tumpeng-mini

Selama sekian puluh tahun hidup (kesannya kok tua banget?), aku baru beberapa kali menghadiri acara tumpengan. Sepertinya aku lebih sering menghadiri acara potong kue daripada potong tumpeng. Ini aku yang kurang gaul atau bagaimana?

Untuk orang zaman sekarang sepertiku *uhuk*, mungkin syukuran atau hajatan dengan potong kue lebih mudah daripada dengan potong tumpeng. Lagian, bagi-bagi kue lebih mudah daripada bagi-bagi tumpeng. Selesai empunya hajat memotong yang pertama, biasanya kue dipotong-potong lebih dulu supaya tamu bisa tinggal mengambil saja atau malah. Kalau tumpeng, biasanya selesai potongan pertama, sisanya diletakkan begitu saja. Ada yang diletakkan begitu saja dan orang-orang akan mengambilnya seperti mengambil prasmanan. Ada juga yang langsung dimakan beramai-ramai.

Satu hal yang sering membuatku eye-scrolling adalah ketika tumpeng sudah amburadul. Bahkan, yang diletakkan seperti prasmanan saja bisa berantakan kalau tamunya terlalu barbar. Lol.

However, makan tumpeng sebetulnya menyenangkan, terutama kalau makan beramai-ramai. Yaaa, walaupun aku mah ikut senang saja. Kalau tumpeng sudah berantakan, malas juga makannya. Apalagi kalau sambalnya sudah “mencemari” banyak bagian. Ummm . . . aku tidak suka sambal. Yang penting, aku ikut senang, deh. Haha. Hal seperti itu ‘kan hanya ada di Indonesia.

Oh, ya, tumpeng juga membuat senang ketika begitu dipotong. Apa, ya? Pokoknya melihat puncak yang digulingkan itu ada sensasi tersendiri.

Sebetulnya, budaya Indonesia yang satu ini memang membuat senang. Sayangnya, mulai hilang karena memang ribet. Dari persiapannya saja sudah ribet. Sangat berbeda dengan kue ulang tahun yang bisa jadi dengan sekedipan mata. Karena alasan kepraktisan, ditinggalkanlah potong tumpeng. Lebih praktis potong kue. Makanan utama cukup cari katering saja. Di mana-mana banyak. Iya, kan?

Esensi nomor dua, praktis nomor satu.

Di zaman yang maunya serba praktis ini, ada juga orang-orang kreatif yang menciptakan peluang. Mengutamakan kepraktisan sambil mengangkat esensi. Daaann . . . hadirlah Tumpeng Mini.

nasi-sayur-mayur

Seperti namanya, Tumpeng Mini berukuran kecil. Ukurannya seperti lunch boxBye bye berebut tempe orek dengan tetangga sebelah. Setiap orang akan mendapat seporsi tumpeng yang sama beserta lauk pauknya. Setiap orang juga bisa ikut potong tumpeng. Hihi.

Tumpeng Mini juga tersedia dalam berbagai varian. Ada Nasi Langgi Pringgodani, Nasi Bali Kintamani, Nasi Padang Jam Gadang (Yes! aku baru tahu nasi padang ada tumpengnya), Nasi Udang Wong Malang, Nasi Uduk Kebun Jeruk, dan Nasi Sayur Mayur. Jadi, kalau acaranya bernuansa adat, bisa disesuaikan. Antibosan juga kalau tetangga sebelah sudah pernah hajatan dengan Tumpeng Mini.

Bentuknya juga bisa disesuaikan, tidak harus kerucut. Warna nasinya juga bermacam-macam. Ada putih, kuning, hijau, dan ungu. Untuk acara ulang tahun anak ‘kan sukanya yang lucu-lucu, ya. Label kemasan bisa disesuaikan dengan acara.

ultah-tumpeng

Dari segi rasa, Tumpeng Mini khas rumahan. Aku pernah coba Tumpeng Mini sewaktu event dengan lunch Tumpeng Mini varian Nasi Langgi Pringgodani, yang sangat klasik. Ada abon, perkedel, kering kentang, tempe orek, dan ayam goreng. Ayam gorengnya ayam goreng tepung, sih. Mungkin semacam penetral bagi yang kurang suka makanan klasik.

Rasanya, seperti aku bilang, rasa rumahan. Seperti tumpeng-tumpeng besar itu. Santan pada nasinya pun sangat terasa. Aku sampai tanya ke temanku, memangnya nasi kuning pakai santan? Lol. Kalau beli nasi kuning, biasanya rasa kunyit lebih dominan. Hehe.

Foto ini mungkin agak berantakan karena sudah dibawa melintasi ruang dan waktu *halah*. Dari Depok ke Bogor, Sang Tumpeng naik kereta.

Btw btw, Tumpeng Mini juga sudah menghiasi hari spesial beberapa seleb, bisa lihat di Instagram @tumpengmini. Barangkali mau membuat hajatan ala seleb. Kalau mau pesan, bisa tengok webnya www.tumpengmini.com.

cara-order-tumpeng-mini

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *