Sisi lain Bogor

Beberapa hari yang lalu, ketika sedang browsing untuk suatu keperluan, aku menemukan fakta yang nggak ada bagus-bagusnya sama sekali. Tapi, yah, mending fakta nggak bagus diekspos betulan daripada memfiktif sesuatu dan bikin banyak orang makin merasakan pahit.

Fakta itu adalah bahwa terdapat wilayah Bogor yang akses jalannya masih jauh dari sempurna. Kabupaten, sih, bukan Kota. Tapi, tetap saja namanya Bogor.

Berita tersebut berasal dari artikel 2018. Entah sekarang jalanan sudah diperbaiki atau belum. Aku berharap jalanan di sana sudah jauh lebih baik, bahkan mungkin diaspal.

Artikel itu memancap di jiwa banget, sih. Kadang-kadang, kita (aku, sih) melihat terlalu jauh sampai yang dekat nggak kelihatan. Mirip hipermetropi.  Yang jauh kelihatan jelas, yang dekat malah buram.

Aku jadi kepikiran, mungkin malah ada daerah yang lebih dekat yang juga nggak seindah kota urban pada umumnya. Walau sama-sama di Bogor, lokasi yang waktu itu aku temukan di Google terbilang jauh. Nah, mungkin di tempat sekitar juga ada yang seperti itu.

Lalu, aku jadi ingat bahwa di salah satu wilayah di Kota Bogor baru mendapatkan listrik tahun lalu. Iya, Kota. Malah, bisa dibilang wilayah itu “kota” banget karena cukup dekat dengan tengah kota.

Aku cuma bisa tercengang. Di sisi, di Kota Bogor juga, aku bisa menikmati listrik sampai bleber-bleber. Berasa nggak ada habisnya. Kalau nggak ingat bahwa energi fosil bisa habis, mungkin aku bisa memakai listrik sampai boros.

Ternyata, dalam jarak yang cukup dekat dengan tempat tinggil, ada wilayah yang baru terjangkau listrik. Aneh banget, sih, menurutku. Bahkan, seandainya wilayah itu wilayah perumahan baru, memangnya lama banget sampai listrik terpasang? Sudah 2019 ini loh.

Kemudian, aku juga ingat hal lain. Idulfitri tahun ini, aku salat di lapangan sekolah negeri. Waktu sedang mengamati, mataku menangkap atap sekolah yang sudah bobrok. Padahal, sekolah itu juga termasuk berada di tengah kota. Dan, di depan sekolah sedang diadakan pembangunan jalan baru, pembangunan flyover.

Kesal sih, sebetulnya bangun jalan, tapi sekolah di depannya seperti diabaikan. Aku pikir Kota Bogor sudah dibenahi, ternyata belum sepenuhnya. Tapi, yang namanya kesan kalau cuma kesal sih percuma.

Aku cuma bisa merasa bersalah dan kesal pada diri sendiri. Belum bisa ngapain-ngapain.

Mau nyalahin Pemkot Bogor? Percuma. Lagian, belum tentu mereka nggak tahu. Mungkin tahu, tapi masih ada prioritas lain. Yaaa, bangun jalan juga prioritas, sih. Sebagai warga yang sering lewat jalan itu, aku tahu rasanya jalanan itu kalau macet tuh gimana. Malah, mungkin macetnya agak beda dengan tempat lain karena penyebabnya bukan murni jumlah kendaraan bermotor, melainkan harus berbagi waktu dengan commuter line yang sekarang jadi banyak. Jalanan tersebut memang jalan bercabang dan di tengahnya dilalui perlintasan kereta.

Jadinya, daripada menyalahkan pihak lain (walau seharusnya memang bertanggung jawab), aku tetap saja kepikiran “aku seharusnya bisa melakukan sesuatu.”

Bahkan, mau membagikan info di Twitter ala “A thread” dengan jelas saja kan mesti izin ke pihak sekolah. Dan, mau datang lagi ke sekolah itu saja … ah, banyak alasan aku mah. Huhu.

Lalu, semua itu bikin aku makin nggak kepikiran untuk traveling ke wilayah manaaa gitu dalam waktu dekat, kecuali mungkin kalau mendadak ada keperluan. Daripada traveling ke tempat jauh, kan mending mendekati yang dekat. Lebih mengenal sisi lain wilayah megapolitan ini.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *