Source: IMDb

Director: Kenneth Branagh

Writer: Chris Weitz
Stars:
Lily James as Cinderella
Richard Madden as Prince
Cate Blanchett as Stepmother
Sophie Mcshera as Drisella
Holliday Graniger as Anastasia
Helena Bonham Carter as Fairy Godmother
Ben Chaplin as Ella’s Father
Hayley Atwell as Ella’s Mother

When her father unexpectedly passes away, young Ella finds herself at the mercy of her cruel stepmother and her daughters. Never one to give up hope, Ella’s fortunes begin to change after meeting a dashing stranger.

Saya yakin semua orang sudah mengetahui dongeng klasik Cinderella. Seorang gadis yang dijadikan budak oleh ibu tirinya. Ia ingin menghadiri pesta dansa di istana, tetapi dihalangi oleh ibu tiri dan gaun buatannya disobek. Kemudian, muncul peri yang menolongnya dan menyihir kereta dari labu, gaun baru, dan sepatu kaca.

Ia pun bisa mengikuti pesta dansa dan saling jatuh cinta dengan pangeran, tetapi ketika pukul 12 malam ia harus kembali karena sihir perinya akan hilang. Sebelah sepatu kacanya tertinggal. Pangeran pun mencari gadis misterius itu dengan mencocokkan sepatu kaca dan kaki semua gadis di kerajaan. Ibu tiri menghalangi gadis itu untuk mencoba sepatunya, tetapi pada akhirnya, ia berhasil mencoba sepatu itu dan cocok. And . . . happily ever after.

Begitulah dongeng Cinderella yang saya tahu.

Cinderella pernah berulang kali dibuat versi kartun, baik oleh Disney atau pun yang lainnya. Saya pun beberapa kali menonton kartunnya dan sempat menonton live action versi lainnya. Jujur saja, saya menonton bukan karena suka, melainkan karena tidak ada tontonan lain.

Dari semua tokoh Princesses, saya tidak menyukai Cinderella. Bagi saya, cerita Cinderella terlalu menye-menye. Disiksa ibu tiri lalu bertemu pangeran tampan and happily ever after. Dengan sabar, dia melayani ibu tiri. Pertanyaan saya saat itu, kenapa dia tidak melawan? Snow White saja kabur ke hutan. Saya kurang menyukai Cinderella karena perjuangannya kurang terlihat. Kalau dibandingkan dengan Aurora, Cinderella mungkin bisa dibilang berjuang, tapi kan Aurora dikutuk, jadi lain soal.

Selain itu, Cinderella membuat image ibu tiri pasti jahat. Memang tidak ada anak yang mau memiliki ibu tiri, tapi memberikan image semacam itu juga jahat. Saya juga tidak menyukai kartun Cinderella versi Disney karena Cindrella yang sudah disihir peri tampak tua, seperti berusia 30an. Itulah pendapat saya.

Lalu, kenapa saya mau menonton film ini?

Karena gratis.

Karena gara-gara Maleficent, saya jadi ingin tahu dongeng klasik yang diolah lagi. Hal-hal yang tidak diceritakan dalam Sleeping Beauty, diceritakan dalam Maleficent. Jadi, saya berharap film ini pun demikian.

Dan saya cukup puas. “Cukup” karena saya tidak menonton dari awal, tapi cukup awal untuk melihat bagian keluarga kecil bahagianya Ella.

Film ini dimulai dengan menceritakan keluarga Ella. Ella, ayahnya, dan ibunya, hidup bahagia. Ayahnya seorang pedagang yang harus berniaga ke banyak tempat. Satu kali berniaga, ayahnya tidak akan pulang, bahkan sampai berbulan-bulan. Walaupun begitu, Ella dan ayahnya tetap dekat. Mereka sangat sangat sangat bahagia. Sampai suatu hari ibu Ella jatuh sakit, lalu meninggal. Sampai di sini, semua cerita sama seperti dongeng klasik.

Hal yang berbeda adalah pesan dari sang ibu: Have courage and be kind. Pesan ini membuat Cinderella menjadi lebih berani. Oke, saya tidak tahu apakah dongeng klasik menyebutkan hal ini. Kalaupun menyebutkan, saya pasti terlewat, makanya saya sampai tidak menyukai dongeng ini.

Ella sempat melarikan diri ke hutan dan bertemu seorang pemuda bernama Kit, yang mengaku seorang appretince. Namun, Ella kembali ke rumahnya. Dia mau melindungi rumah yang menjadi saksi kehidupan orangtuanya. Ketika kabar mengenai pesta dansa untuk menemukan pedamping hidup pangeran diumumkan, Ella ingin mengikuti pesta dansa bukan untuk bertemu pangeran, melainkan bertemu Kit, yang kemudian tak lain tak bukan adalah pangeran. Sayangnya, pesta dansa itu hanya kedok untuk mengikuti kemauan pangeran karena raja sebetulnya sudah menjodohkan pangeran dengan seorang putri, Princess Chelina of Zaragosa.

Cerita berlanjut sampai pencarian sepatu pemilik sepatu kaca. Saya menyukai bagian ini. Ella berani membantah ibu tirinya. Have courage and be kind. Ibunya yang melarang dia mencoba sepatu dan menyebut-nyebut dirinya sebagai “ibu” setelah selama ini menganggap dirinya “nyonya”. Ella berdiri untuk mempertahankan haknya. Image Cinderella yang selama ini saya anggap penurut dan sabar, seketika berubah karena yang saya ingat adalah Cinderella yang tidak sengaja muncul saat kedua saudarinya mencoba sepatu sehingga dia pun bisa mencoba sepatu itu atau pangeran yang memaksa ibu tiri mengeluarkan Ella.

Anyway, Cinderella bukan nama lengkap Ella. Cinderella adalah nama pemberian saudari-saudari tirinya sebagai bahan ejekan. Selama ini, yang saya kira Cindrella adalah nama lengkapnya karena beberapa kali, dalam beberapa kartun, dia dipanggil Cindy. Belakangan, Ella justru mengakui nama ejekan itu sebagai namanya.

Source: Wikia

Setting dan efek film ini terlihat modern sekaligus klasik di saat bersamaan. Saya sangat menyukai gaun Ella yang dibuatkan ibu peri. Gambar di poster film tidak ada apa-apanya dibandingkan gaun dalam film. Warnanya tidak se-soft dalam poster. Warna itu justru mempertegas Ella agar semua mata tertuju padanya. Tentunya, warna itu sama sekali tidak terkesan norak. Tentunya, Ella tidak terkesan tua. Bahkan, gambar di atas tetap belum mewakili adegan Ella masuk ke istana dengan gaunnya.

Intinya, film ini wajib ditonton.
Oh, ya, bagi penggemar Frozen, film ini dibuka dengan film pendek Frozen Fever. Sayangnya, karena saya terlambat, saya tidak melihat film itu.

You may also like...

1 Comment

  1. Saya sangat suka dengan dongeng cinderella karena 1 hal: gaunnya! Waktu kecil punya buku cerita cinderella yang gambarnya bagus banget. Baju buatan ella yg warna pink dan baju dari ibu peri sama-sama bagus.
    Dan iya… suka dg ekspresi ella pas mempertahankan haknya memiliki sepatu itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *