Aku nggak suka keramaian. Oh, rasanya semesta sudah tahu hal itu. Energiku bisa mendadak nyaris habis begitu memasuki tempat yang sangat ramai. Pikiranku bisa langsung menampakkan kalimat, “Kapan boleh pulang?”

Anehnya, aku mempunyai tempat favorit yang justru identik dengan keramaian: stasiun.

Tentunya, nggak semua stasiun. Aku nggak suka Stasiun Tanah Abang, kok. Aku masih normal. Hehe.

Stasiun yang aku suka adalah stasiun-stasiun setelah Manggarai. Aku sukaaaa suasana stasiun-stasiun atas. Entah sebutan resminya apa, pokoknya stasiun yang peronnya di atas. Kalau stasiun commuter line Bogor-Jakarta tuh kayak Stasiun Cikini dan seterusnya. Saking sukanya, aku bisa melakukan banyak hal hanya dengan duduk di peron, seperti baca buku atau mengetik sesuatu. Entah kenapa, aku merasa aku bisa membuat mahakarya *halah* lebih cepat ketika di stasiun daripada di tempat lain (selain di rumah).

Aku pernah, dari suatu tempat, sengaja berbalik arah ke Stasiun (seingatku) Cikini untuk mengerjakan sesuatu. Waktu itu, seingatku seharusnya aku bisa pulang langsung naik kereta ke arah Bogor, tapi malah naik ke Jakarta supaya bisa “mengendap” dulu di Stasiun Cikini.

Stasiun Cikini lantai bawah. Nggak sesepi ini, tapi aku edit supaya foto orang-orangnya hilang.

Kalau langsung pulang, mungkin keburu juga mengerjakan sesuatu itu. Tapi, kalau sumpai rumah tuh kadang malah jadi mager. Kalau harus ngafe, kan malas, yaaa. Malas mengeluarkan uang. Hehe.

Kenapa sampai balik arah ke Stasiun Cikini? Kenapa bukan Stasiun Tebet, Cawang, dst?

Buatku pribadi, aku merasa stasiun-stasiun atas itu lebih damai daripada stasiun-stasiun sebelum Manggarai (terhitung dari arah Bogor). Orang-orang yang berlalu lalang terasa nggak sebanyak di stasiun sebelum Manggarai. Entah karena memang demikian atau efek stasiun yang lebih luas.

Lebih lagi, karena letak peron di atas alias jalur melayang, lalu lintas di jalan raya nggak begitu terasa. Bandingkan dengan Stasiun Cawang. Wuaaah, polusi suara dan polusi udara seperti memerangkap dari sekitar stasiun tersebut.

Hal lain yang hanya bisa didapatkan di stasiun adalah nggak akan ada orang yang merhatiin seberapa pun lamanya aku di stasiun. Orang-orang datang dan pergi. Jadi, nggak ada yang tahu kalau ada penumpang yang sudah berjam-jam di sana. Yaaah, kecuali mungkin petugas stasiun. Itu pun kalau keperhatiin. Kan penumpang lain superbanyak.

Kalau di kafe kan kerasa ada yang merhatiin kalau terlalu lama di sana. Apa lagi kalau belinya cuma seporsi kecil. Tapi yah, itu mungkin sebatas kegeeranku, sih. Mungkin penjaga kafe juga nggak mikirin seberapa lama kita di sana.

Tapi kan, tetap saja. Yang penting adalah “mengendap” di stasiun nggak perlu pakai acara beli-beli, selain beli tiket kereta. Itu pun harganya berapa, sih? Beda jauh dengan harga minuman di kafe. Bahkan, beda jauh juga dengan sekadar ongkos jalan ke kafe, co-working space, atau tempat semacam itu.

Aku pernah berangkat dari Bogor ke Jakarta. Sampai di Jakarta, aku cuma numpang “nyari tempat duduk” di Stasiun. Setelah urusan selesai, kembali ke Bogor. Lumayan, cuma kena charge (seingatku) Rp2.000. Hehe.

Mengamati orang-orang berlalu-lalang kadang-kadang bisa memberikan inspirasi dan motivasi. Melihat orang rela terpapar polusi dan berjejalan di kereta sering kali menjadi pengingat diri untuk bersyukur dan berusaha untuk lebih maju.

Walau begitu, seenak-enaknya di tempat umum, tetap saja lebih enak di ruangan pribadi, sih. Hehe. Jadi, sesuka-sukanya aku dengan perkertaan, aku pasti pulang.

Ya sudah, itu ceritaku. Kamu punya cerita tempat favorit yang mungkin juga agak lain daripada lain? Boleh, dong, ceritakan.

You may also like...

2 Comments

  1. Nggak nyangka aku, kirain tadi tempat apa gitu fah…. ternyata stasiun cikini! Hahaha
    Berarti kalo afifah ngilang mungkin lagi nginep disana ya? XD

    1. Nggak bakalan nginep kok. Takut dijadiin petugas stasiun. Lol.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *