Opinion

Minimalisme: Kesederhanaan untuk Kehidupan Maksimal

Minimalisme

 

Aku dekat dengan konsep minimalis berkat kecintaanku pada flat lay photography.

Awalnya, aku sekadar iseng hanya menempatkan sedikit objek dalam satu frame. Aku ingin mendapatkan negative space yang luas. Apa itu negative space? Ruang di sekitar objek foto.

Walau namanya “negatif”, ternyata dia justru membawa efek positif. Luasnya negative space memberikan efek lapang  dan tenang. Objek yang sedikit membuat mata lebih fokus terhadap setiap elemen. Ruang kosong yang luas pun semakin membuat mata lebih fokus terhadap objek. Ruang kosong memberikan dampak rasa nyaman dan tidak ruwet bagiku.

Negative space book photography

Dari style fotografi tersebut, aku semacam mendapatkan pencerahan: bahwa hidup nggak perlu punya banyak-banyak barang. Sedikit saja cukup selama bisa fokus dengan setiap yang dimiliki. Fokus dan mampu memanfaatkannya sebaik-sebaiknya.

Sudahkah Minimalis? 

Pada dasarnya, aku memang bukan pencinta benda mati. Kalau diajak teman ke toko pernak-pernik, aku cuma akan “krik krik”, melihat sekeliling tanpa benar-benar ada yang ingin aku miliki. Aku nggak begitu tertarik dengan barang lucu yang fungsinya bisa aku dapatkan dari barang sudah aku punya di rumah.

Kalau ke toko pakaian? Yah, pernah, sih, ada tahun ketika aku suka membeli pakaian, bahkan membeli tas secara impulsif. Tapi, percaya, deh. Itu pun nggak banyak. Beli tas impulsif itu cuma sekali. Pakaian yang dibeli juga kayaknya nggak lebih dari sepuluh dalam setahun itu.

Begitu ganti tahun, aku kembali ke fase ketika aku nggak begitu minat dengan pakaian. Bukan karena aku nggak suka, sih, tapi lebih karena jarang ada yang membuatku ingin menggunakannya berkali-kali. Jadi, kalau ada tantangan untuk nggak beli baju selama beberapa bulan, kemungkinan besar aku bisa lulus. Hehe.

Nah, mungkin sisi diriku yang agak boros adalah dalam hal buku. Mengeluarkan ratusan ribu per bulan sudah bukan hal asing. Dibaca semua? Tadinya iya. Tapi, lama-lama aku menjadi book hoarder. Kecepatan membaca nggak sebanding dengan kecepatan membeli. Belum lagi, ada buku-buku gratisan. Sudah jadi tinggi banget tumpukan buku yang belum dibaca.

Jadi, yan, pada dasarnya aku pikir hidup minimalis itu mudah, kecuali dalam hal buku. Hehe.

Namun, semua berubah ketika aku menemukan suatu buku.

Hal-hal yang Mengantarkan Perubahan

Memang, ada sebuah buku yang sangat berpengaruh dalam perjalanan keminimalisanku. Di samping itu, ada dua hal lain yang juga mengantarkan perubahan. Ini aku bahas satu per satu, ya. Dimulai dari yang paling pertama aku terapkan.

Konsep Zero Waste

Aku menemukan konsep gaya hidup zero waste secara nggak sengaja. Lalu, isenglah coba-coba. Dari sana, aku belajar untuk lebih thoughtful.

Minim sampah bukan sekadar sampah yang ada di rumah kita. Kita juga perlu memikirkan sampah sejak proses produksi. Memang kita nggak tahu pasti bagaimana proses produksi, tapi pasti ada sampah yang dihasilkan oleh industri.

Semakin banyak yang dibeli, akan semakin banyak juga yang dibuat. Yang sudah dibuat itu, belum tentu semua akan dikonsumsi, ‘kan? Mungkin ada makanan-makanan yang berakhir kedaluwarsa. Mungkin ada pakaian yang tidak terjual lagi. Belum lagi, ada barang-barang yang defek yang memang nggak diperjualbelikan.

Belum lagi, polusi yang ditimbulkan untuk mengangkut barang ke toko. Ditambah lagi polusi dari toko ke rumah kita.

Apa lagi kalau naik kendaraan ke Indomaret padahal bisa jalan kaki. Hehe.

Menghitung carbon footprint mungkin sama seperti menghitung uang tabungan. Sama-sama bisa membuat berhenti jajan. Bahkan, mungkin lebih baik menghitung carbon footprint kalau uang melimpah sampai nggak takut habis.

Jejak karbon adalah

Dari sekadar menghitung sampah yang dihasilkan dari konsumsi setiap minggu, aku jadi belajar banyak soal zero waste. Tadinya, aku cuma menghitung berapa sachet dari cemilan yang aku makan. Lama-lama, kepikiran soal kelangsungan hayati.

Bahkan, aku mulai bisa menahan beli buku kalau belum pasti kapan akan dibaca. Karena yah, buku asalnya dari kertas. Kertas dari pohon. Kalau cuma jadi terpendam di rak, kasihan pohon yang sudah dikorbankan.

Aku juga makin pilih-pilih soal brand. Kalau ada brand yang merusak alam tanpa timbal balik, ya sudah aku tinggalkan. Begitu juga kalau ada brand yang perburuhannya nggak manusiawi.

Nah, kan. Makin sedikit pilihan jajan. Tapi, justru karena itulah makin nggak mudah tergoda.

Buku Marie Kondo

Karya Marie Kondo yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up benar-benar membawa perubahan seperti judulnya. Buku tersebut menjabarkan seni berbenah ala KonMari.

Aku sudah membaca banyak ulasan buku tersebut. Aku pun merasa sudah menangkap konsep “spark joy” dari berbagai ulasan. Sudah juga berusaha menerapkannya. Makanya, semula aku merasa nggak perlu membaca buku itu.

Lalu, suatu saat, aku terpanggil untuk membacanya. Dan, ternyata, buku tersebut lebih persuasif daripada yang aku kira.

Segera saja aku menerapkannya walau nggak semua bisa dilakukan di tempat tinggalku saat ini. Pun, aku mengganti langkah berterima kasih kepada benda mati dengan langkah yang lebih sesuai dengan keyakinan. Aku juga nggak betul-betul membuang seperti anjuran di buku. Ini Indonesia, kalau langsung buang, cuma akan berakhir di TPA. Harus dipilah dulu. Intinya, aku menerapkan metode KonMari dengan improvisasi menyesuaikan keadaan diri.

Hasilnya?

Aku pikir jarang membeli baju. Apalagi, lemariku nggak besar: lemari kayu untuk pakaian gantung dan 2 atau 3 laci lemari plastik untuk pakaian lain. Tapi, setelah ditumpahkan semua, ternyata banyak.

Setelah dipilih-pilih, pakaian-pakaianku cuma perlu satu lemari plastik model empat laci. Itu pun nggak penuh dengan pakaian. Apalagi karena aku menerapkan cara melipat dan menata ala KonMari, laci jadi terasa lapang.

Melihat laci yang lapang, rasanya hidup lebih lapang dan teratur. Jadi, walau masih banyak space, betul-betul nggak ada keinginan untuk membuatnya penuh lagi. Aku bahagia melihat banyak negative space di laci.

Bentuk hasil lipatannya seperti ini dan bisa diberdirikan.

Buku-buku juga berhasil disingkirkan hampir setengahnya. Semula, aku menyimpan buku di sisi lemari kayu yang bersekat, di laci lemari plastik, dan tempat lainnya. Semua itu aku cek satu per satu.

Aku menimbang beberapa hal sebelum memasukkan suatu buku ke daftar “bye“. Aku pikir akan sulit melepas buku, ternyata nggak sesulit dugaanku. Buku-buku sekarang tinggal beberapa buah di sisi kamar.

Selama ini, aku pikir semua barang yang aku punya sudah hasil yang pilih dan aku suka. Yah, memang yang aku punya hasil yang pilih dan aku suka, tapi begitu menerapkan cara KonMari, aku menemukan hal lain.

Semua barang (per kategori) dikumpulkan di suatu tempat untuk dipilih. Lalu, setiap dipegang satu per satu. Di situlah terasa mana yang benar-benar ingin disimpan, mana yang ingin dilepas. Dan, ada usaha memositifkan pikiran bahwa sesuatu yang dilepas bukan berarti karena tidak berharga.

Begitu selesai, rasanya legaaaa. Apalagi, aku juga melepas lemari kayu. Makin lega. Seolah ada aliran energi baru.

Dipikir-pikir, melepas barang memang mengalirkan energi, sih. Apalagi kalau nggak sekadar dibuang ke TPA. Misal, dikirimkan ke bank sampah. Di bank sampah mungkin akan di daur ulang. Artinya, energi yang tersimpan di dalam benda itu akan mengalir dan berubah menjadi energi baru.

Teman yang Menginspirasi

Aku sedang chat dengan seorang teman. Aku lupa membahas apa, tapi tiba-tiba temanku bilang bahwa benda yang kita miliki akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Jleb.

Betul banget.

Tapi, kenapa aku bisa terlewat hal semacam itu? Entahlah.

Setelah dibilang seperti itu, barulah teringat tentang pertanggungjawaban.

Kebayang, ‘kan, sekadar pulpen saja bisa menjadi saksi di akhirat?

Lalu, gimana dengan barang-barang yang dibeli secara impulsif? Kalau nggak dimanfaatkan dengan baik, namanya menyia-nyiakan harta.

Sebetulnya, cuma mengingat hal itu saja sudah bisa membuat berhenti jajan nggak penting. Membayangkan carbon footprint mungkin masih bisa bilang “Ah, sekali-sekali” atau “Carbon footprint-nya kecil kok”. Kalau membayangkan barang yang dimiliki akan dipertanggungjawabkan kelak, mau denial apa lagi?

Membeli suatu barang mungkin bisa membuat senang dan “mewaraskan diri”. Tapi, yah, perkataan temanku bikin aku berusaha sabar dengan membayangkan the greater good.

Aku memang belum sempurna dalam menerapkan hidup minimalis. Hal yang paling ingin aku meminimalkan adalah sampah, baik sampah kasat mata atau sampah tak kasat mata. Menjaga barang-barang pun perlu terus dilakukan supaya awet. Menambah skill untuk hal-hal hidup dasar juga masih perlu dilakukan supaya ketika butuh sesuatu, bisa upcycle dari barang yang ada.

Bagiku, minimalis bukan cuma soal seberapa sedikit/banyak benda mati yang dimiliki. Jauh lebih dari itu, minimalis bisa membantu hidup lebih sustainable.

Minimalist lifestyle dapat memaksimalkan kehidupan. Memaksimalkan manfaat dari yang telah dimiliki. Memaksimalkan kreativitas supaya bisa lebih hemat. Dan, tentunya, dengan gaya hidup minimalis berarti belajar memaksimalkan syukur dari setiap yang dimiliki, baik itu benda, profesi, juga keluarga.

 

 

You may also like...

20 Comments

  1. eh iya barang yang kita beli nanti kan juga dipertanggungjawabkan di akhirat
    bener banget mbak pas buka lemari masa allah banyak yang udah enggak kepake dan begitu saja sia-sia disimpan
    harus terus bertekad nih hidup minimalis

  2. Masya Allah, saya dapat tambahan wawasan di sini. Mulai dari bagaimana Mbak Afifah punya insight tentang minimalis yang membawa kepada kehidupan maksimalis, juga cara melipat Konmari, dan negative space.
    Terima kasih, Mbak In syaa Allah akan jadi amal jariyah tulisan ini.

  3. aku pribadi masih menjalani nih mba untuk hidup seminimalis, semoga bisa seterusnya 😉 dan aku sangat setuju banget sederhana itu bisa membuat kehidupan kita jadi lebih maksimal malahan.

  4. Aduduuu..aku tertampar membaca ini. Melihat sekelilingku, betapa banyak yg harus kutata ulang. Konsep minimalis ini bagus ya..insya Allah aku akan belajar menerapkannya di hidupku.. TFS mba..

  5. Aku pikir, aku udah hidup minimalis. Tapi belum. Aku suka beli pulpen yang lucu2, padahal nulis tangan gak sering. Kayanya perlu baca buku Marie Kondo juga ini. Banyak teman yang nyaranin, cuma belum sempat nyari bukunya

  6. Aku juga udah mulai menyingkirkan barang2 yang nggak perlu. baju, buku, tas, tp tetep masih banyak jumlahnya. kayanya perlu disortir lagi

  7. Konsep minimalis bisa diteraokan untuk banyak hal ya. Dan hasilnya hak cuma mengurangi sampah saja. Btw kalau ada tantangan jarang beli baju, saya juga salah satunya. Hehehe saya beli baju setahun sekali saja. Serius. Kalau masih ada dan bisa dipakai ibadah (suci) rasanya ga mau saja nambah nambah. Benar, nanti dimintai pertanggungjawaban nya.

  8. alamak aku masih banyak barang-barang yang duh sayang nih kalau dikasiih yakni buku-buku karena pengennya kelak aku punya perpus kecil buat anak-anak mba hehehe..

  9. Aku inngin bergaya hidup minimalis. Misalkan dalam pemakaian air, soalnya emang kalau mandi cepat banget haha hemat air kan

  10. Kecepatan beli buku mengalahkan kecepatan membacanya bikin buku numpuk.

    Kalau lihat kondisi sekarang, banyak bencana akibat pemanasan global, perlu banget gaya hidup rendah emisi karbon diterapkan.

    Perlu diundangkan ga ya? Eh.

  11. Aku masih kerja keras mendispose segalan yg nggak perlu di rumah. Rencananya sebelum didispose aku jadiin konten daur ulang dulu. Ternyata bikin konten nggak bisa secepat yg kurencanakan, jadi harus cari cara biar rumah lebih lega dari barang2 yg nggak bermanfaat.

  12. Bener mbaa
    Setujuuu
    Idup minimalis bikin kita bener2 lebih menghargai sesuatu ya

  13. Konsp minimalis juga lagi aku terapkan di rumah, pinginya gak mau mau punya banyak barang supaya bisa beres2nnya lebih mudah soalnya gak ada yang bantuin.
    Mainan & buku2 anakjaman masih TK udah aku jual atau kasihkan ke sodara biar lebih luas spacenya di rumah

  14. Betul banget mbak, barang yang kita miliki akann dipertanggungjawabkan di akhirat. Ikut jlep juga menyadarkanku dari sifat borosku. Setelah baca tulisan ini rasanya benar juga. Kalau kita hidup minimalis, membuat rumah tertata rapi dan tak berantakan. Bahkan, kita akan semakin sadar untuk menabung karena tidak lagi tergoda untuk membeli barang-barang yang tak berguna. Terimakasih pencerahannya mbak.

  15. Terima kasih sudah diingatkan mba. Memang lama-kelamaan pengin juga ya hidup minimalis seperti ini. Sumpek juga lama-lama melihat barang di rumah terlalu banyak.
    Sama denganmu, kalau soal buku aku rada susah nih mau ngeremnya. Padahal ya lebih sering numpuknya daripada dibaca. Tsundoku gitu mba katanya istilah bagi orang yang gemar beli buku tapi enggak dibaca-baca. 🙂

  16. Awal tahun ini sering melihat teman teman yang mulai berbenah, musibah banjir menjadi salah satu motivasi untuk hidup lebih minimalis, karena yang lama tersimpan belum tentu terpakai dan akhirnya rusak karena musibah banjir.. aku sendiri walaupun tidak kebanjiran, sudah memulai hidup sederhana.. stop belanja barang yang tidak perlu dan gunakan barang yang ada..

  17. Ini yang ingin aku coba terapkan di rumah. Susahnya minta ampun. Dari tahun ke tahun makin bertambah lemari, kasur, selimut, kursi dan barang perintilan yang kecil-kecil yang bahkan bikin sesak. Ingin mulai berbanah rumah supaya nyaman dilihat.

  18. Yap yang terpenting bukan memiliki banyak barang ya Mbak, tapi bisa fokus meski hanya dengan sedikit barang. Saya juga sangat tertarik dengan konsep hidup minimalis. Lihat banyak barang di rumah dan kebanyakan juga nggak berfungsi sebagaimana mestinya bikin dada dan pikiran saya serasa ikut sesak. Sampai rada stress karena terlalu banyak barang juga iya. Bersih-bersih dan rapi-rapiinnya itu lho yang bikin stress . Kayak nggak ada habis-habisnya. Jadi mikir mungkin dengan konsep minimalis ini hidup saya bisa lebih hepi kali ya, cuma yah saya masih belum menerapkannya secara maksimal. Malah baru sekadar tertarik saja

  19. Wah gaya hidup minimalis sebetulnya yg dicontohkan. Rasulullah SAW juga ya..aku lg belajar juga nih..

  20. kalao ditanya sudah kah minimalis? saya pribadi masih mera belum nih mba, dan saat ini sedang mencoba menjalankan hidup minimalis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *