Salah satu aktivitas produktif yang aku lakukan ketika naik commuter line adalah …

Mengamati daerah pinggir rel.

Oh, iya. Itu produktif banget kok. Haha. Produktif berimajinasi. Kadang-kadang juga produktif sampai punya bahan nge-tweet.

Salah satunya:

Lemari!

Ada. Orang. Buang. Lemari. Di. Pinggir. Rel.

Waktu melihat itu, spontan dong aku nge-tweet. Aku tuh beberapa kali bolak-balik ke toko online sambil melihat-lihat lemari kecil yang dijual. Pengin, sih, tapi ini, tapi itu.

Lah, lalu, tiba-tiba saja ada orang buang lemari. Sekilas kelihatannya masih bagus. Lemarinya ukuran kecil. Hampir seukuran lemari yang aku mau walau jauh banget sih perbedaan modelnya.

Tetap saja, aku nggak habis pikir. Kok bisa kepikiran buang lemari di pinggir rel?

Sejujurnya, aku juga ingin menyingkirkan lemari yang aku punya sekarang. Tapi, nggak pernah terlintas yang namanya buang di pinggir rel. (Btw, sebelum ada yang minta (ge-er banget), aku kasih tahu saja, ya: kayaknya lemari itu begitu digeser sedikit saja bisa berubah menjadi bubuk karena sudah keropos).

Oke, cukup soal lemari.

Kok Ada di Sana?

Selang beberapa waktu, aku kembali mengamati kawasan sepanjang rel. Kali ini, yang aku dapati kira-kira seperti ini:

Ilustrasi denah sampah

Seingatku, waktu itu aku sedang melewati daerah sekitar Depok. Tiba-tiba saja, mata ini menangkap gundukan sampah banyaaaak banget.

Di dekat gundukan sampah itu ada perumahan. Sepertinya perumahan baru. Aku nggak akan bilang sampah-sampah itu berasal dari perumahan tersebut.

Soalnya, perumahan dan area semak-semak dibatasi tembok tinggi. Dan, letak gundukan sampah itu terbilang jauh dari tembok, kemungkinan nggak sampai sejauh itu kalaupun melempar sampah melewati batas tembok.

Jadi, aku heran, sih. Itu sampah sebanyak itu dari mana? Dan, kok kepikiran gitu loh buat menjadikan semak-semak di dekat rel sebagai tempat sampah besar? Bukannya setiap lingkungan rumah biasanya disediakan tempat sampah besar, ya?

Aku jadi kepikiran. Di wilayah dekat pusat negara saja begitu. Gimana di tempat lain?

Aku belum pernah ke daerah nun jauh, daerah yang jauh dari kota. Aku sih berharap kalau suatu saat berkesempatan ke daerah semacam itu, bisa melihat bahwa masyarakat daerah lain justru lebih bertanggung jawab soal sampah, hidup lebih rapi dan minim sampah.

Jangan Dibakar

Lalu, aku googling soal sampah pedesaan. Hasilnya …

Dinas kebersihan kadang-kadang nggak menjangkau area pedesaan. Di sisi lain, masyarakat desa juga menghasilkan sampah setiap hari walau mungkin nggak sebanyak masyarakat kota. Semua itu kadang ada yang ditimbun atau dibakar. Kecampur sampah organik dan anorganik.

Memang wujudnya jadi nggak akan kentara kalau ditimbun atau dibakar. Akan tampak bersih saja gitu. Tapi, kan …

Sayang banget kan kalau plastik ikut ditimbun. Harusnya, kalau sisa organik saja yang ditimbun, bisa terjadi proses penguraian dan terbentuk kompos. Kalau kecampur plastik dan anorganik lainnya mah gimana? Malah bisa menghasilkan gas berbahaya.

Makanya, aku pengin bisa menyebarluaskan soal sampah. Apa lagi, sebetulnya kayaknya kompos bisa berguna banget buat kehidupan di desa karena masih banyak lahan tanah. Dan, sisa anorganik mungkin bisa dimanfaatkan untuk hal lain.

Yang pasti, kalaupun bisa ke desa, harus lihat situasi dulu, sih. Barangkali daerah tersebut sudah terbiasa dengan budaya hidup less waste. Mungkin mereka mengolah sampah dengan baik. Kalau begitu, aku malah dapat kesempatan belajar lebih banyak, dong. Dan, mungkin malah bisa diterapkan di kota.

Yaaaa, kan hidup sama-sama belajar. Belajar sama-sama.

Aku jadi pengin liburan ke desa, deh. Desa biasa, bukan desa wisata. Nggak perlu ada tempat wisata pun. Justru dengan begitu, mungkin bisa lebih menikmati kehidupan seperti warga lokal.

You may also like...

1 Comment

  1. bener banget mbak duh liat sampah sekarang makin ngeri ya segala macam dibuang gitu aja
    dan parahnya gak liat2 tempat membuangnya
    huhu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *