Kapan pertama kali kamu naik angkutan umum? Aku sudah lupa kapan tepatnya. Aku mulai naik angkutan umum sejak kecil. Bogor kota angkot.

Naik angkutan umum sudah seperti hal lumrah bagiku sejak SD. Naik ditemani keluarga/teman ataupun sendirian. Kalau sendirian, memang sebatas jarak dekat.

Bertahun-tahun kemudian, barulah pertama kalinya aku merasakan perjalanan antarkota sendirian.

Masih dengan nulis bareng Kak Zelie tentang Cerita Pertama. Kali ini, aku mau cerita soal pertama kalinya ke Jakarta sendiri.

Ke Jakarta

Sejak kelas 11, aku sudah tahu ingin melanjutkan kuliah ke mana. Aku ingin kuliah di jurusan Xxxxx di PTN Xxxx. 

Iya, PTN ajalah. Kuliah di dalam negeri saja. 

Tapi, menjelang kelulusan, aku mendapatkan informasi mengenai beasiswa ke Jepang. Karena penasaran, aku pun ikutan apply bersama teman-teman. 

Blogpost ini bukan cerita sukses mendapatkan beasiswa ke Jepang. Karena yaaaa, aku kan nggak lolos tes tulis. 

Artikel ini sekadar mengenang perjalanan sewaktu mau apply.

Tahun itu, aplikasi masih dilakukan manual. Aku dan beberapa teman pergi ke Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.

Ada seorang teman yang sepertinya sudah jago soal angkutan umum Jakarta.

Kami naik kereta dari Bogor menuju Stasiun Sudirman. Dari sana, lanjut naik Kopaja/Mentromini atau entah apa nanya itu. Nomor 64 atau 640 kalau aku tidak salah ingat. Aku lupa detailnya karena sudah sangat lama.

Lalu, sampailah kami di Kedubes Jepang. Selamat dan mudah berkat temanku itu.

Aku lupa untuk tujuan apa. Mengambil formulir? Menanyakan info? Entahlah.

Yang pasti, kami harus kembali lagi nanti untuk mengumpulkan formulir dan segala kelengkapan.

Ke Jakarta Sendirian?

Awalnya, kami pun janjian untuk berbarengan lagi. Tapi, aku harus melalukan sesuatu yang lebih penting: membuat pas foto untuk ujian tulis PTN.

Lokasi studio fotonya dekat banget dengan Stasiun Bogor. Ada di Taman Topi (tahun 2019, ada rencana pengubahan Taman Topi menjadi lahan lain).

Walau dekat, tetap saja nggak keburu untuk bisa pergi bersama dengan teman-teman. Jadi, mereka pun pergi duluan.

(anyway, pas fotonya salah satu pas foto terbaik yang pernah aku punya)

Karena sudah tahu rute, aku sih oke-oke saja pergi sendirian. Toh cuma tinggal naik kereta, lanjut naik bus di depan Stasiun Sudirman.

Namun, tidak semudah itu.

Kereta ke Sudirman tidak setiap saat berangkat. Temanku pun memberikan alternatif untuk naik kereta jurusan Jakarta Kota dan turun di Cawang.

Jadi, aku pun memutuskan naik kereta mana saja yang lebih dulu berangkat.

Akhirnya, aku pun turun di Stasiun Cawang.

Dari Stasiun Cawang, aku pun jalan ke halte Transjakarta.

Petugas baik hati pun menjelaskan rute yang harus aku ambil. Kurang lebih penejlasannya: nanti dari V, transit di X, lanjut ke Y. Intinya adalah: muter-muter.

Waktu dijelaskan, masih terbayang mudah.

Begitu bus datang, aku pun naik. Nyaman banget! Dibanding bus Kopaja/Mentromini, jauuuh banget.

Dibanding angkutan umum di Bogor? 100 years apart kayaknya. (Sudah hampir 1 dekade setelah perjalanan itu, Bogor masih belum punya angkutan yang seperti itu).

Kenyamanan naik busway alias bus Transjakarta sempat terhenti ketika saatnya transit.

Turun dari bus itu, aku pun sadar perjalanan kali itu tidak semudah mendengarkan penjelasan petugas di halte.

Halte transit ternyata besar. Banyak lorong ke sini dan ke sana.

Pada akhirnya, aku pun turun-naik bus Transjakarta entah berapa kali. Entah sudah pindah berapa jalur.

Orang Jakarta Seperti Itu?

Aku sempat mau bertanya kepada seorang calon penumpang di suatu halte. Tapi, boro-boro ditanggapi. :”

Di situ, aku mendapat kesan: “oh, orang di Jakarta begini toh. Jadi kalau nanya, ke petugas aja.”

Berbulan-bulan kemudian, barulah aku tahu bahwa orang Jakarta nggak seperti itu kok. Mereka biasa saja seperti orang Bogor. Kebetulan saja waktu pertama itu bertemu yang entah ketus, tidak mendengar, atau sedang banyak pikiran.

Murahnya di Jakarta!

Kembali ke soal Transjakarta. Rasanya, aku sudah seperti keliling Jakarta. Mungkin masih berkubang di area kecil, tapi terasa sudah jauh karena sudah naik-turun bus berkali-kali dan karena memang tidak kenal daerah.

Di satu sisi, ada hal yang membuatku sangat terkesan: keliling Jakarta murah, ya!

Cukup sekali beli tiket. Dulu belum harus pakai uang elektronik.

Dengan 1 kali beli tiket itu, sudah bisa melakukan perjalanan jauh. Bisa juga naik-turun bus. Tentunya, selama nggak keluar dari gate halte.

Sebagai orang Bogor yang sedikit-sedikit harus bayar angkot, aku sangat sangat sangat suka dengan sistem tersebut.

Ongkos tersasar di Jakarta, bisa lebih murah daripada ongkosku pulang-pergi sekolah. Padahal, jarak rumah ke sekolah nggak sampai 2 km.

Walau begitu, tersasar tetap saja nggak enak, sih. Akhirnya, aku pun memutuskan keluar dari jalur busway. Turun dari bus dan keluar dari halte.

Dulu, Google Maps belum populer. Smartphone pun aku belum punya. Jadi, begitu keluar dari halte, sekadar mengikuti insting.

Aku ingat waktu itu aku jalan sedikit. Begitu melihat semacam tangga, aku pun naik.

Aku lupa lokasinya di mana, tapi setelah naik tangga … Tadaaa! Ketemulah jalan yang besaaaar.

Yah, jalan besar nggak berarti apa pun, sih. Nyasar ya nyasar aja. Apalagi, di Jakarta banyak jalan besar.

Tapi, justru di situlah garis finish nyaris terlihat karena …

Begitu ketemu jalan besar itu, ketemu jugalah Kopaja/Mentromini yang seperti waktu itu!

Aku pun naik bus itu dan berhasil tiba di Kedubes Jepang dengan selamat. Tepat waktu?

Well … kalau bahasa Jepang campur Inggris-nya sih “girigiri safe“. Barely safe.

Finish

Aku tiba beberapa saat sebelum batas waktu akhir pengumpulan form. Seingatku, batasnya pukul 14.00 WIB dan aku tiba beberapa menit sebelum itu.

Fiuh. Amaaan.

Tinggal tunggu pengumuman seleksi dokumen.

Hasilnya? Seleksi dokumen lolos sih. Aku memang perhitungan banget memilih jurusan (tentunya kehendak Allah juga) supaya bisa lolos dokumen. Aku cuma memilih tingkat D2.

Kenapa? Karena nggak begitu minat dengan pilihan-pilihan jurusan D3. Sedangkan untuk S1, aku sadar saja sih nilaiku waktu kelas 11 sedang duduk di lembah. Walau naik lagi di kelas 12, tetap saja kan nilai naik-turun-naik itu nggak lebih baik daripada naik-naik-naik.

So, yah, aku pilih jurusan di D2. Lupa jurusan apa. Lolos seleksi dokumen. Ikut ujian tulisan yang soalnya seperti virus jenis baru alias asing. Sudah, deh. Selesai.

Pada akhirnya, yang paling berharga dari apply beasiswa itu mungkin adalah pengalaman bisa ke Jakarta sendirian. Pengalaman naik Transjakarta.

Omong-omong, kayaknya di tahun yang sama juga, aku kesasar lagi di Jakarta. Kali itu, sampai masuk ke gang dan jalan kecil. Memangnya mau ke mana? Cuma mau pulang kok. :”)

You may also like...

1 Comment

  1. Wah, seru banget sih pengalamannya :”
    Aku juga sering nyasar kalau di TJ, karena susah sih, aku kan anaknya gak gitu teliti

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *