Artikel ini spesial sebagai catatan untuk diri ini yang masih … begitulah.

Masih sering malas kalau timbal balik yang ditawarkan “apa adanya”.

Masih sering lupa ini, lupa itu.

Masih banyak kesalahan, deh.

Beberapa kali, aku bingung ketika harus menunjukkan portofolio. Portofolio apaan? Anak “kemarin sore” gini.

Tapi, setelah aku pikir-pikir, portofolio nggak melulu harus hal besar. Nggak perlu karya yang sudah dikagumi banyak orang. Nggak perlu juga proyek yang luar biasa besar sampai patut dibanggakan.

Portofolio juga bisa dimulai dari hal sederhana.  Misal, pernah membantu teman dalam mengerjakan suatu penelitian. Bisa saja hal itu dijadikan portofolio kalau dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berusaha memberikan yang terbaik.

Kuncinya adalah menunjukkan sifat sungguh-sungguh dan mengusahakan yang terbaik.

Nggak ada tuh yang namanya “sungguh-sungguh kalau bayarannya besar”.

Hal-hal yang tanpa bayaran pun harusnya dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Kan di awal sudah tahu tidak ada bayaran dari orang yang membutuhkan jasa itu, tapi kenapa disanggupi? Kalau sudah bilang menyanggupi, harusnya mengerjakannya pun dengan kesungguhan hati.

Kalau memang merasa bermasalah dengan bayaran, kenapa menyanggupi? “Ah, cuma iseng.” “Mumpung sedang luang”. Hidup orang yang membutuhkan jasa kita kan bukan sebatas iseng-iseng belaka.

Sayang banget kalau diamanahi sesuatu tapi dikerjakan dengan hanya apa adanya. Padahal, sesuatu itu bisa menjadi portofolio kita. Sesedarhana menyusun data pun bisa dijadikan portofolio. Lumayan kan kalau bisa bilang, “Saya pernah menyusun data sejumlah ***** dalam waktu ***** jam”.

Well, pihak yang dibantu pun perlu sadar diri, sih. Sudah nggak memberikan bayaran, masa bikin kerjaan jadi ribet juga? Jangan mentang-mentang “kan kita teman”, ya.

Kalaupun perlu jasa tapi nggak mampu bayar, sebaiknya bilang saja. Dan, nggak perlu rewel alias banyak maunya.

Walaupun seseorang sudah berusaha memberikan yang terbaik, seseorang itu bisa juga terlalu lelah dan pusing kalau terlalu banyak permintaan aneh. Dan, kasihan juga kalau jadinya dia harus meninggalkan tawaran proyek lain dengan bayaran tinggi karena merasa sudah berkomitmen dengan proyek gratisan.

Yah, mungkin juga ada kalanya kita perlu melepaskan proyek/pekerjaan di tengah-tengah. Kalau ada alasan-alasan masuk akal, ya.

Mendadak sakit, misalnya. Tapi, kan mungkin kita bisa mendelegasikan pekerjaan tersebut kepada orang lain atas persetujuan semua pihak. Dan, bisa memberikan memberikan saran orang lain yang mungkin bisa diandalkan, bisa saja menjadi tanda bahwa kita mempunyai jaringan yang luas.

Atau, yang agak rumit, mungkin kalau di tengah jalan baru ketahuan ada hal-hal yang bertentangan dengan kepercayaan. Baru ketahuan bahwa proyek yang ditangani termasuk riba, misalnya. Mau bagaimana lagi?

Yaaah, kita bisa berusaha sungguh-sungguh ketika berurusan dengan manusia, kepada Allah juga harusnya bisa sungguh-sungguh.

Kalau sudah begitu, harus percaya ada jalan lain dan percaya kita bisa melanjutkan hidup tanpa proyek itu. Percaya juga kesungguhan kita untuk menjauhi hal buruk termasuk bagian dari “proyek kehidupan”, yang insya Allah reward-nya mungkin di luar ekspektasi.

Yang pasti, ketika mau meninggalkan sesuatu karena alasan demikian, tetap perlu bilang kepada pihak klien, ya. Pamit dulu gitu.

Oh, ya, buat para calon fresh graduated, yang aku maksud portofolio bukan melulu hasil karya apalah. Kadang-kadang kalau baru lulus, bingung juga kan sudah ikut menghasilkan karya apa?

Mungkin bisa juga, loh, menunjukkan bagaimana kesungguhan dalam mengerjakan tugas atau praktikum.

Tapi, yaaaah, aku bukan psikolog. Bukan juga HRD. Pengalamanku masih minim. Beberapa yang aku sebutkan bahkan belum pernah aku praktikkan karena baru kepikiran ketika membuat artikel ini. Makanya, di awal, aku bilang artikel ini untuk pengingat diri.

Walau begitu, aku berharap artikel ini bisa bermanfaat untukku dan untukmu.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *