Kamu pernah pindah sekolah? Kali ini, aku mau cerita pengalaman pindah sekolah pertama kali. Dalam rangka nostalgia sekaligus ajang nulis bareng Kak Zelie.

Pengalaman pindah sekolah

Sebetulnya, pertama kali aku pindah sekolah adalah saat TK. Sekalian pindah rumah. Tapi, cerita itu skip saja, deh.

Aku cuma sekitar 2 minggu di TK pertama. Lalu, pindah. Jadi cuma seperti iseng-iseng sekolah saja di TK pertama. Sekolah betulannya baru setelah pindah.

Setahun di TK, lanjut ke SD. Sekolahnya bersebelahan.

Aku di SD itu hanya setahun lebih sedikit. Begitu naik kelas 2, sempat mencicipi kelas 2 di sana beberapa hari.

Sebelum Pindah

Aku sudah tahu akan pindah sekolah, jadi aku pun mulai jarang masuk di kelas 2 aeal itu. Di pikiranku: kan mau pindah, ngapain sering-sering masuk?

Aku nggak kepikiran akan ketinggalan pelajaran. Sotoynya sudah dari kecil, memang. Huhehe.

Nggak kepikiran juga sedih akan meninggalkan teman. Nggak ada teman SD di sana yang begitu dekat.

Kalau sekarang sih, sedih begitu mengingat-ingat. Sedih karena pernah menuangkan air minum ke kepala seorang teman.

Dan, seingatku, aku belum minta maaf tulus. Walau dulu kayaknya nggak ada dendam-dendaman, tetap saja sedih kalau diingat. Kok jahat banget.

Barangkali kamu yang sedang membaca tulisan ini pernah mengalami dituang air minum di kepala oleh teman, maaf yaa. Mungkin aku pelakunya. Mohon maaf lahir dan batin.

Pindah Sekolah!

Semua urusan pindah sekolah tentu saja diurus orang tua. Aku sama sekali nggak ikutan. Karena itu, aku nggak punya bayangan akan seperti apa sekolahku nanti.

Hari pertama ke sekolah baru. Diantar dong, pastinya.

Masuk ke suatu gang. Gang agak besar, sih. Mobil muat, seingatku.

Tapi, terus jalan belok … turun … turun …

Lalu, sampailah ke sebuah bangunan yang bahkan nggak aku ingat penampilan luarnya. Aku hanya ingat dalamnya: seperti koridor kecil kumuh gelap.

Ruang kelasnya hanya terdiri 2 baris meja. 1 meja diisi lebih dari 2 siswa.

Sekolah yang aneh.

Dulu, aku belum kenal berita tentang sekolah-sekilah terpencil. Jadi, segitu saja rasanya sudah terpencil.

Akses jalannya yang jauh dari jalan utama dan banyak tanjakan/turunan. Bangunannya yang membuat sedih. Kelas yang berdesakan.

Jendela? Seingatku nggak ada. Atau setidaknya nggak ada jendela setinggi anak SD. Aku lupa di bagian atas ruangan ada jendela atau tidak.

Lapangan sekolah? Ada lapangan terbuka yang kebetulan nggak jauh dari sekolah. Agak jeblok-jeblok gitu karena lapangan tanah. Tapi, yang penting bisa dipakai untuk pelajaran olahraga (walau aku nggak suka pelajaran ini).

Percaya nggak percaya, sekolah tersebut bagian dari Kota Bogor. Iya, di kota.

Dari jalan utama, mungkin nggak terlihat ada sisi lain seperti itu.

Aku pun mana kepikiran akan bersekolah di tempat seperti itu.

Dan, rupaya, semua itu adalah karena bangunan sekolah yang sesungguhnya sedang direnovasi.

Sambil menunggu selesai renovasi, beberapa kelas dipindah deh ke tempat yang seperti pelosok itu.

Untungnya, pengalaman pindah sekolah ke sekolah (yang mirip) sekolah terpencil itu nggak berlangsung lama. Ketika aku masih kelas 2 juga, bangunan sekolah selesai direnovasi.

Tada! Aku bisa sekolah di sekolah biasa. Sekolah dengan ruangan standar. Mejanya banyak berbaris-baris. Ada jendelanya. Ada lapangan juga.

Bukan sekolah yang besar, memang. Tapi, lumayan banget deh. Aksesnya pun nggak jauh dari jalan utama.

Banyak tukang jajan pun. Hehe.

Pindah sekolah

Walau sekolahnya unexpected, pengalaman sekolah di tempat sementara pun nggak buruk kok. Aku jadi bisa merasakan sedikit gambaran sekolah di tempat terpencil.

Kalau sekarang, kayaknya seru banget baca cerita teman-teman yang dulu sekolahnya betulan terpencil. Nah, sebetulnya aku pernah loh mencicipi sekolah yang seolah terpencil. Jadi, masa kecilku nggak hambar-hambar banget.

Pelajaran Pertama di Sekolah Baru

Di sekolah baru, banyak hal baru yang dirasakan. Selain pertama kalinya mengalami bersekolah di tempat sementara, di sana pun pertama kalinya aku … merasa nggak mengerti apa-apa.

Mungkin hal itu adalah buah kesotoyanku sebelum pindah. Jadilah ketinggalan pelajaran.

Begitu masuk sekolah baru, sudah masuk pelajaran dengan digit banyak.

Pelajaran pertama adalah Matematika. Pelajaran tentang tambah/kurang digit banyak. Entah ribuan, puluhan ribu atau ratusan, pokoknya lebih dari 3 digit seingatku.

Di situ rasanya aku ngambang. Penjelasan guru pun seperti lewat begitu saja.

Beliau bertanya sesuatu seperti “Anak baru ngerti?” Aku “iya-iya” saja.

Begitu mengerjakan soal … Bisa ditebaklah. Hasilnya? Nilai jelek pertama! Haha.

Kalau sekarang dipikirkan, aku bahkan nggak tahu bagaimana dulu bisa survive. Tiba-tiba bisa mengejar ketertinggalan. Bisa ranking pulak. Alhamdulillah.

Yang pasti, sih, flashback begini bikin aku makin sadar: setiap orang punya cara belajar yang berbeda.

Di sekolah itu juga, pertama kalinya aku kenal dengan anak-anak yang aku anggap sangat pintar. Dan pintar bukan cuma soal pelajaran tulisan.

Teman sebangku pintar menggambar!

Di situlah aku mengenal yang namanya bakat.

Banyak hal-hal di luar pelajaran sekolah yang aku pelajari selama bersekolah di sana. Tentang nggak boleh looking down ke orang lain. Juga tentang bullying kecil-kecilan. Tentang cara berteman. Bahkan tentang bubur sumsum.

Dan, begitu naik ke kelas 4, aku pindah sekolah lagi. Berubah lagi seolah menjadi individu berbeda.

You may also like...

1 Comment

  1. Ya ampun, kamu dari kecil udah sotoy :”

    Aku punya pengalaman mirip gini,tapi rada absurd, sih. Kapan-kapan aku ceritain juga, deh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *