Traveloka Xperience

“Makan untuk hidup” atau “hidup untuk makan”?

Ada yang bilang bahwa yang betul adalah “makan untuk hidup”. Makan untuk bisa bertahan hidup. Kalau “hidup untuk makan”, artinya seperti hidup sekadar untuk makan.

Walaupun begitu menurutku, makan bukan sekadar menyerap zat-zat gizi yang berguna untuk bertahan hidup. Memang betul makan untuk hidup, tapi lebih dari sekadar menyerap sesuatu untuk kelangsungan hidup secara biologis.

Makan juga bisa menjadikan “hidup lebih hidup”. Kalau makanan yang kita makan enak, kita pun akan merasa senang, ‘kan? Kalau senang, kemampuan bertahan hidup pun terjaga. Ketika senang, menjalani hari-hari pun akan lebih mudah. Insya Allah.

Well, bukan cuma makan, sih, setiap orang mungkin sesuatu yang menarik hatinya. Buatku, makanan adalah salah satunya.

Ajaibnya Makanan

Makanan adalah hal yang luar biasa. Makanan bisa membantu seseorang terus hidup, literally. Bahkan, makanan berlabel junk food pun bisa membuat seseorang bertahan hidup. Daripada nggak makan, ‘kan?

Lebih ajaib lagi, makanan berlabel healthy food bisa membuat seseorang lebih strong daripada orang lainnya. Sama-sama makanan, sama-sama diserap, tapi hasilnya bisa berbeda.

Dulu, aku termasuk orang yang kurang suka makan. Makan sekadar kewajiban. Malah, aku lebih memilih minuman diet daripada makan betulan. Padahal, berat badanku tergolong kurang. Nggak perlu minuman-minuman diet gitu. Tapi, yaaaa, minuman diet tuh praktis dan bikin kenyang. Nggak sampai semenit, bisa beres kenyang.

Semua berubah ketika …

Ketika aku belajar lebih dalam soal makanan.

Perkuliahan Membuka Mata

Long short story, aku kecemplung di jurusan yang bersinggungan langsung dengan makanan. Aku belajar soal gizi. Dari situ, aku jadi banyak belajar betapa ajaibnya interaksi tubuh manusia dan makanan.

Aku yang dulu nggak begitu suka sayur, jadi berusaha makan sayuran. Ketidaksukaan itu ditepis dengan logika bahwa tubuh sangat membutuhkan sayuran.

Awalnya terpaksa makan sayuran, sekarang malah suka banget sayuran.

Salad

Rasa menghargai makanan pun muncul. Makanan mempunyai jasa yang besar bagi tubuh. Aku mulai makan dengan kesadaran penuh, bahwa makan bukan sekadar kewajiban.

Ketika lulus, berat badanku nggak kurang lagi. Sudah normal.

Petualangan Dimulai

Dari kuliah, aku mempunyai kesempatan mencoba beragam makanan. Mulai dari makanan yang dibuat di kampus untuk keperluan praktikum, sampai makanan yang aku beli dengan uang jajan saat itu.

Setup apel. Hasil praktikum berkelompok pertama.

Setelah lulus, aku mulai meninggalkan dapur. Rasanya merdekaaaa. Aku nggak ada masalah dengan perkuliahan, tapi waktu praktikum yang bisa sampai malam, membuatku ingin segera lepas dari dapur.

Memang ada beberapa jenis praktikum di kampusku. Praktikum di dapur adalah yang waktunya paling panjang.

Walau begitu, kecintaanku terhadap makanan nggak pernah luntur. Aku malah makin rajin menjajaki tempat kuliner.

Jenis Makanan Favorit

Aku bisa makan banyak hal, tapi tentu ada makanan-makanan yang menjadi favorit. Jadi, ini beberapa favoritku:

1. Mie 

Kecintaanku terhadap 2 mie mungkin diawali dari … mie instan. Hehe. Enak banget ‘kan slurping mie instan tuh?

Lalu, aku berkenalan dengan mie ayam. Daaaan … ya ampun, itu makanan apa, sih? Kok enak bangeeet padahal sederhana.

Jadilah, kalau berpergian, aku malah penasaran dengan mie ayam legendaris di tempat tersebut. (Btw, di tempatku, mie ayam dan mie yamin itu sama).

Dari mie ayam, aku menemukan mie-mie lain. Mulai dari mie tradisional sampai kekinian.

Mie adalah salah satu makanan andalanku. Aku mau, deh, mencoba seminggu makan mie terus. Toh, makan mie nggak bahaya. Mie kan pada dasarnya tepung, garam, dan air.

Makanya, gambar pertama artikel ini adalah mie. Sebagai bukti cinta. Hehe.

2. Makanan Pedas

Jiwa muda butuh tantangan. Dan, makanan pedas adalah tantangan. Haha.

Aku paling suka makanan pedas yang menggunakan bumbu kering, seperti keripik. Aku juga suka banget makanan yang berkuah.

Anehnya, aku nggak suka sambal, tapi kalau wisata kuliner dan trademark di tempat tersebut adalah sambal, aku akan tetap mencoba.

3. Keripik

Nggak cuma keripik pedas. Aku suka semua jenis keripik. Aku sudah suka keripik dari kecil, bahkan sewaktu masih belum suka. Mungkin, sensasi krauk-krauknya menyenangkan, ya, makanya anak kecil pun suka?

4. Dessert

Dulu, aku bukan penggemar makanan manis. Namun, entah sejak kapan, aku suka banget makanan manis. Yang pasti, baru beberapa tahun belakangan.

Dessert

Sekarang, makanan manis adalah makanan yang paling bikin bahagia (setelah mie). Aku bahkan nggak bisa menjelaskan kenapa aku suka banget dessert. Indescribable feeling.

Beruntung, aku belajar soal gizi. Jadi, aku bisa mengukur perkiraan kapan harus berhenti makan. Atau, memperkirakan apa yang harus kulakukan supaya bisa menikmati lebih banyak makanan manis tanpa khawatir gendut atau diabetes.

Manisnya Ilmu

Dari makanan manis, aku mendapat ilmu bahwa memasak juga perihal sains. Aku ingat dosenku pernah bilang bahwa membuat kue kemungkinan gagalnya kecil kalau mengikuti resep. Hal itu karena pembuatan kue melibatkan proses sains.

Perbandingan setiap bahan akan menghasilkan reaksi berbeda. Hasilnya, tentu berbeda juga. Begitulah kira-kira.

Lalu, tanpa sengaja, aku membaca buku mengenai gastronomi. Setelah membaca buku itu, aku makin takjub luar biasa! Memasak bukan sekadar menyalakan kompor dan mematangkan makanan. Ada juga proses sains di dalamnya. Jadi, chef yang bisa memahami proses sains dalam masakan, sama kerennya dengan scientist.

Kitchen is A Laboratorium

Apa penyebab pasta dan jenis mie tertentu bisa berbeda padahal menggunakan bahan yang sama?

Bagaimana bisa perbandingan kuning dan putih telur sangat berpengaruh pada pembuatan kulit pie?

Kenapa ada orang yang lebih menyukai bubur yang tidak aduk? (Yap! Aku pernah penjelasan sainsnya! Science is awesome, right?)

Kenapa kue memerlukan telur? Apa saja yang bisa menggantikan telur pembuatan kue?

Dapur bisa diibaratkan laboratorium para chef. Pernah dengar makanan yang dimasak dengan nitrogen? Mirip scientist banget, ‘kan?

Sebetulnya, sesederhana membuat mie instan pun ada proses sainsnya.

Di bangku kuliah, aku memang belajar soal makanan, tapi yang lebih ditekankan adalah interaksinya dengan tubuh. Misalnya, soal MPASI, soal interaksi obat dan makanan, soal makanan untuk diet tertentu, dan sebagainya.

Itu juga menakjubkan, sih. Bagaimana makan ikan bisa memberikan hasil berbeda dengan makan wortel, tentu membuat penasaran, ‘kan? Hal-hal semacam itu yang aku pelajari di perkuliahan.

Namun, ternyata, makanan bisa membuat takjub bahkan sebelum masuk ke dalam tubuh. Mulai dari persiapannya pun sudah mengesankan.

Nah, gara-gara baca buku tentang gastronomi, aku jadi belajar tentang makanan lebih jauh.

Fakta untuk Bereksperimen

Reaksi kimiawi bukan hanya ada pada pembuatan kue dan bakery. Reaksi sains seperti itu ada di hampir semua proses pembuatan makanan.

Aku baru tahu bahwa perbedaan jenis garam saja bisa sangat berpengaruh, bukan hanya terhadap rasa tapi juga reaksi-reaksi kimia lain. Bahkan, suhu di sekitar pun berpengaruh dengan rasa yang ditimbulkan. Hal ini kira-kira seperti ilmu sains.

Traveloka Xperience

Dari mengetahui fakta sains di balik setiap masakan, kita akan semakin mudah bereksperimen. Akan semakin mudah menukar-nukar bahan dengan sifat yang sama untuk mendapatkan #XperienceSeru dan menghasilkan rasa yang lebih lezat.

Foodie Lebih dari Sekadar Makan

Aku sempat kepikiran, kenapa aku kok nggak sepeduli itu terhadap makanan sewaktu kuliah? Aku kelewat materinya atau apa? Tapi, kayaknya nggak kelewat, sih. Kan perkualian lebih tentang tubuh manusia dan makanan. Kalau soal bahan makanan dan faktor lainnya, sepertinya biarkan jurusan Tata Boga saja yang mempelajarinya. Hehe.

Di sisi lain, aku juga jadi penasaran dengan apa yang dipelajari di jurusan Tata Boga. Aku kan nggak mungkin mengulang kuliah dan ambil jurusan tersebut.

Waktu memang nggak bisa diulang. Menyesal pun untuk apa? Toh, sekarang, aku masih bisa belajar banyak tentang makanan dari buku-buku. Aku juga nggak menyesal karena di perkuliahku aku belajar soal hubungan makanan dan tubuh manusia. Hal itu penting banget supaya nggak asal diet.

Lagian, untuk urusan praktik, sekarang banyak cooking class. Di situ, mungkin aku bisa menanyakan banyak hal. Aku yang pernah merasa merdeka dari dapur, sekarang malah mencari cooking class. Tentunya, kelas yang dengan pengajar berpengalaman. Salah satunya adalah kelas yang aku temukan di Traveloka Xperience.

Aku tahu Traveloka Xperience sejak beberapa waktu lalu, tapi kupikir sebatas voucher tur, taman bermain, dan semacamnya.

Waktu aku buka aplikasi Traveloka, begitu aku tap “Semua Kategori”, aku baru tahu ada kategori “Kursus & Workshop”.

Traveloka Xperience

Setelah scroll, aku menemukan cooking class. Ada banyak cooking class untuk anak-anak, tapi ada untuk orang dewasa juga.

Lalu, aku menemukan salah satu kelas untuk dewasa di Arkamaya. Setahuku, Arkamaya adalah salah satu sekolah kulinari bonafid. Sekolah ini menyediakan kelas mulai dari untuk anak-anak sampai profesional.

Dari yang kuperhatikan di media sosial, sepertinya para pengajarnya bukan sekadar bisa memasak, melainkan sangat paham mengenai bidangnya. Mungkin, aku bisa mendapatkan ilmu tata boga sekaligus mencari tahu soal proses sains dalam memasak.

Nah, ini aku menemukan kelas Arkamaya di Traveloka Xperience.

Traveloka Xperience

Arkamaya

Selain Arkamaya, aku juga menemukan kelas lain dengan harga yang lebih terjangkau. Kelas yang ini sepertinya lebih ke arah Jepang. Kuliner Jepang termasuk kuliner yang luar biasa, menurutku. Mulai dari kuliner tradisional, sampai yang kekinian seperti fluffy pancake.

Nah, fluffy pancake juga berhubungan dengan sains!

Kalau begini, mungkin rasa ingin tahuku tentang dunia makanan bisa semakin terpenuhi.

Dulu, memamg aku sebatas menyukai makanan dari cita rasanya. Lama-kelamaan, sepertinya aku ingin tahu soal makanan sampai ke bagian atom-atom penyusunnya. Menurutku, makanan adalah hal yang luar biasa. Sedikit perubahan, bisa membawa cita rasa baru dan menambah #XperienceSeru dalam hidup!

 

You may also like...

20 Comments

  1. Suka banget dengan istilah makan juga bikin hidup lebih hidup, ya. Karena kita bukan sekadar perlu untuk hidup tapi juga harus bisa menikmati, mensyukuri dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya

  2. Suka banget dengan istilah makan juga bikin hidup lebih hidup, ya. Karena kita bukan sekadar perlu untuk hidup tapi juga harus bisa menikmati, mensyukuri dan memanfaatkan dengan sebaik-baiknya

  3. Lumayan juga ya harga kursusnya. Tapi kalau udah passion, apa pun tetap dijabanin, ya. Semoga sukses!

  4. Seru banget sih mba afifah pengalamannya menggunakan traveloka xperience nyaa… aku ngga kefikiran lho untuk mempelajari yang mba afifah ingin pelajari.. duh maunya langsung makan aja deh, tanpa mau cari tau lebih tentang anatomi makanan per bagiannya.. nice xperience banget mbak

  5. seru banget ya bisa meningkatkan skill dengan kursus dan workshop di traveloka xperience, aku jadi pengen juga deh..hmm kursus apa yang seru ya

  6. Senang ya sekarang Traveloka semakin lengkap. Apa lagi sudah ada menu untuk workshop dan kursus. Terus juga sering banyak diskon juga 🙂

  7. Asyiknya ya di Traveloka Xperience ini bisa ikutan kursus/workshop, salah satunya cooking ini. Duh, jadi ikutan kepoin Traveloka Xperience nih. Aku tertarik nih yang bagian sports dan workshop untuk anak-anak. Lumayan yah bisa dapat harga lebih murah disitu.

  8. Aku jadi pengeeen memanfaatkan juga niiih experience ini … dan sepertinya banyak juga yang pengalaman seru yang bisa kita nikmati yaaa

  9. Traveloka memang kompliiit! Bahkan ada kursus memasak juga ya…
    Nanti kalau sudah lulus, lanjut buat restoran,Mbak 😀

  10. Wah info yg penting banget buat anakku. Dia kuliah di jurusan teknologi pangan. Perlu banget ikut workshop di luar kampus buat melengkapi ilmunya.

  11. “Kitchen is a labolatorium”, hmmm… betul juga ya Mbak. Dalem bangeeeet, saya yang tukang masak di rumah jadi merenung….

  12. Wah asyik nih dgn Traveloka Xpererience sekarang jd lebih gampang ya utk eksplor kuliner juga..

  13. Astaga Fifah. Ga sangka kamu pernah sefreak itu. Mosok minum minuman diet hanya biar cepet kenyang aja drpd ngunyah makanan hahaha
    Untung kamu kecemplung di dunia gizi. Ayolah klo gitu kita Order makanan di Traveloka lagi hehe

  14. wah. aku jug apaling suka wisata kuliner… meski setelah itu harus ditebus dengan olahraga buat bakar kalori ribuan yang dah masuk perut. eh olaharaganya guma bisa ngebakar beberapa puluh atau ratus saja.. tekor deh lemaknya. Tapi tetap cinta kuliner.. cinta wisata kuliner

  15. Aku juga pengen loh fifah kursus gitu jadi nggak sekadar menikmati makanan tapi bisa mewujudkan makanan yang aku suka di dapur khususnya dessert. Nabung oven dulu deh kalo gitu hehehe

  16. Duh cerita perjalanan mulai kuliah sampai sekarang terasa hidup banget. Salut saya jadi tertampar juga nih akan beberapa makanan yang selama ini saya pilih pilih.
    Niat kursus kelas memasaknya semoga tercapai ya Mbak. Amin…

  17. Wah ternyata Fifah jurusan ilmu gizi ya. Bisa tahu banyak dong tentang masalah makanan dan kandungannya. Btw tentang layanan kursus atau workshop di fitur Traveloka Xperience ini bikin aku bahagia banget loh jadi bisa tahu ada kegiatan positif apa saja di kotaku yang dapat diikuti.

  18. Aku baru nyadar lho kalau ada kursus atau WS juga dan bisa melalui Traveloka Xperience daftarnya keren mbak. Jadi pengen ngulik juga soal Traveloka Xperience dan ikutan kursus jg soal makanan2 gtu. APalagi kalau baking dan cooking supaya ada preferensi rasa dan jenis makanan lain yg tersaji di meja makan haha

  19. Keren banget, dulunya nggak suka sayur terpaksa makan sayur dan jadi suka wkwk.
    Oh ya, yang Traveloka Xperience lengkap banget ya, saya kira cuman ada tempat wisata doang, ternyata kursus juga ada.

  20. oh iya juga ya, lumayan ini promo2 makananannya .
    bisa makan2 sama teman juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *