Reportage

Mengoptimalkan Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi

 

Moms, pasti pernah mendengar tentang alergi protein susu sapi, kan? Salah satu hal yang bisa membuat moms worried banget. Bagaimana tidak, susu adalah salah satu makanan penting bagi anak-anak, terutama pada 1000 hari pertama tumbuh kembang anak. Susu adalah makanan cair padat zat gizi.

Nutrisi Untuk Bangsa mengajak media untuk menghadiri NutriTalk terkait hal ini. Acara ini bertajuk “Gizi di Awal Kehidupan: Dasar-dasar dan Pedoman Praktis Optimalisasi Tumbuh Kembang Anak dengan Alergi Protein Susu Sapi“. Pembicara pada NutriTalk kali ini adalah Dr. dr. Budi Setiabudiawan, SpA(K), MKes (Konsultan Alergi Imunologi Anak Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran) dan DR. Dr. Rini Sekartini, SpA(K) (Konsultan Tumbuh Kembang Anak RSCM, Jakarta). Acara ini diselenggarakan di Double Tree Hotel, Cikini, Jakarta, pada Kamis, 24 Maret 2016.

Aku sendiri belum pernah menemukan anak yang mengalami alergi susu sapi. Namun, aku cukup sering menemukan kasus alergi lain. Satu hal yang pasti, alergi adalah sesuatu yang menyiksa. Kalau penderita alergi “baik”, akan mudah menghindari pencetus alergi. Kalau penderita alergi “nakal”, dampaknya sangat tidak mengenakkan.

Alergi pada anak bisa menghambat tumbuh kembangnya. Gizi di awal kehidupan sangat penting perannya untuk mendukung tumbuh kembang optimal. Gizi yang diterima di awal kehidupan akan terus mendukung hingga anak dewasa. Namun, anak yang mempunyai alergi tidak bisa menoleransi makanan yang merupakan sumber zat gizi.

Kalau pemberian makanan pencetus alergi dipaksakan hanya demi mendapatkan zat gizi, hal itu justru akan memberikan dampak lebih buruk. Pada anak alergi, tidak ada istilah pemberian “sedikit-sedikit”. Anak yang alergi tidak boleh sama sekali terkena pencetusnya. Dampak paling mengerikan kalau tetap bandel adalah kematian. Tentunya, kita tak ingin hal itu terjadi.

Selain tidak boleh diberikan pencetus utama alergi, anak alergi pun tidak boleh diberikan turunan pencetus tersebut sama sekali. Misalnya, kalau anak alergi protein susu sapi, dia pun tidak boleh diberikan kue yang mengandung susu sapi.

Sebagai makanan cair pada zat gizi, susu sapi sangat berguna untuk tumbuh kembang anak. Susu sapi berguna untuk melengkapi kebutuhan zat gizi anak karena mengandung protein, vitamin, dan mineral. Asupan yang diterima pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan yang berawal sejak dalam kandungan, menjadi sumber untuk bisa tumbuh dan berkembang optimal sampai dewasa kelak.

Jadi, ibu hamil perlu memastikan asupan yang diterimanya sudah memenuhi zat gizi atau belum. Dalam hal, ibu hamil pada dasarnya tidak mempunyai pantangan makanan, kecuali kalau makanan tersebut menyebabkan alergi bagi si ibu. Perumbuhan dan perkembangan anak menjadi lebih baik dengan dilengkapinya kebutuhan zat gizi.

Selain sebagai pelengkap kebutuhan, susu sapi juga menjadi penolong bagi bayi yang tidak mendapat kesempatan memperoleh ASI. Bayi di bawah enam bulan, tentunya belum boleh mengonsumsi makanan padat sehingga susu sapi menjadi pilihan. Sayangnya, beberapa anak tidak dapat mengonsumsi susu sapi disebabkan mempunyai alergi.

Reaksi yang umum terjadi sebagai tanda alergi antara lain, mata berair, bibir membengkak, gangguan saluran pernapasan, dan timbul bentol. Hal-hal tersebut jelas menganggu anak. Bahkan, bisa juga menyebabkan nafsu makan berkurang. Akibatnya, zat gizi yang diterima anak pun semakin sedikit.

Reaksi lain pada anak alergi, khususnya alergi protein susu sapi, adalah diare, muntah, kolik, dan BAB disertai tinja berdarah. Pengeluaran lebih besar daripada asupan pada umumnya. Belum lagi, kembali pada masalah nafsu makan berkurang akibat hal tersebut.

Jadi, alergi berdampak pada berkurangnya “kesempatan” anak mendapat asupan zat gizi akibat dari tidak bisanya anak menoleransi makanan tertentu. Reaksi alergi yang timbul bisa mengurangi asupan yang seharusnya diterima anak dan bisa juga memperbesar pengeluaran. Hal-hal tersebut semakin memperbesar peluang anak alergi mengalami masalah tumbuh kembang.

Risiko alergi bisa diturunkan secara genetik. Anak yang mempunyai orangtua atau saudara kandung alergi mempunyai risiko terkena alergi yang cukup besar. Bentuk alerginya bisa saja tidak sama. Misalkan, sang ayah alergi makanan laut, sedangkan anak mengalami alergi protein susu sapi. Hal tersebut menjadikan orangtua sebaiknya lebih mengamati reaksi yang ditimbulkan pada hal-hal yang biasanya memicu alergi. Namun demikian, bukan berarti orangtua menjadi overprotective. Anak picky eater pun memicu risiko alergi.

Anak dengan orangtua atau saudara kandung tanpa alergi pun mempunyai risiko alergi. Hal ini bisa terjadi kalau anak terlalu sering terkena pajanan asap rokok. Sangat penting untuk menjauhkan asap rokok dari anak.

Risko alergi dapat diperkirakan dengan perhitungan menggunakan tabel. Moms pun bisa mencoba memperkirakannya. Berikut contoh tabel yang bisa digunakan.

Anak yang tidak menerima ASI pun mempunyai risiko alergi yang besar. ASI mampu menjadi kekebalan bagi anak sehingga tanpa, ASI anak kehilangan satu bentuk pertahanan. Karena itu, selagi ada kesempatan, sebaiknya anak diberi ASI.

Lantas, bagaimana seandainya bayi tidak bisa memperoleh ASI dan keluarganya mempunyai alergi?

Bayi tersebut sebaiknya tidak diberi susu sapi biasa. Dia mempunyai risiko alergi yang tinggi. Ada kemungkinan dia mengalami alergi susu sapi. Namun demikian, kalau tidak diberi susu, dia tidak akan bisa tumbuh dengan baik.

Untuk mencegah hal tersebut, bayi bisa diberikan susu formula terhidrolisat parsial. Rantai asam amino pembentuk protein pada susu formula ini sudah dibuat menjadi lebih pendek daripada susu formula biasa. Karena rantainya lebih pendek, susu formula terhidrolisat parsial lebih mudah diserap.

Bagaimana kalau anak sudah terlanjur alergi?

Sebagai pengobatan, anak bisa diberi susu formula terhidrolisat sempurna. Kalau terhidrolisat parsial, proteinnya tersusun dari asam amino dengan rantai pendek. Kalau terhidrolisat sempurna, proteinnya sudah dalam bentuk asam amino alias sudah terpecah tidak lagi berupa rantai. Hal ini semakin memudahkan anak menyerap asam amino-asam amino yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangannya.

Anak yang sudah tumbuh kembangnya sudah terhambat, masih mempunyai kesempatan mengejar ketertinggalan. Hal yang diperlukan adalah keuletan dan kesabaran orangtua untuk memberikan nutrisi, baik berupa makanan maupun stimulasi, kepada anak. Kalau tumbuh kembangnya sudah sangat terhambat, masih ada kemungkinan untuk bisa menyamai anak lain, tetapi membutuhkan waktu yang lama.

Karena itulah, lebih baik memerhatikan asupan yang diterima sedini mungkin agar anak terhindar dari alergi. Namun, bukan lantas membatasi segala macam apa yang anak akan konsumsi.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *