asus-zenvolution-inv

Seharusnya blogpost ini muncul lebih dulu sebelum blogpost rangkuman. Seharusnya blogpost ini tidak usah muncul. Tapi, aku kan remaja labil, yang tiba-tiba ingin mengekspresikan kenorakan.

Yup, aku kasih warning, ya. Blogpost ini isinya lebih banyak kenorakan daripada informasi sebab blogpost ini hanya sekadar memoar. Makanya, aku masukkan ke kategori “Memories”, bukan “Reportage”.

Oke. Jadi, the story begins.

Di suatu sore–yang entah cerah, entah mendung–aku masih leyeh-leyeh, baru sampai rumah. Leyeh-leyehnya sudah tentu sambil main hp. And then, ada email masuk ke email utamaku. Sedikit berharap isinya membahagiakan. Tawaran job, mungkin. Atau pemberitahuan sudah ada yang masuk ke rekening. Begitu kubuka . . .

Subjeknya: Selamat Anda Terpilih Sebagai Peserta ASUS Zenfone 3 Press Launch

Masih belum terpikir apa pun. Kadang-kadang, kan ada pengumuman lomba yang subjeknya sudah menggunakan kata “selamat”, tapi isinya zonk.  Maka, aku baca kata perkata isi email itu. ASUS. Zenfone 3. Press Launch. Bali.

What I thought at that time, “Ini serius? Nggak salah kirim, kan?”

pressss

Sama seperti sewaktu dapat undangan bersama travel bloggers, aku tidak bisa langsung percaya. Aku langsung tanya Mbak Evrina tentang hal ini. Aku masih loading. Setelah melihat media sosial dan ada beberapa yang posting tentang hal itu, barulah aku percaya itu bukan spam. Walaupun masih belum percaya bahwa namaku ada bukan karena nyempil.

I replied the email. Lalu, ada email lanjutan yang menanyakan tempat dan tanggal lahir. Setelah, tidak ada email lagi sampai berhari-hari. Sempat berpikir lagi mungkin namaku memang nyempil.

Tanggal 3 September, Mbak Evrina mengirimkan foto undangan fisik yang sudah didapat blogger lain. Kami sama-sama belum dapat. Aku tanya ke orang rumah pun tidak ada paket. Dan ternyata, undangan fisiknya tiba tidak lama sebelum aku sampai rumah. Kesannya resmi banget, kan, ya, kalau sampai ada undangan fisik seperti itu?

undangan

Tapi, apalah arti undangan fisik kalau tanpa tiket pesawat. Tetap tidak bisa berangkat. Kalau acaranya sekadar di Jakarta, sih, tidak diberi tiket transportasi pun bisa berangkat. Ini kan di Bali.

Selang beberapa waktu, Mbak Evrina memberi tahu bahwa sudah dikirimkan e-ticket. Aku belum. Huhu. Melihat list nama di e-ticket Mbak Evrina, tidak ada namaku, makin guling-gulinglah aku. Lalu, lagi-lagi, beberapa saat sebelum aku sampai rumah, yang aku tunggu sampai. E-ticket masuk ke email.

Walaupun begitu, ada sedikit hal yang membuat aku ingin guling-guling lagi. Aku tidak satu penerbangan dengan Mbak Evrina, the one and only yang aku tahu dari Bogor. And this is my very first time to have flight. Naik pesawat kan tidak seperti naik kereta, yang tinggal beli tiket lalu berangkat. Aku sebetulnya mudah panik, hanya saja tidak akan ada yang tahu sampai aku bilang, “Aku panik”, karena dari luar aku tampak stay cool.

Dilihat sampai mata sakit, di list itu semuanya berawalan MR, yang MRS cuma nama paling atas: namaku. Selain itu, tidak ada nama yang aku kenal. Ada, sih, Mas Aldy Terren, tapi kan sejagat blogger juga kayaknya kenal sama dia mah. Maksudnya, orang yang aku kenal dan bisa aku teror kalau aku jadi anak hilang di bandara. Lol. Kalau meneror PIC kan mungkin saja dia sedang terlalu sibuk. Hehe.

So, menjelang hari keberangkatan, aku ngintil Mbak Evrina ke Hotel Permata walaupun jam keberangkatan beda dua jam. Aku jam 7.30, Mbak Evrina jam 5.30. Yaaa, daripada telat. Kalau berangkat sendiri, kadang suka keenakan dan “nanti-nanti”. Belum lagi, agak siang sedikit saja jalanan bisa macet.

Fortunately, menjelang keberangkatan, dari grup Whatsapp, barulah aku tahu banyak juga yang berangkat bersamaan. Tapi, yah, tetap saja anak rajin sendirian di bandara subuh-subuh. Haha. Untungnya, aku bawa teman paling setia: buku.

arleen

Sekitar jam 5.00, aku mulai bosan. Aku putuskan untuk check in. Walaupun di web menyatakan check in manual baru bisa 2 jam sebelum keberangkata, mungkin saja sudah bisa. Waktu aku coba check in, aku langsung sebal.

Ada yang request seat, jadi kena charge Rp30.000. Kalau tidak bayar, tidak bisa check in. Bisa saja, sih, aku tunggu orang itu atau orang lain di grup booking yang sama datang dan membayarkannya, tapi aku kan anaknya tidak sabaran. Walaupun sebal, akhirnya aku yang bayar.

Aku sebalnya bukan karena nominalnya, tapi karena, “Kok iseng banget, sih, pakai segala request seat?” Tidak tahu kalau request perlu bayar dan efeknya ke satu grup? Aku, sih, sudah dapat kursi saja sudah syukur (walaupun berharap tidak dapat di tengah). Mungkin juga, sih, orang itu tidak sengaja melakukannya, karena ketidaktahuan. Aku juga sudah lupa siapa orangnya. Lol.

Di tempat check in, aku bertemu Mbak Katerina. Tidak lama, muncul Mas Aldy dan Mas Andre. Langsung deh, Mbak Katerina mengajak wefie.

Foto milik Mbak Katerima (travelerien.com)
Foto milik Mbak Katerima (travelerien.com)

Kami juga satu pesawat dengan Mbak Mira Sahid dan banyak orang lainnya. Mungkin sebagian besar yang ada di pesawat itu adalah awak media yang akan meliput ASUS Zenvolution. Sisanya, hanya diselipkan di kursi yang masih ada.

Oh, ya, balik lagi soal kursi, aku tidak dapat di tengah, dong. Bahkan, lebih baik lagi, aku dapat di samping jendela dekat sayap. Rejeki anak baik. Haha.

Kurang lebih, satu jam empat puluh menit kemudian, aku menampakkan kaki di Pulau Dewata. Langsung saja aku merasa menjadi mawar berduri di antara bunga tulip. Kebanyakan, blogger yang hadir adalah yang seleb dan senior.

So, let the incredible begin.

blus
Foto milik Mbak Primastuti (tamasyaku.com)

You may also like...

2 Comments

  1. Waaa Mantap kakak Fifah, semoga semakin sukses di dunia blogging, btw di menu camera Asus Zenfonnya itu memang ada banyak menu ya untuk setting manual kaya DSLR gitu? Nanya dulu nih, sebelum kabur buat liat barangnya ke counter 😀

    1. Iya, ada setting manual, Mbak. Cukup banyak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *