Kalimat judul di atas adalah salah satu kalimat paling ajaib yang pernah muncul di otakku.

Sewaktu kecil, aku pernah ingin menjadi pilot, guru, desainer, dan banyak cita-cita lainnya. Sekarang, di dekade kedua hidup ini, aku malah ingin menjadi petani.

Awal Mulanya

Aku mulai tertarik ingin menanam sesuatu sekitar tahun 2018. Sayangnya, keinginan saja nggak cukup. Aku masih maju-mundur merealisasikannya.

Lalu, awal tahun lalu, aku mencoba membuat kompos sederhana di rumah. Alasanku membuat kompos tentu nggak lain nggak bukan adalah untuk mengurangi sampah organik yang berakhir di TPA. Lalu, aku pun mulai membuat kompos sampai kepikiran “bakalan jadi nggak, ya?”.

Dan, ternyata. Jadi!

Dengan langkah-langkah sederhana, sampah organik berubah menjadi kompos.

Bukan cuma menjadi kompos. Di antara kompos itu juga muncul individu-individu baru. Biji-bijian yang ikut dimasukkan ke dalam wadah kompos tumbuh menjadi individu-individu baru.

Aku pun nggak maju-mundur lagi untuk bertanam. Aku seolah diberi modal cuma-cuma melalui kehadiran tanaman dari biji-bijian nggak terduga itu. Sekarang, aku kadang-kadang menyisihkan sebagian biji dari sisa makanan untuk langsung ditanam. Barangkali saja bisa langsung tumbuh, ‘kan?

Dari iseng itu, tiba-tiba saja muncul pikiran ingin menjadi petani.

Petani Modern

Zaman dulu, petani mungkin identik dengan sawah, panas-panasan, becek-becekan. Zaman sekarang, bayangan itu seharusnya sudah berubah. Petani nggak perlu ke sawah, nggak perlu becek-becekan. Kalau panas-panasan, tergantung kayaknya. Tanaman butuh sinar matahari. Tapi, setidaknya petani sekarang bisa nggak kena sinar matahari langsung.

Vertical farming semakin terkenal. Bukan nggak mungkin salah satu gedung di Jakarta diubah menjadi ruang pertanian yang setara dengan lahan pertanian berhektar-hektar.

Aku pernah menonton salah satu video YouTube yang membuat terkesima. Pemanfaatan lahan yang betul-betul maksimal. Memanfaatkan teknologi untuk menunjang pertanian.

Entah di Indonesia bisa diterapkan atau nggak. Tapi kan di Indonesia banyak lulusan jurusan Pertanian yang pintar-pintar.

Nah, kembali ke diri aku. Intinya, image petani sekarang semakin keren.

Jadi, Adik-adik kece, masuklah ke jurusan Pertanian supaya bisa mewujudkan mengubah telantar menjadi gedung pertanian. *Malah promosi kuliah*

Aku pribadi—dari video tersebut—jadi makin kepikiran untuk menjadi petani supaya tahu apa saja yang masuk ke dalam tubuh. Kalau menanam langsung, ‘kan yakin soal pesticide-free dan GMO-free.

Entah sih tanaman pada video di atas GMO-free atau nggak tapi maksudku, kalau kita menanam langsung, kita akan lebih tahu seberapa “bersih” tanaman yang akan dimakan. Bersih dari zat-zat tambahan berbahaya. Bersih dari rekayasa genetik.

Tantangannya

Namanya merawat makhluk hidup, tentu ada tantangannya. Gen bawaannya berpengaruh. Lingkungannya berpengaruh. Cara merawatnya berpengaruh.

Pantas saja ada jurusan Pertanian, ‘kan?

Untuk yang bukan berasal dari jurusan Pertanian, untungnya sekarang banyak buku yang mudah diakses. Walau begitu, mungkin kadang-kadang tetap ada pertanyaan yang hanya bisa dijawab dari hasil terjun langsung.

Yah, setiap pekerjaan pasti ada tantangannya.

Dan, sama seperti pekerjaan lain, kalau mau dijadikan sumber kehidupan, hasil pertanian pun perlu pasar. Walau bisa dimakan langsung, tetap saja pupuk harus dibeli. Bibit juga kadang-kadang harus dibeli. Belum lagi kebutuhan manusia ada juga yang nggak bisa dipenuhi dengan hanya makan tanaman.

Jadi, pilihan menjadi petani ada 3:

1. 100% bertani dengan memaksimalkan segala potensi, belajar pertanian, dan belajar marketing.

2. Sebagai penghasilan sampingan.

3. Iseng saja, yang penting happy. Cari uang di lahan lain.

Yang mana pun, yang penting happy, sih. Semoga petani Indonesia happy, ya.

Peluang

Aku perhatikan sekarang peluang bagi petani makin banyak. Apalagi, masyarakat semakin aware soal hidup sehat. Tanaman organik semakin diminati.

Kalau ditambah dengan awareness untuk #supportlocalproduct, semakin banyak peluang bagi petani Indonesia.

Kok jadi ke mana-mana, ya, bahasan ini? Dari keinganan pribadi, sampai ke awareness.

Apakah aku perlu mencari peluang menjadi tim media sosial petani lokal? Hehe.

Ya sudah, yang pasti, setahuku, bertanam—iseng ataupun betul-betul ingin menjadi petani sungguhan—nggak ada ruginya. Kalau muncul buah, bisa dimakan. Kalau baru sekadar daun pun, sudah menjadi filter udara.

 

You may also like...

1 Comment

  1. aku punya mimpi kalau suatu saat nanti berumah tangga, mau membangun kebun belakang bersama 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *