Lanjutan postingan kemarin. Seperti sudah kujanjikan *janji?*, aku akan memberi tahu hal negatif kualami kemarin. Mungkin bagi sebagian orang, hal ini tidak terlalu mengannggu, tetapi bagi sebagian yang lain cukup menanggu.
Kemarin, temanku terus bertanya “kapan s****g?”. Bisa diperkirakan sendiri huruf-huruf yang disensor. Aku tidak akan menulis secara jelas karena agak sensitif. Selain pertanyaan itu, ada banyak pertanyaan lain yang bisa menganggu dan semuanya diawali dengan kata depan yang sama: kapan.
Kapan lulus?
Kapan kerja?
Kapan nikah?
Kapan punya momongan?
Kapan nambah adik?
Dan kapan-kapan yang lain.

Satu pertanyaanku adalah: kapan berhenti bertanya seperti itu?

Menurutku, pertanyaan-pertanyaan itu lebih sering menimbulkan depresi daripada menunjukkan kepedulian. Siapa sih yang nggak mau lulus? Siapa sih yang nggak mau kerja? Orang-orang yang ditanya begitu pun pasti sudah berusaha, hanya saja belum rezeki. Kalau menanyakan hal seperti itu, kesannya penanya menganggap korban tidak melakukan usaha apa pun. Leha-leha, nggak berusaha menyelesaikan skripsi, nggak berusaha melamar kerja. Kita kan nggak tahu berapa tetes darah, keringat, dan air mata yang dia keluarkan. Kan sering ada tuh yang bilang bahwa manusia wajib berusaha, tapi Tuhan yang menentukan.

Pertanyaan lain yang nggak kalah bikin jengkel adalah “Kapan nikah?”. Siapa sih yang nggak mau nikah? Mungkin saja pasangannya masih menyiapkan banyak hal. Mungkin juga sudah sering menanyakan itu kepada pasangan tetapi belum mendapatkan jawaban pasti. Ditambah pertanyaan semacam itu dari orang lain . . . hmmm. Kalau kasusnya nggak jelas goal hubungan seperti apa, mending putusin aja deh. Hehe. Bagi yang belum tahu pasangannya siapa, jelas pertanyaan itu bisa membuat ingin garuk-garuk tembok. Daripada cuma nanya, mending bantuin cari jodoh.

Lalu, pertanyaan kapan punya momongan atau nambah adik. Duh, pikir-pikir deh kalau mau nanya. Memang sih ada pasangan yang nunda momongan, tapi kan kita nggak tahu betul-betul nunda atau sekadar jawaban manis “masih mau menikmati waktu berdua”. Bisa saja mereka sudah usaha sana-sini tapi memang belum dikasih. Kalau nggak bisa ngebiayain bayi tabung, mending nggak usah nanya. Mending doain aja semoga cepat dapat momongan.

Ada nggak pertanyaan lain yang bikin jengkel? Kapan punya rumah sendiri, mungkin? Atau kapan ganti hp? Udah deh, kalau nggak tahu kehidupan orang lain, nggak usah nanya kapan. Walaupun konteksnya bercanda, pertanyaan itu bisa sangat menyakitkan kalau si korban memang terus menerus memikirkan hal itu dan hal itu semacam memperjelas kenyataan dia belum mendapatkan yang diinginkan. Aku bahkan kadang berpikir pertanyaan seperti itu mirip pertanyaan “Kapan siap mati?”. Sudah ibadah, tapi kalau ditanya begitu tetap saja jleb.

Walaupun pertanyaan semacam itu bermaksud untuk mengobarkan semangat, sepertinya lebih sering membuat depresi, terutama untuk pertanyaan yang jawaban sebenarnya hanya “wallahualam”. Kita kan nggak tahu skripsi korban sudah selesai tapi dosen pembimbingnya sedang pelatihan di luar negeri. Kita kan nggak tahu dia korban sudah diterima kerja di perusahaan besar, tapi ditempatkan di tempat yang jauh dan tidak diperbolehkan orangtuanya. Kita kan nggak tahu . . . pokoknya pengandaian lainnya yang mungkin bisa terjadi dan bukan seluruhnya kesalahan korban. Kita kan nggak tahu tantangan apa yang harus dihadapi untuk mengubah kata kapan menjadi tanggal pasti, juga mengubah tanda tanya menjadi tanda titik. Doakan saja segera berubah.

You may also like...

3 Comments

  1. setujuuuuuu bgt ama tulisan ini ^o^.. Akupun benci stengah mati kao diksh pertanyaan yg 'kapan ini. kapan itu' mba.. Skr ini yg lg gencar2nya mndera , rata2 pd nanya, "kapan nambah anak k2?"

    jujur aja pgn aku jwb, "kirain punya anak itu enak? loe mau biayain? lagian loe yakin amat gw mw nambah anak? dgr ya, GA AKAN ADA ANAK KEDUA DI KELUARGA GW!" trs ngomongnya pake toa biar pd ngerti -_-

    sebel bgt deh ditanyain gitu.. krn aku msh sopan aja maka smua pertanyaan kurang ajar itu aku jwb manis …pdhl sbnrnya pgn nyakar yg nanya ;p. Hihhh., norak bgt org2 yg suka nanya bgini…

  2. sebel….! banget kalau ada yg tanya gitu.

    pernah ibuku tanya ke sepupu yg belum punya anak "belum pengen pa?"
    Aduuh… aku malah yg ga enak sendiri. akhirnya pas sdh dirumah aku ngomong2 sama ibu, kalau orang ditanya gitu tuh ga enak. alhamd ibu mau ngerti 🙂

    sayangnya, banyak orang yg ga peka untuk hal2 begitu. well… dulu aku termasuk yg kadang tanya 'kapan lulus' sama kakak kelas. dan saat aku mengalaminya, ternyata ga enak buangeeet! sejak saat itu nggak berani tanya2 seputar itu.

    tapi.. namanya hidup akan ada terus yg tanya ini itu bleh-bleh-bleh. bikin eneg ya kalau dijabanin -_-

  3. […] menanyakan pertanyaan itu, kita sudah bisa membayangkan segala kemungkinan yang bisa bikin mengerem pertanyaan tersebut […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *