Winnie The Pooh dan berulang kali membacanya. Saya ini Disney mania juga.
Lalu, sepupu saya mengenalkan komik. Dulu sih hanya pinjam. Satu kali, waktu akan membeli buku cerita bergambar, saya iseng beralih ke komik. Daaan, membeli komik itu candu! Sekali beli, maunya beli terus. Kalau hanya pinjam, rasanya ada yang kurang.
Untungnya, orangtua saya tidak melarang membeli komik. Ada beberapa orangtua teman saya melarang membeli komik. Katanya, komik tidak berguna, buang-buang uang, sekali baca akan diabaikan.
Well, mungkin benar sekali baca akan diabaikan. Kalau bukan komik yang sangat bagus, rasanya mustahil membaca komik yang sama dengan jeda beberapa bulan saja. Tapi, lama-lama kan lupa ceritanya dan bisa dibaca lagi.
Sekitar kelas 4 SD, saya pertama kali ke perpustakaan kota. Saya diajak oleh seorang. Dia sering diajak ayahnya ke sana. Dia juga hobi membaca berkat ayahnya. Dari perpustakaan kota, saya pertama kali belajar membaca buku dengan sedikit gambar (komik Doraemon seri Ensiklopedi gambarnya masih termasuk banyak). Saya mau saja membaca semua itu karena dengan membaca semua itu saya bisa mendapat banyak pengetahuan yang belum diajarkan di sekolah.
Dulu sih, kalau mau membeli buku, saya masih minta uang lagi di luar uang jajan. Alhamdulillah, untuk buku diturutin. Mungkin kalau nggak diturutin, saya sekarang akan malas membeli buku, membaca juga mungkin. Orangtua saja melihat dulu buku yang akan saya beli. Kalau kurang setuju, mereka akan mengajukan opsi lain yang menurut mereka lebih baik.
Saya tidak pernah dilarang membeli buku sampai beberapa waktu lalu. Kenapa? Karena saya mulai menjadi penimbun buku. Sejak tidak minta dibelikan lagi, saya merasa lebih bebas. Dan, yah, menjadi penimbun buku merupakan side effect sebagai penggemar baca.
Jadi, jika Anda ingin anak gemar membaca, berhati-hatilah terhadap efek sampingnya.

 

You may also like...

5 Comments

  1. Sy dlu jg gt mbak, lebih sering dibelikan bobo daripada beli mainan. Tp alhamdulillah, apa yg dilakukan org tua dlu, utk mennmkan gemar membaca kpd sy, berguna smpek skrg, beda dg skrg y mak, org tua kayaknya berlombaa lomba belikan anak2 hp, tablet, jadi ya gt, pakekkcamata bukan karna kebanyakn mbaca, tp kebanyakan ngegame. Tfs ya mbak

  2. Baru mampir udah suka sama tulisannya 🙂

  3. iya juga, mak. anak-anak makin banyak yang pakai kacamata, tapi karena keseringan melihat monitor. mungkin seharusnya sambil megang tablet, dikenalkan juga dengan ebook.

  4. makasih udah mampir. 🙂

  5. […] sudah menjadi bagian hidup sejak aku bisa membaca. Aku suka membaca sejak kecil. Walau begitu, bukan berarti aku nggak pernah reading slump. Apa itu reading […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *