Kamu punya Pahlawan Nasional favorit? Siapa Pahlawan Nasional favoritmu?

Jujur saja, kalau aku ditanya begitu, mungkin penanya cukup berhenti di pertanyaan pertama. Jawabanku tidak lain tidak bukan:

Nggak.

Aku nggak punya Pahlawan Nasional favorit.

Karena jawaban tersebut, maka pertanyaan kedua mungkin kurang nyambung. Tapi, kalau masih mau bertanya lebih lanjut, bolehlah pertanyaan kedua diganti:

Kenapa nggak punya Pahlawan Nasional favorit?

Dan, jawabanku adalah . . .

Aku nggak bisa menangkap Pahlawan Nasional sebagai seorang individu saja. Ibaratnya, ketika mengingat Sukarno, maka otomatis teringat Moh. Hatta, Sayuti Melik, dan terbayang pula puluhan orang lainnya. Ketika membayangkan Dr. Soetomo, terbayang juga Goenawan Mangoenkoesoemo dan orang-orang lain di Budi Utomo. Pun, jelas dalam setiap pertempuran yang dipimpin “pahlawan bernama”, ada banyak “pahlawan tak bernama” yang juga turut andil.

(Tahu, ‘kan semua nama yang aku sebutkan? Aku nggak punya foto beliau-beliau dan aku nggak akan memajang gambar karikartur. Lagian, yang penting adalah memaknai perjuangan, bukan sekadar wajah, ‘kan?)

Otak Bertaktik

Berjuang demi kemerdakaan adalah tentang kerja tim. Satu kepala mungkin menjadi otak: menyusun strategi dan memberi impuls. Di sisi lain, kepala-kepala mempunya peran yang nggak kalah besar: sebagai penggerak.

Hal ini pun berlanjut dalam kehidupan kita sekarang, ‘kan? Sebagus-bagusnya kita bisa memotivasi orang lain, hanya motivasi dari dalam diri orang itulah yang bisa membuatnya terus bergerak.

Pun, ketika kita punya ide-ide cemerlang, akan lebih mudah kalau kita dikelilingi orang-orang yang memang mau ikut bergerak. Tinggal menebar ide, selanjutnya tinggal menuai. Sambil terus mengamati atau menjaga variabel-variabel lain supaya hasil tetap sesuai.

Kalau dikelilingi orang-orang yang sebaliknya, mungkin saja masih bergerak, entah dengan memaksa orang-orang itu atau dengan mencari orang-orang lain di luar lingkaran, tapi proses ini mungkin akan panjang. Salah-salah, seseorang yang mempunyai gagasan malah bisa mengalami anxiety karena faktor-faktor yang kurang sesuai keinginan.

Walau begitu, kualitas hero dibandingkan dengan orang biasa mungkin berbeda, ya. Seorang hero mungkin lebih tegus pendirian dan mental walau badai menerjang.

Memang menjadi pahlawan itu soal jiwa, sih.

Dengan kertebatasan yang ada, sering kali muncul ide-ide brilian.

Contohnya, taktik perang gerilya. Taktik ini justru bisa berhasil karena jumlah orang yang sedikit. Yaaa, bayangkan saja kalau bergerilya dengan ratusan orang, belum apa-apa bisa-bisa sudah ketahuan.

Taktik lain yang menurutku keren adalah taktik yang memanfaatkan penjajah. Mulai dari memanfaatkan pendidikan, baik pendidikan akademis maupun militer, sampai mendekati penjajah melalui kerja sama dengan mereka.

Dulu dan Sekarang

Jujur saja, gara-gara metode tersebut, aku sempat kepikiran mau mencoba kerja di tempat yang kurang baik dengan harapan mengambil ilmu dan gaji, sambil berharap bisa cukup menjatuhkan mereka. Dan,  sebagian gaji digunakan untuk membangun sesuatu yang baik. Haha. Dasar, pikiran fresh grad.

Tapi, dipikir-pikir lagi, aku kan belum tentu bisa kayak para pahlawan itu. Salah-salah, bisa terbawa arus. Selain itu, kalau kerja kan biasanya ada target. Terus, kalau mau gaji dan jabatan yang lebih baik, harus punya prestasi dulu di perusahaan, ‘kan? Prestasi itu bisa bikin perusahaan makin berkembang. Kalau perusahaan makin berkembang, berapa banyak lagi anak Indonesia harus jadi korban? Nggak make sense kayaknya kalau mau bikin sesuatu yang baik tapi mengorbankan banyak orang dulu. Jadi, sekarang, sih, bergerak di pijakan yang pasti-pasti saja dulu.

Kalau para pahlawan zaman dulu beda, ‘kan? Kerja sama dengan penjajah pun sepertinya nggak menelan banyak korban.

Jadi, kalau zaman sekarang mau mengurangi dampak buruk sesuatu yang kita anggap baik, sudah nggak berlaku deh bahwa kita bisa masuk ke akar yang buruk itu lalu mencabut dari dalam. Zaman sekarang, langsung saja bikin sesuatu yang baik dan dikembangkan. Nggak perlu buang waktu menengok hal buruk. Fokus pada kebaikan yang ingin dicapai.

Ibaratnya, kalau mau supaya perokok berkurang, rakyat kayak kita nggak mungkin menutup perusahaan rokok yang punya kekuasaan sebesar itu. Mau menggerogoti dari dalam pun, akarnya terlalu banyak. Yang bisa kita lakukan adalah tebar kampanye dan tebar kebaikan untuk mengurangi “lahan” penjualan rokok, produk untuk mengatasi kecanduan rokok, bikin perusahaan yang bisa menarik karyawan pabrik rokok supaya mau pindah kerja, menjadi sponsor beasiswa atas nama pribadi dengan personal branding antirokok ataupun atas nama perusahaan yang produknya baik, dan lain sebagainya.

Eh, ini aku bilang gini bukan karena isu yang lagi hits itu, ya.

Bagaimanapun, dunia saat ini lebih kompleks. Aku pribadi mengagumi taktik gerilya dan taktik kooperatif, tapi untuk diterapkan pada zaman ini, tentu perlu sesuatu yang lebih kompleks. Sekarang, mah, ngejahatin orang di satu sisi bumi saja, bisa dijahatin balik oleh orang di sisi lain bumi dalam hitungan detik karena jejaring yang cepat. Mesti hati-hati. Tapi, di sisi lain, perbuatan baik pun bisa lebih cepat tersebar juga. Jadi, kooperatif tetap perlu, tapi dengan syarat-syarat tertentu.

Bahasanku jadi ke mana-mana. Ya sudah, sudah dulu saja kali, ya.

 

You may also like...

1 Comment

  1. Wah tulisannya kenapa bisa dalam gitu ya .. saya bahkan nggak pernah terfikir sejauh itu.

    Btw. Sebagus-bagusnya kita bisa memotivasi orang lain, hanya motivasi dari dalam diri orang itulah yang bisa membuatnya terus bergerak.. Benar juga mbaak setuju 😉

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *