Hosting Murah

Sudah lebih dari setahun aku pindah dari hosting gratis di Blogspot ke hosting pribadi. Layanan hosting pribadi tentu saja berbayar. Pastinya, aku tetap mencari hosting murah.

Loh, ada yang gratis kok malah pilih yang bayar? Walau murah, tetap mending gratis, ‘kan?

Awalnya, sih, aku sekadar ikut-ikutan. Layanan hosting berbayar yang aku gunakan berbasis WordPress. Nah, menurutku, WordPress terlihat lebih menantang daripada Blogspot. Tampak banyak hal yang bisa diulik. Makanya, aku ingin pindah ke WordPress.

WordPress ada 2 macam. Ada WordPress gratis di WordPress.com. Ada juga WordPress yang berbayar.

WordPress yang gratisan itu terbatas banget fiturnya. Akhirnya, aku memilih yang berbayar.

Sebentar …

Sudah tahu, ‘kan, apa yang dimaksud dengan hosting?

Kalau belum, berikut aku kasih penjelasan singkat.

Hosting dan Domain

Suatu website membutuhkan 2 komponen penting, yaitu domain dan hosting. Untuk blog ini, domainnya adalah www.afifahmazaya.com. Hosting-nya hosting pribadi (self-hosting), menyewa ke penyedia layanan hosting.

  • Domain

Domain ada yang berbayar dan ada yang gratis juga. Yang gratis contohnya: www.afifahmazaya.blogspot.com atau www.afifahmazaya.wordpress.com. Duh, panjang, ya?

Biar lebih eye-catching, maunya nama yang lebih singkat, dong? Kayak www.afifahmazaya.com. Supaya bisa punya nama domain yang lebih singkat, perlu berbayar. Bayarnya ke penyedia layanan (provider). Kayak bayar sewa tahunan.

Masa cuma demi menyingkat nama, sampai pilih yang berbayar?

Tentu nggak, dong. Bukan cuma itu alasan beli domain.

Untuk blogger yang menjadikannya blognya lahan usaha, domain penting banget. Biasanya, klien mau blog yang domainnya sudah TLD (Top Level Domain), seperti .com, .id, .net, dan semacamnya. Bukan blog-blog gratisan seperti .blogspot.com atau .wordpress.com.

Jadi, bayar domain setahun cuma Rp100.000-an, tapi bisa mendapatkan peluang puluhan kali lipat.

Domain adalah

  • Hosting

Kadau diibaratkan:

Domain ibarat nama toko.

Hosting ibarat lahan untuk toko.

Misalnya, aku mau punya toko namanya Hijau Cerah. Kalau cuma nama, nggak akan jadi toko, ‘kan? Karena itu, perlu lahan untuk toko.

Kalau sudah ada lahan dan ada nama, baru deh toko bisa berjalan.

Lahan tersebut ada yang gratis. Misalnya, lahan di rumah. Tapi, tentu terbatas, dong. Mau mengubah ini-itu pun perlu musyawarah dengan anggota keluarga yang setiap hari ada di rumah, ‘kan? Hal ini berbeda kalau sewa lahan pertokoan.

Memang, sih, walau bisa diubah, perubahan yang diperbolehkan untuk lahan pertokoan mungkin nggak sampai sedrastis mengubah toko kecil menjadi punya ruang bawah tanah ataupun menjadi setinggi Monas. Tapi, setidaknya bisalah toko biasa diubah menjadi bergaya bergaya retro.

Karena itu, aku memilih sewa hosting pribadi. Sewa hosting ini juga ibarat sewa toko. Ragamnya rupa-rupa, kayak ragam lahan toko: lahan ruko, mall, lapangan, dll. Untuk website, ragamnya juga banyak dan yang aku pilih yang berbasis WordPress. Penyedia lahan persewaannya juga banyak. Tinggal pilih saja yang sesuai kebutuhan.

Kelebihan dan Kekurangan Hosting Pribadi

Semula, aku memang memilih hosting pribadi karena ikut-ikutan. Tapi, setelah diulik, memang enak banget, sih. Yaaa, kalau nggak enak, kayaknya aku sudah balik lagi ke hosting gratis di Blogspot, deh. Buat apa memilih yang berbayar kalau nggak enak, ‘kan?

Aku mungkin masih tergolong awam, tapi aku mau memberi tahu beberapa kelebihan dan kekurangan hosting pribadi berdasarkan pengalaman.

Kelebihan Hosting Pribadi

Beberapa kelebihan hosting pribadi berdasarkan pengalamanku menggunakan hosting pribadi berbasis WordPress.

  • Mobile Friendly 

Hosting yang aku gunakan berbasis WordPress dan WordPress memang mobile friendly banget.

Fyi, WordPress ada yang gratis, ada yang berbayar. Yang berbayar tentu saja fiturnya lebih banyak. Tapi, yang pasti, dua-duanya mobile friendly. Mudah banget untuk membuat postingan artikel melalui smartphone. Mau otak-atik hal lainnya juga bisa dilakukan di smartphone.

Well, salah satu alasan aku pindah dari Blogspot ke WordPress memang karena WordPress lebih mobile friendly, sih. Lalu, alasan aku memilih WordPress berbayar karena fiturnya lebih lengkap.

Nah, saking mobile friendly-nya WordPress, aku jarang banget buka laptop. Sebagian besar postingan setahun belakangan aku post dari Smartphone.

Ini tampilan ketika membuat postingan. Ada juga versi blok-blok gitu, lebih sederhana dan lebih mengatur format tulisan. Tapi, aku lebih suka tampilan seperti ini.

Tampilan WordPress

  • Mudah untuk Customize

Mau membuat website ala blog sederhana bisa. Mau membuat website ala web-web besar bisa.

Kalau mau menampilkan fitur ini-itu di dalam blog, nggak perlu ribet. Tinggal download plugin yang diinginkan di halaman dashboard. Nggak perlu mengulik-ulik kode html.

WordPress punya banyak banget pilihan plugin untuk pengguna hosting pribadi. Tinggal masuk ke halaman “Plugin” di dashboard blog, cari deh plugin yang diinginkan.

Plugin penerjemahan

  • Ada Customer Service yang Siap Membantu

Kok artikel hilang?

Kenapa blog nggak bisa dibuka?

Kok nggak bisa upload gambar?

Hal yang membuatku lebih tenang ketika menggunakan hosting pribadi adalah karena ada customer support yang siap membantu. Penyedia layanan hosting biasanya mempunyai cs-cs dan teknisi-teknisi yang bisa menjadi penyelamat kebingungan.

Dulu banget, aku pernah kehilangan blog gratisan. Lenyap begitu saja, mendadak. Mau komplain pun, komplain ke mana?

Kalau blog dengan hosting pribadi begini, aku yakin teknisi penyedia layanan siap membantu. Amit-amit sih kalau sampai blog ini lenyap tiba-tiba, tapi setidaknya ada penyedia layanan yang bisa membantu mempertanggungjawabkan.

Karena itu, penting banget memilih provider yang menyediakan layanan cs 24 jam 7 hari seminggu. Begitu ada kendala, langsung bisa dihubungi.

  • Nggak Perlu Khawatir Provider Menghentikan Layanan

Hal ini agak beda dengan kasus blogku yang lenyap, ya.

Yang aku maksud di sini adalah berapa banyak penyedia lahan blog dan media sosial mengentikan layanannya? Dulu ada Multiply dan Friendster. Media sosial kepunyaan Google, Google Plus, sekarang juga sudah nggak ada.

Bukan nggak mungkin tiba-tiba Blogspot dihapuskan juga. Kan suka-suka yang punya lahan.

Memang, semisal Blogspot atau blog gratis lain dihapuskan, kemungkinan akan ada pemberitahuan lebih dulu. Lalu, kita bisa mem-back up data dari blog itu. Tapi, tetap saja mulai dari dasar butuh waktu cukup lama.

Di lain pihak, seandainya provider hosting berbayar juga mau menghentikan layanannya, setidaknya kita nggak perlu patah hati lama-lama. Masih banyak penyedia jasa hosting Indonesia lainnya. Kita tinggal pindah saja ke provider lainnya. Nggak perlu mulai dari dasar karena yang dipindah cuma “jeroannya”. (Tapi, jangan sampai deh provider menghentikan layanan).

Blogku ini baru pindahan (migrasi) dari penyedia layanan hosting lain ke Qwords. Prosesnya cepat banget. Selama proses migrasi, blog masih bisa diakses, seolah nggak ada perubahan apa pun pada blog.

Aku tinggal duduk manis karena teknisi Qwords yang mengurus migrasi.

Makanya, sejak pindah ke hosting pribadi kayaknya aku malah jarang otak-atik yang sampai bikin pusing. Lebih sering membuat pusing teknisi, sepertinya. Kalau ada apa-apa, langsung minta tolong teknisi. Terima kasih, ya, para teknisi.

Kekurangan Hosting Pribadi

Selain kelebihan, tentu ada kekurangan juga untuk hosting pribadi ini. Nah, kekurangannya adalah:

  • Berbayar

Kalau gratis, mungkin sempurna banget, deh. *Uhuk*

Tapi, nggak apa deh bayar, yang penting layanannya bikin nyaman.

Walau begitu, urusan bayar-membayar memang sensitif, sih. Dulu, aku pernah menggunakan layanan hosting yang harganya bikin sedih. Akhirnya, aku cari lagi hosting murah. Ketemulah Hosting murah dengan harga mulai dari Rp14.500/bulan. Aku menemukannya di Qwords.

Paket hosting yang kupilih yang Rp29.500/bulan untuk sewa setahun atau Rp52.500 kalau sewa bulanan. Aku bayarnya bulanan dulu karena baru coba-coba. Nggak apa, deh, Rp52.500 masih jauh lebih murah dibanding harga hosting lamaku.

Domainku juga beli di Qwords sejak beberapa tahun lalu. Jadi, sebetulnya aku cukup percaya sih dengan Qwords. Customer support-nya pun siap membantu 24 jam. Karena itu, aku pindah (migrasi) dari hosting yang agak mahal ke hosting murah di Qwords.

Lalu, bagaimana cara migrasi hosting ke Qwords?

Migrasi Hosting ke Qwords

Ini, nih. Super mudah. Aku hampir nggak melakukan apa pun selain beli dan bayar. Jadi, urutan migrasi hosting ke Qwords adalah sebagai berikut:

1. Beli paket hosting yang dibutuhkan. Bayar.

2. Akan muncul email berisi informasi login hosting. Simpan email tersebut.

3. Masuk ke halaman client area pada situs penyedia domain. Ganti nameserver menjadi nameserver Qwords (ada di email sebelumnya). 

Masuk ke bagian yang seperti ini.

Hosting murah

Ganti nameserver dengan nameserver Qwords. Ketik sesuai yang tertera pada email.

Hosting murah

4. Kontak technical support di Qwords untuk membantu proses migrasi data.

Beres.

Catatan: Langkah di atas adalah untuk migrasi alias bagi yang pernah menggunakan hosting pribadi dan ingin pindah ke Qwords. Aku mau menjelaskan cara memasang hosting baru dari 0, tapi khawatir ngaco karena aku kan melakukannya sudah lama banget. Jadi, mending kontak cs provider saja, ya.

Setelah melakukan keempat poin di atas, tinggal tunggu data-data dari cPanel lama dipindahkan ke cPanel dari Qwords oleh customer support. Nggak perlu buka cPanel dan back up satu per satu sendirian karena ada teknisi yang mengerjakannya.

Apakah aman memberikan username dan password seperti itu?

Insya Allah, aman. Sepengalamanku sih nggak ada hal aneh terjadi. Jadi sepertinya aman. Lagian, itu kan data login cPanel dari hosting lama. Sekarang, cPanel itu sudah nggak bisa dibuka karena expired.

Berapa lama proses migrasi?

Proses migrasiku sekitar 1 jam. Mungkin berbeda tiap klien. Tapi, berdasarkan klaim Qwords, proses migrasi hosting sehari pun bisa selesai. Lain lagi kalau migrasi domain.

Penting!

Oh, ya. Hal yang perlu diingat adalah poin 3 dan 4 jangan sampai tertukar.

Waktu itu, aku belum mengerti dan nggak melakukan poin 3. Jadi, begitu membuat postingan baru di blog, data masih menyangkut di cPanel lama. Ketika hosting lama expired, hilang deh postingan-postingan baru itu. Untungnya, dengan kekuatan cs-cs baik hati, postingan-postingan itu bisa muncul lagi.

Makanya, poin-poin di atas jangan ada yang tertukar.

Ya sudah. Begitu saja, sih. Intinya: beli hosting, ganti nameserver, kontak technical support.

Setelah itu, bisa blogging seperti biasa. Nggak ada yang berubah dari tampilan luar blog.

Hal yang berubah mungkin hati lebih lapang karena menemukan hosting murah Qwords.

 

 

You may also like...

14 Comments

  1. Asyik bener dah kalo pake QWords
    Layanannya prima, super duper recommended.
    Ngeblog jadi lancar jayaaaa

  2. Iya banyak yang bilang wordpress lebih variatif. Tapi aku udah telanjur pake blogspot dan beli domain juga. Tambahan aku gaptek hal beginian

  3. Sejak awal enggunakan domain berbayar, aku pakai QWords dan belmum berniat untuk ganti ke yang lain. Selain aku gaptek, kayanya udah nyaman deh sama Qwords

  4. Semua domainku beli di Qwords. Untuk hosting, belum sih soalnya aku males otak Atik wordpress. Mungkin suatu saat nanti jika sudah tercerahkan. Aku ada blog gratisan di sana juga

  5. Eh iya ya ternyata tampilannya memang lebih mobile friendly. Aku yang selama ini ngeblog pake HP kok merasa pengeeeeeeen juga migrasi. Hihihi. Soalnya kalau di blogspotkan fiturnya kecil-kecil banget kalau ngetik. Kudi dizoom dulu kalau mau pakai. Oke deh, semoga segera bisa migrasi juga ke hosting pribadi.

  6. Mudahnya migrasi ke Qwords ya mbak dan sesederhana gini. Aku juga punya blog lain yang pengen cari hosting terbaik juga. Jadi pengen ngulik Qwords lebih jauh.

  7. Aman ya hosting di qwords gak ada kendala? jadi solusi buat teman-teman yang mau pindah hosting nih kasihan juga melihat yang sering error hostingnya

    1. Iya, sejauh ini alhamdulillah nggak ada kendala.

  8. Pengetahuan baru buat saya mbak. Saya tipe yang kurang perhatikan detil dalam mwngerjkan sesuatu. Termasuk ngeblog. Hal2 teknis lebih banyak bikin saya pusing. Malah gak jadi nulis. Tapi jadi belajar dari blogger2 yang canggih2 sekarang.

    Salam kenal ya mbak 🙂

  9. Pengin juga sih punya blog yang pake hosting gini biar lebih lengkap fiturnya, mau otak-atik segala macamnya bebas ya karena kan punya sendiri hostingnya. Belajar dulu lah cara-caranya, agak mumet kalau pas teman2 yang punya blog wp pada diskusi, kurang paham dengan berbagai hal.

  10. Bener banget mbak wordpress lebih menantang ketimbang blogspot. Bahkan tampilannya kini makin keren. Tapi saya sampai saat ini masih pakai blogspot. Mudah-mudahan nanti bisa migrasi ke WP. Dan ini ilmu lagi nih buat saya tentang hosting…selama ini saya abai tentang ini. Asal ngeblog aja tanpa memperhatikan pirantinya. Terimakasih sharing ilmunya mbak.

  11. wah sama dong mba aku juga pakai jasa Qwords untuk blog aku yang sekarang. Emang mudah banget pakai Qwords. Menjelang masa akhir domain kita aja sering dapat pemberitahuannya. Jadi gak bakal lupa deh buat bayar dan nge-blog tetap jalan.

  12. Analoginya masuk banget mba, jadi ngerti daku yang masih newbie di dunia pembloggeran. Makasih sharing-nya. Aku juga pikir-pikir untuk migrasi ke hosting pribadi

  13. Aku pengen nih migrasiin blogku yang satunya. Udah rencana lama banget. Maunya sih tahun ini punya dua blog yang aktif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *