Mungkin, mie adalah berada di urutan ke-5 dari daftar hal yang aku cintai. Tuhan, manusia, sandang, papan, gadget, dan mie. Aku nggak bisa hidup tanpa yang tiga teratas. Aku masih bisa hidup tanpa mie, mungkin selama beberapa waktu. Tapi, selagi ada kesempatan untuk hidup bersama mie, why not?

Karena masih ada di urutan 5 besar, cinta ini akan selalu aku perjuangkan. Mie, di mana pun itu, selalu membuat penasaran. Salah satunya Mie Ayam Bintaro yang kata orang enaaaak banget. Aku bahkan nggak tahu Bintaro itu sebelah mananya Bogor. Tapi, demi mie, baiklah.

Beruntunglah tinggal di Jabodetabek. Mau pergi dari satu kota ke kota lain mudah. Big thanks to PT KAI dan ojek online.

Jadi, hari itu aku lintas dua kota, Jakarta dan Tangerang, hanya untuk makan mie. Yaa, mungkin PT perlu mempertimbangkan commuter line langsung Bogor-Tangerang.

Setelah sempat berjubel di kereta, sampailah aku di Stasiun Sudimara. Sebetulnya, sempat galau mau turun di Sudimara atau Juranmangu. Tapi, akhirnya aku pilih Sudimara karena lebih dekat. Beda beberapa ratus meter saja, sih.

Lokasinya di Jalan Maleo Raya, Sektor 9. Dekat belokan tulisan “Maleo Residence”. Dekat Alfamart dan Prima Freshmart. Dekat Mesjid Raya Bintaro.

Lokasi-tempat-miabi-mie-ayam-bintaro

Untuk tempat mie ayam yang konon enak, tempat ini tergolong sederhana. Di Bogor, sih, tempat mie ayam enak biasanya minimal di bangunan ruko. Ada, sih, mie ayam enak di gang kecil, semacam hidden treasure.

Nah, Mie Ayam Bintaro alias MiABi ini bukan di ruko, bukan pula di gang kecil. Semacam bangunan yang dibagi 2. Kiri untuk MiABi, kanan untuk tempat makan lain.

Waktu aku datang, tempat ini masih ditutup kerai. Sempat ragu juga sudah buka atau belum. Tapi, ternyata sudah. Mungkin setting-nya memang begitu.

Waktu masuk, barulah sadar fungsi kerai yang sebenarnya. Menghalau matahari pagi itu. Zaman sekarang, di Jabodetabek, pagi-pagi sudah panaaas. Huhu.

Bagian dalam MiABi nggak terlalu besar. Ada meja di sekitar teras, ada juga yang agak di dalam. Standar warung-warung bakso.

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah mesin pembuat kopi. Di situ, aku langsung terpikir, “Zaman sekarang, tempat mie ayam aja punya coffee maker, rumahku kapan punya juga?” Di rumah bikin kopinya masih diaduk manual. 😂 *malah curhat*

Karena coffee maker itulah, aku langsung tahu mau pesan apa: kopi. Mie ayamnya malah belum kepikiran. Galau dulu antara kuah pisah atau disatukan.

Menu-mie-ayam-bintaro-miabi

Aku pesan Vanilla Latte karena sekiranya itu yang paling banyak susunya. Masih pagi, nggak boleh minum kopi banyak-banyak sebelum sarapan. Tadinya, aku pesan yang dingin, tapi jadi yang panas karena masih pagi dan aku pikir, es dalam kopi pasti bentuknya es batu. Aku nggak suka es batu.

Makanannya, setelah bergalau ria, akhirnya aku pesan mie yamin. Dipikir-pikir, aku mau coba mie dan kuah secara terpisah. Nyeruput kuah ‘kan ada kenikmatan tersendiri. 😁

Waktu lihat menu lagi untuk memastikan pilihan, aku baru sadar yaminnya ada pilihan manis atau pedas. Yah, itu mah dari tadi nggak usah galau. Sudah pasti pilihannya: yamin pedas! Dengan pelengkap komplit. Bakso dan pangsit.

Seumur hidup, aku baru tahu ada yamin pedas. I was so excited. Yamin dan pedas harus menjadi perpaduan indah hari itu.

Yang pertama datang adalah kopinya. Aku sempat mengira akan diberi cangkir atau gelas pendek. Minuman panas biasanya gitu, ‘kan? Ternyata, diberi gelas tinggi. Vanilla latter-nya dibuat berlapis seperti di cafe. The first beautiful thing I saw that day. Bersamaan dengan minum, diberi juga sendok teh panjang dan gula sachet. Supaya bisa menyesuaikan selera manis masing-masing kali, ya.

Karena masih panas, jadi nggak langsung aku minum. Lagian, tiap pesan minuman selain air mineral, aku hampir selalu baru minum setelah makanan habis. Hal terbaik dari minuman tanpa es batu adalah nggak perlu takut es batu mencair dan bikin minum jadi hambar.

Then, mie yamin datang. Merah merona. Cabainya seperti langsung memberikan tatapan cinta. Pangsitnya pangsit goreng. Nggak kefoto karena ketinggalan di meja sebelah. Da aku mah biar fotonya cakepan dikit mau makan aja segala pindah meja padahal hasilnya belum secakep yang motret. 😂

Kebanyakan motret, kasihan mienya menunggu.

Pertama yang harus dicoba tentu kuahnya. Rasa kuahnya clear, pure. Umm… apa, ya, istilah yang tepat? Pokoknya, memang rasa kaldu saja. Kalaupun ada rasa gurih, tipiiiissss banget. No rasa msg sama sekali.

Nah, mienya. Yang paling pertama terasa adalah pedasnya. Plus, sedikit manis. Tapi, ya, pedas. Aku bahagia banget menemukan yamin pedas ini. Seumur hidup aku nggak pernah makan yamin ditambah sambal karena nggak suka segala macam sambal. Tapi, aku ‘kan suka pedas. Jadi, ini menu ini adalah hero banget buatku.

Oh, ya, mienya berasa banget homemade. Totally different from other yamin. Sayurannya fresh. Ayamnya bersih. Nggak ada tulang-tulangan atau hal yang nggak aku suka lainnya. Yaaa, ada sih. Sedikit.

Sayangnya, baksonya buatku, sih, agak lembek. Tapi, nggak terlalu masalah karena mienya sudah cukup membuat bahagia.

Dan, pangsitnya, aku no comment. Atuh pangsit goreng apa yang mau dikomentarin. 😂 Isinya bersih, sih, menurutku.

Porsi mie ayam dan segala pelengkapnya cukup membuat perut full, tapi bukan yang sampai engap gitu. Tapi lagi, porsi segitu dan rasa pedas sudah sukses bikin aku makannya lama. 😁

Okay, lanjut ke kopi. At first, aku kaget. Kok pahit? Lalu, baru ingat belum dikasih gula. Kopi dan fresh milk saja gimana nggak pahit coba? Kebiasaan minum kopi di cafe yang langsung manis.

Nah, setelah diberi gula, baru deh syok hilang dan bisa tahu rasa kopinya. Rasanya mirip yang di cafe gitu. Fresh milk-nya dominan. Namanya juga vanilla latte.

Nah, sebetulnya aku agak menyesal memesan kopi panas hanya karena nggak mau es batu. Ternyata, di sini es batunya terbuat dari kopi. Jadi, nggak perlu takut minuman jadi hambar karena es mencair.

Selain yamin, di sini juga ada mie ayam dan mie tauge. Mie ayam dan mie yamin sudah tahu ‘kan bedanya? Mie ayam yang kuahnya disatukan. Yang kuahnya pisah itu mie yamin dan mie tauge. Mie tauge mirip yamin, tapi sayurannya ditambah tauge.

Anyway, mie di sini memang mereka buat sendiri. Kata pemiliknya, mie yang mereka buat tanpa pengawet, tanpa pengenyal, ataupun zat-zat kimia berbahaya lainnya. Msg? Pakai, sih. Sedikiiitttt. Masih dalam takaran aman. Yaa, lagian msg dalam batas aman memang ada manfaatnya kok. Tapi, panjang kalau aku ceramah tentang itu.

Pemilik Mie Ayam Bintaro ini mau susah-payah trial-and-error resep tanpa zat-zat kimia berbahaya supaya mie ini juga bisa dimakan keluarga mereka. Sebagai mantan dokter, beliau nggak mau deh jualan yang meracuni orang lain cuma demi keluarga bisa makan madu.

Satu-satunya yang nggak homemade adalah baksonya. Kenapa? Karena membuat bakso tanpa zat pengenyal ternyata susah. Tapi, bakso yang ada di sini sudah dipilih yang paling aman.

Bahan-bahan yang digunakan di MiABi diusahakan yang halal. Again, karena pada akhirnya pemilik dan keluarga pasti ikut mengonsumsi. Semoga sertifikat MUI-nya segera terbit, ya, Bu.

Selain mie ayam, idola di tempat ini adalah nasi uduknya. Tapi, aku nggak coba karena … sudah terbayang pempek dan nasi tim. Dua menu ini akhirnya aku bawa pulang.

Aku nggak sempat foto-foto untuk pempek dan nasi tim. Tangerang-Bogor sukses bikin perut full jadi lapar lagi. Mana hujan dan kereta lama.

Dan, waktu menulis postingan ini aku sedih banget karena jadi kebayang MiABi lagi. Harga Rp30.000 untuk yamin komplit dengan rasa dan porsi segitu, bagiku sepadan. Apalagi, nggak pakai galau takut ini-itu yang biasanya menghantui kalau jajan mie sembarang.

Semoga MiABi buka cabang di Bogor. Ada delivery dari MiABi dan ojek online pun, tetap saja Bintaro jauh ‘kan. Walau konon cinta butuh perjuangan, kalau perjuangan ringan ‘kan lebih enak. ‘Kan kalau benar cinta mah nggak akan lepas. 😁

You may also like...

12 Comments

  1. Saya suka kuah yang tipis rasa gurihnya. Aman buat tenggorokan.
    Nama mienya mirip artis yg ituuu yaa .

  2. Mienya kelihatan mantep mbak ….baca artikel jenengan jadi kriuk kriuk perutku mbak hehehe

  3. Duh, mbak. Liat foto-fotonya udah bikin ngiler. Catchy pula namanya, MiABi 🙂

  4. Aduh lagi asyik baca malah jadi ngiler pengin mie ayamnya hehehe

  5. Saya jg baru tahu kl sebenarnya lbh enak makan mie tanpa banjir kuah. krn katanya sih, pas kuah ditumpahin ilang semua tuh bumbu kesapu sama air kuah :)))))

  6. Meski sederhana yg penting rasanya ena, ya mba. Eh tapi kadang makan bakso dan mie ayam itu enaknya memang di tempat begini deh, santai. Ada angin segar. Harganya mayan ya mba buat ukuran mie ayam bakso =24 k. Hmm tapi kalau enak kenapa tidak.

  7. Duh, tampak menggoda sekali mie ayamnya. Jadi kepingin makan juga. Setelah dipikir-pikir sudah lumayan lama aku tidak makan mie ayam. Siang nanti mampir ke tempat warung mie ayam favorit ah…

  8. wah unik banget ya, es kopinya ditambah es batu kopi. Hmm jadi ngiler saya pengen makan MiAbi di Bintaro, haruskah kuikuti dirimu naik CL dari Bojong Gede ke Sudimara? hihi

  9. tapi hasil fotonya bagus deh..bikin orang pingin nyoba juga

  10. Aduh siang-siang baca post ini, aku jadi laperrr XD
    Apalagi Mie salah satu makanan yang paling aku suka, Hmmm Sedapp tuh

  11. Lihat foto mie dengan cabe merah merona, langsung terbit air liur. T.T
    Nice article!

  12. Aiiiih, bikin ngencess aja Mb

    Belum nemuin mie ayam yang menohok hati di Medan ini

    Salam kenal, Mb Afifah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *