Cabuk rambak, brambang asem, tumpang letok itu apa, ya? Mungkin entah kapan aku akan mendengar nama-nama makanan itu kalau aku nggak datang ke Gelar Cita Rasa Solo 2015. Bertempat di Lapangan Parkir Dapur Solo Ny. Swan, Jl. Danau Sunter Utara No. 7, festival kuliner dan kebudayaan ini diadakan untuk ketiga kalinya. 
Ide awal acara ini muncul atas kerinduan pemilik Dapur Solo, Ibu Swan, terhadap budaya Jawa. Acara ini digagas agar masyawakat lebih mengenal dan mencintai kuliner dalam negeri. Acara ini juga sebagai kampanye supaya pengusaha restoran menggunakan bahan lokal pada setiap menunya. Juga, untuk menggerakkan hati pemerintah supaya kedepannya bersinergi dengan pengusaha dan petani, serta seluruh pihak yang mendukung makanan Nusantara.

Selain kuliner, terdapat juga kerajinan-kerajinan tangan khas daerah-daerah di Pulau Jawa. Acara ini digelar pada 11-13 Desember 2015 lalu. Terdapat 30 tenat lokal dalam festival ini. Semuanya berasal dari Pulau Jawa, khususnya Solo. Bagi yang sedang merindukan kuliner kampung halamannya, festival ini bisa sejenak mengobati rasa rindu. Terlebih, kuliner yang sudah langka pun hadir di sini. Untuk yang belum banyak mengenal kuliner khas, sepertiku, festival ini bisa menambah pengetahuan dan mencoba masakan-masakan baru.

Ini pertama kalinya aku mengenal cabuk rambak. Makanan ini sekilas mirip ketupat yang disiram bumbu kacang. Ketupat atau lontongnya, sih, betul, tapi saus untuk makanan ini dibuat dari kemiri dan saus wijen. Rasanya? 11-12 dengan ketupat dan saus kacang, tapi lebih ringan.
Ada juga brambang asem. Lagi-lagi, aku salah mengira. Aku mengira makanan ini terbuat dari daun kangkung, ternyata . . . daun ubi. Ini pertama kalinya aku mencoba daun ubi. Walaupun namanya ada kata “asem”, makanan ini sama sekali jauh dari kata asem atau asam. Pedes, loooh.
Brambang asem disajikan dengan tempe gembus. Apa lagi itu? Tempe yang dibuat dari ampas tahu. Kalau di Bogor sih, ampas tahu dibuat jadi oncom, ya?
Di sini, aku juga mencoba bubur Solo. Biasanya, bubur disajikan dengan bumbu kare, kecap, dan berbagai topping, seperti ayam suwir, cakwe, dan kerupuk. Bubur Solo disajikan dengan tumpang letok. Tumpang letok terdiri atas kerecek, kare tahu dan telur, dan . . . aku lupa apa lagi. -_- Karena pelengkap bubur yang demikian, bubur yang disajikan pun berkuah. 
Setelah icip-icip makanan-makanan yang cukup berat, masih banyak jajanan yang menunggu. Aku sangat excited bisa menemukan tahu petis. Aku penasaran dengan makanan satu ini setelah sering melihat salah satu orang yang ku-follow di Twitter berkali-kali mengatakan ingin makan tahu petis, tapi belum menemukannya di Jakarta. 
Dan, akhirnya aku menemukannya di Gelar Cita Rasa Solo. Karena diisi petis, rasanya menjadi gurih manis. Aku suka, tapi bukan jenis makanan yang bisa aku makan banyak-banyak. Aku nggak terlalu tahan dengan manisnya. Lidahku belum terlalu “Jawa”.
Di booth yang menjual tahu petis, ada juga wedang kacang dan wedang ronde.
Jajanan-jajanan lain yang ada dalam event ini di antaranya, tahu pedas, es podeng, dawet, ketan susu, dan . . .  es goyang! Jajanan waktu SD. Es goyang ini sudah bermerek dengan nama Es Goyang Kampoeng. Porsinya lebih besar daripada es goyang di SD. Rasanya pun bukan sekadar berasal dari perisa. Aku mencoba rasa alpukat, dan memang ada alpukatnya. Ada beberapa topping yang bisa dijadikan pilihan. Yang kucoba, topping coklat dan kacang. Untuk topping, dikenakan charge tambahan ketimbang tanpa topping.

Karena festival ini mengenalkan kuliner Pulau Jawa dan Jakarta berada di Pulau Jawa, tentu saja kuliner Jakarta pun ada. Apa hayo? Apa lagi kalau bukan kuliner klasik, kerak telor. Walaupun kerak telor belum terlalu langka, belum afdol kalau belum menyajikan kuliner tempat acara diselenggarakan.
Kisaran harga jajanan yang ada di Gelar Cita Rasa Solo masih cukup bersahabat. Sebagian besar satu porsi harganya Rp10.000. Worth it lah, yaaa. Kapan lagi coba bisa menemukan cabuk rambak di Jakarta?
Berhubung acara ini diadakan oleh restoran, ada yang kurang kalau belum melirik kuliner di restoran tersebut. So, this is it. Nasi langgi. Menjulang dengan cantiknya.
Kisaran harga menu Dapur Solo masih standar restoran Jakarta (Bogor juga, sih). Dengan harga segitu, no need to worry karena kualitas makanannya pun nggak kalah. Resep di Dapur Solo sudah distandarkan. Jadi, kalau bukan mencoba Dapur Solo yang di Sunter Utara, melainkan di tempat lain, tetap rasanya akan sama. Hal ini sangat penting demi kepuasan konsumen dan agar konsumen tetap percaya pada branding Dapur Solo walaupun di cabang berbeda. 
 
Workshop Tumpeng Tsum Tsum dan Batik Tulis
Karena ini juga festival kebudayaan, harus ada sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan, dong. Dan, pastinya bukan hanya bisa dinikmati saat itu, melainkan juga berguna untuk ke depannya. 
So, kali ini, ada workshop tumpeng tsum tsum dan batik tulis.
Tumpeng tsum tsum, seperti namanya, berasal dari tumpeng biasa. Bahan-bahannya pun sama. Nasi, telur dadar rawis, ayam goreng, dan sebagainya. Bedanya, tumpeng ini dibuat imut.  Bentuk yang dipelajari di workshop kali ini adalah Winnie The Pooh, Pigglet, dan Tigger. Tumpeng ini bisa banget dijadikan bekal anak sekolah. Bisa juga untuk acara ulang tahun. Pasti lucu melihat Winnie The Pooh disusun bertingkat. Yah, perlu kesabaran, sih, tapi bisa membuat anak senang dan mau menghabiskan makanannya (kecuali kalau nggak tegak makannya. hihi).

Kalau batik tulis, namanya juga batik, ya pasti ngebatik. Melihat langsung pembuatan batik, aku semakin melek bahwa batik memang bernilai. Pembuatannya membutuhkan ketelatenan. Di workshop ini, motif-motif yang dibuat lebih sederhana. Gambar-gambar yang dibuat pun beberapa sangat biasa dijumpai dalam gambar anak-anak. Setelah dilapisi lilin, kemudian diberi warna, gambar biasa pun akan lebih tampak bernilai tinggi, terutam karena usaha yang dibutuhkan untuk menghasilkan gambar tersebut. Sayangnya, aku nggak punya foto gambar yang sudah jadi.


Inspirasi dari Owner Dapur Solo

Restoran Dapur Solo berawal dari garasi rumah. Ibu Swan, pemilik Dapur Solo, merintis usahanya dengan bermodal ulekan dan blender hadiah perkawinan. Usaha tersebut dirintis sejak tahun 1988. Sekarang, usahanya berkembang menjadi Restoran Dapur Solo yang memiliki 5 cabang restoran dan 8 cabang khusus menangani lunch box.

Ny. Swan (tengah, baju hijau)

Bagi Ibu Swan, dalam membangun usaha, yang terpenting adalah kemauan keras. Tanpa perlu tipu sana-sini, pasti bisa untuk mencapai kesuksesan. Karena itu, Ibu Swan selalu memastikan customer-nya mendapat pelayanan terbaik. Bahan-bahan makanan yang digunakan adalah bahan-bahan yang baik dan bagus, bukan sekadar bahan murah hanya demi keuntungan yang besar.
Kini, Ibu Swan membantu UKM-UKM. Ibu Swan menularkan semangatnya untuk membuat orang lain maju. Karena itulah, beliau menggelar Gelar Cita Rasa Solo.
Bermula dari usaha seorang diri, suami Ibu Swan akhirnya ikut membangun dan mengembangkan Dapur Solo. Saat itu, suami Ibu Swan sedang berada di atas karier, tetapi memilih mengembangkan Dapur Solo. Perbedaan pendapat kerap terjadi, tetapi pada akhirnya bisa diselesaikan demi meningkatkan kualitas restoran. Kekurangan masing-masing dilengkapi dengan potensi-potensi yang dimiliki pasangan sehingga Dapur Solo bisa berkembang seperti sekarang.
Menurut Ibu Swan, keberhasilan adalah mengenai kepuasan jiwa, bukan tentang kekayaan. Ketika bisa menikmati makanan sehari-hari, hal itu termasuk suatu keberhasilan. 
Wisata kuliner kali ini, bukan hanya mendapat kenyang, melainkan juga lebih mengenal budaya dan pencerahan dari sang pemilik restoran. Aku sangat berterima kasih karena Dapur Solo memberiku kesempatan ini. Semoga Dapur Solo semakin maju.
Dapur Solo Ny. Swan (Cabang Sunter)
Jl. Danau Sunter Utara No. 7, sebelah barat Astra BMW
Jakarta


You may also like...

4 Comments

  1. wah tahu petisnya mau bangetttt. Aku seneng banget sama tahu petis

  2. Sepertinya harus lebih giat lagi untuk kulineran biar bisa punya banyak referensi nulis 😀

  3. Pingin esnya …. menggugah selera banget. 😀

  4. Aku sering banget kesini karena deket kantor.
    Favoritku disini adalah Comro nya Mbak! Hahaha…enaaaaak 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *