“Kalau lemak bisa disumbang, aku sumbang, deh.”

Pernah mendengar candaan semacam itu?  Biasanya, candaan semacam itu muncul ketika teman yang kurus dan gemuk bertemu. Satu orang mengeluhkan tubuh yang tidak besar besar. Satu orang mengeluhkan tubuh yang mudah membesar walaupun makan sedikit. Kemudian, muncullah candaan itu.
Bukannya kurang bersyukur, hanya saja setiap orang tentu mendambakan tubuh ideal. Sayangnya, tidak semua orang dianugerahi kemudahan mendapatkan tubuh ideal. Walaupun begitu, bukan berarti kita hanya bisa pasrah pada nasib.
Kalaupun sudah hopeless mendapatkan berat badan ideal, jangan sampai hopeless untuk tetap hidup sehat. Jangan sampai berkata, “Ah, makan sedikit juga percuma, tetap gemuk. Mending sekalian makan banyak.”
Atau justru sebaliknya. Tidak semangat makan karena tidak juga menggemuk. Atau makan sesukanya tanpa memerhatikan kesehatan dengan harapan bisa gemuk. Duh, orang kurus juga bisa terkena penyakit degeneratif. Lemak jenuh yang menempel di lapisan pembuluh darah, sering kali tidak sampai membuat orang menjadi gemuk, tetapi tetap saja menghambat aliran darah. Hal itulah yang menyebabkan hipertensi, penyakit jantung, dan penyakit-penyakit lainnya. Belum lagi, ada masalah diabetes yang juga tidak pandang berat badan.
Kita, yang hidupnya sudah enak, sering kali kebablasan soal makanan. Mau makanan ini-itu mudah sekali mendapatkannya. Bahkan, tidak perlu keluar rumah karena sekarang banyak layanan delivery. Akibatnya, kita sering lupa bahaya yang mengintai.
Berbeda dengan masyarakat pedesaan. Yah, tak perlu jauh-jauh ke pelosok desa. Di pinggir jalan pun banyak yang nasibnya berbeda jauh dengan kita. Mau makan, mesti hitung-hitungan dulu. Bisa makan nasi pakai lauk saja sudah syukur. Boro-boro mau jajan segala rupa.

Begitulah Indonesia. Ada dua masalah gizi yang sekarang sedang mengintai. Di satu sisi, banyak sekali orang yang kelebihan gizi. Penyakit degeneratif mengintai setiap hari. Di sisi lain, ada juga mereka yang kekurangan gizi. Berbagai penyakit akibat kurang gizi tentu saja mengintai. Namun, bukan itu saja. kurang gizi juga bisa menyebabkan melemahnya kerja otak. Bagaimana anak negeri mau maju kalau kurang gizi?

Fitbar Donor Kalori

Sebagai brand yang concern terhadap kesehatan, Fitbar mengajak kita mengatasi masalah gizi ganda ini. Seolah menjawab candaan seperti di atas, Fitbar membuat program Fitbar Donor Kalori. Nah, bagi kalian yang ingin menyumbang lemak, boleh sekali mengikuti program ini. Lemak juga kan penghasil Kalori.
Caranya bagaimana?

 

  1.  Daftar di FitbarDonorKalori.com.
  2.  Beraktivitas menggunakan aplikasi ponsel atau alat apa saja yang bisa menghitung Kalori (contoh: smartwatch, treadmill, elliptical, stasionary bike, dll)
  3. Upload foto atau screencapture angka yang menunjukkan Kalori yang terbakar ke FitbarDonorKalori.com.
  4. Selesai! Kalori akan ter-record dalam waktu maksimal 24 jam, artinya Kalori berhasil didonorkan.

Mengukur dan meng-upload Kalori bisa dilakukan setiap hari. Semakin banyak Kalori yang disumbangkan, semakin cepat anak-anak Indonesia terbebas dari masalah kurang gizi.

Kok bisa, sih, upload foto Kalori membantu mengurangi masalah kurang gizi?
Fitbar bekerja sama dengan Yayasan Sahabat Anak. Fitbar menargetkan pengumpulan 10 juta Kalori yang nantinya akan dikonversikan menjadi uang. Uang tersebut akan diberikan kepada anak-anak jalanan yang kurang beruntung. Tidak tanggung-tanggung, 10 juta Kalori itu akan dikonversi menjadi uang sebesar 500 juta rupiah. Berarti, 1 Kalori yang kita hasilkan, bernilai Rp50.

Kalau tidak sempat berolahraga bagaimana?

Tidak ada kata tidak sempat untuk menjaga kesehatan. Aku pun kadang (sok) sibuk sampai merasa tidak sempat berolahraga. Kalau begitu, cara mengakalinya adalah dengan memperbanyak aktivitas fisik.

Untuk ibu-ibu di rumah, aktivitas fisik yang bisa dilakukan adalah dengan mencuci, mengepel, menyapu, dan sebagainya. Sesekali memberi istirahat pada asisten rumah tangga.

Untuk pekerja kantoran, bisa dengan mengurangi naik lift dan beralih ke tangga atau memperbanyak jalan. Daripada bermacet ria, mungkin bisa berjalan kaki sampai tujuan tertentu. Lumayan untuk membakar Kalori.

Kalau hari libur, pastikan untuk berolahraga. Hari Minggu paling pas untuk jalan pagi. Ngantuk? Lelah? Malas? Itu hanya kebiasaan, kok.

Ketika Harus Mulai Meningkatkan Aktivitas Fisik

Aku juga awalnya berpikir malas, lelah, dan segala alasan lainnya. Tapi, aku mencoba membiasakan diri. Demi bisa berbagai kepada anak-anak Indonesia. Kalau berbagi materi mungkin sering terlewat. Kalau berbagi dengan tenaga, masa terlewat juga. Apalagi, ini tidak hanya berbagi, tetapi menyehatkan diri sendiri.

Ternyata, pemikiran bahwa aktivitas yang aku lakukan bukan semata hanya untukku sendiri, cukup manjur. Aku mulai membuat semua alasan yang bisa membuatku gemar berleha-leha. Rasa malah masih ada karena belum sepenuhnya terbiasa, tapi perasaan itu mudah hilang ketika membayangkan “berbagi”.

Setelah beberapa hari memakai calories counter, rasanya ada perasaan bersalah kalau aku tidak mencapai angka 100 Kcal.  Pertanda hari itu aku tidak banyak beraktivitas. Ketahuan, deh, malasnya.

Gara-gara calories counter juga, aku jadi mengetahui kalau Kalori yang dikeluarkan ketika berjalan, berlari, naik-turun tangga berbeda. Aku tidak mencatatnya secara rinci, sih, tapi aku memperkirakan dari jumlah Kalori yang tertera pada calories counter padahal jarak yang ditempuh kira-kira sama.

Jadi, kalau mau melakukan aktivitas fisik yang lebih banyak melibatkan tangan, mungkin lebih baik menggunakannya di tangan. Kalau di pinggang, bisa tidak terdeteksi. Begitu juga sebaliknya. Kalau aktivitas lebih banyak melibatkan kaki, menggunakan calories counter di pinggang. Tapi, kalau jalan atau lari, sepertinya tangan juga terkena efeknya. Intinya, sih, sayang saja kalau sudah banyak beraktivitas tapi tidak terhitung.

Aku, sih, biasanya menggunakannya tetap di pinggang. Semalas-malasnya, aku tetap suka kok, jalan kaki. Biasanya, sih, sekadar jalan untuk menghindari macet. Kalau sengaja untuk berolahraga, malas itu masih menghampiri. Walaupun demikian, yang penting aku masih suka berjalan kaki, kan?

Ketika berjalan kaki, aku merasa bebas. Kalau berjalan kaki ke tempat tujuan yang tidak begitu jauh, tentu saja aku terbebas dari macet. Menurutku, lebih baik mengeluarkan sedikit lebih banyak tenaga daripada hanya duduk diam dalam kemacetan. Energi negatif juga sering kali menghampiri ketika berada di tengah kemacetan. Mending energinya disumbangkan untuk donor Kalori saja.

Ketika sengaja berjalan kaki dalam rangka olahraga, aku mempunyai kesempatan melihat dan mengamati sekitar. Walaupun Kalori yang terbakar tidak sama dengan ketika berlari, hal ini tetap bisa menyehatkan batin, loh. Aku bisa sembari mengumpulkan energi positif dari lingkungan. Apalagi, kalau berjalan-jalannya di Mingu pagi. Kendaraan bermotor tidak sebanyak biasanya. Keluh-kesah soal macet, terlambat, dan sebagainya tidak akan menghampiri. Malah, yang menghampiri adalah perasaan senang ketika melihat orang-orang menyempatkan diri jalan pagi bersama keluarga. 🙂

Setelah mulai terbiasa olahraga berjalan kaki, aku juga mencoba berlari supaya Kalori yang terbakar bisa lebih banyak. Begitu mau mulai demi Fitbar Donor Kalori, rasanya susah. Kali ini, bukan karena malas, melainkan memang tubuh ini seperti perlu di-setting ulang. Lagi-lagi, ini memang masalah kebiasaan. Tiba-tiba saja aku merasa menua sebelum waktunya. Tapi, pada akhirnya aku bisa berlari beberapa putaran. Rasanya sangat memuaskan. ^^v

Selama lima hari, aku berusaha meningkatkan aktivitas fisik. Dari yang semula masih sulit memaksakan diri, sampai lama-kelamaan terbiasa. Saking terbiasanya, aku sedih sewaktu donasiku hanya 90-an Kcal.

Selama lima hari itu, aku berhasil mengumpulkan 786 Kcal. Sayangnya, aku melakukan kesalahan pengambilan foto hari ke-5 sehingga ada foto hari itu di-decline. Fotonya kurang jelas karena tidak fokus pada step counter. Aku sudah meng-upload ulang.

Sementara ini, total Kalori dariku yang sudah di-approve sebesar

537 Kcal. Ini total dengan hari ke-6.

Doakan semoga kali ini di-approve, ya.

Peserta lain sudah bisa mencapai ribuan Kalori. Walaupun niat awalmengikuti Fitbar Donor Kalori ini bukan lomba, kalau melakukannya beramai-ramai seperti ini, ada perasaan tidak mau kalah. 😀

Oh, ya, Fitbar memilih 5 donatur terbaik setiap minggu untuk mendapatkan voucher Blibli, loh. Niat berbagi, pada akhirnya bisa mendatangkan rejeki lain. Makanya, yuk, daftar. Fitbar Donor Kalori hanya sampai 30 April. ^^

Cemilan Rendah Kalori untuk Menunjang Hidup Sehat

Anyway, sehabis olahraga, biasanya perut lapar dan haus lagi.

Di tempat olahraga, kadang banyak tukang jajan. Kata orang-orang, perlu topi antimatahari supaya tidak lirik sana-sini. Percuma, dong, sudah olahraga, tapi jajannya tidak bisa di-stop. Keluar 200 Kcal, masuk bisa lebih dari 200 Kcal.

So, supaya tidak lirik sana-sini tanpa perlu memakai topi antimatahari, aku selalu membawa bekal. Aku membawa sebotol air minum dan cemilan. Cemilannya tentu cemilan yang rendah Kalori tapi bisa mengenyangkan. Contohnya, seperti Fitbar. Porsinya pas sebagai pengganjal perut. Tidak hanya sehabis olahraga, tapi juga ketika melakukan aktivitas sehari-hari.

Fitbar ini bebas dari lemak trans dan kolesterol. Lemak trans dan kolesterol ini yang biasanya menyebabkan berbagai penyakit. Kolesterol yang barusan kumaksud sebagai penyebab penyakit tentu saja kolesterol jahat karena ada juga kolesterol baik. Selain itu, lemak juga menghasilkan Kalori yang tinggi. 1 g lemak bisa menghasilkan 9 Kcal. Karena itu, Kalori yang dihasilkan bisa berbeda jauh dengan makanan yang mengandung lemak walaupun perbedaan lemaknya tidak banyak.

Fitbar juga mengandung banyak serat. Pencernaan serat berlangsung lama. Hal ini menjadikan Fitbar cepat mengenyangkan, tetapi tidak cepat membuat lapar lagi. Serat pada Fitbar berasal dari serealia, bukan serat buatan. Serealia yang digunakan adalah oat ditambah gandum (untuk nuts dan fruits Fitbar) serta corn flakes (untuk chocolate Fitbar).

Kok penulisan oat dan gandum dibedakan? Oat dan gandum berbeda. Keduanya berasal dari tanaman yang berbeda. Satu hal yang pasti, oat dan gandum sama-sama tinggi serat. Begitu pun dengan corn flakes. Ketiganya juga mengandung protein nabati.
Seperti disebutkan pada gambar di atas, Fitbar juga mengandung kalsium, vitamin A, vitamin, B12, dan vitamin C. Tidak salah kalau Fitbar menjadi cemilan sehat. Sudah mengandung serat, mengandung kalsium dan vitamin.

 Varian Rasa

Produk Kalbe Nutritionals ini  mempunyai 3 rasa. Ada rasa kismis raspberry ( varian fruits), rasa kacang (varian nuts), dan rasa coklat (varian chocolate). Jadi, tidak perlu takut bosan. Hari ini makan rasa kacang, besok makan rasa kismis rasberry, lusa makan rasa coklat. Setiap varian rasanya tidak terlalu mirip.

Favoritku adalah rasa coklat. Coklatnya terasa. Memang ada lapisan coklat di bagian bawah, sih. Rasanya enak, seperti coklat bar yang bukan untuk diet. Rasa coklatnya sangat terasa. Kalau ada yang bilang makanan untuk diet, kurang enak, mungkin dia belum mencoba Fitbar.

Varian rasa coklat mengandung Kalori hanya sebesar 90 Kcal. No need to worry makan coklat takut gemuk. Coklat pada varian adalah dark chocolate. Karena itulah, Kalori yang dihasilkan tidak banyak. Kalau sedang mepet deadline, Fitbar rasa coklat ini bisa menaikkan semangat kembali karena rasanya yang sangat enak.

Kalau harus mengurutkan, sepertinya aku akan memilih rasa kismis raspberry lebih dulu. Varian ini rasanya sedikit asam sehingga cukup menyegarkan. Aku suka varian ini membantuku menghadapi adegan-adegan menghanyutkan ketika membaca novel. Rasanya yang menyegarkan membuatku tetap bisa berpegang pada realita, tidak sepenuhnya terhanyut dalam buku. Aku sering terbawa pikiran kalau terlalu mendalami cerita.

Rasa kacang, menurutku, cocok menjadi untuk midnight meal. Rasa varian ini cukup ringan sehingga cocok untuk teman di malam hari. Karena mengandung kacang, ada sedikit rasa gurihnya juga.

Eh iya, malam-malam kok makan? Katanya mau sehat.

Mau bagaimana lagi. Kalau lapar, sulit berpikir. Tugas pun jadi sulit diselesaikan. Karena aktivitas di malam hari tidak terlalu banyak, cemilan yang dipilih juga yang Kalorinya sedikit. Kalau bisa, sudah terbakar lagi paginya.

 

Beda rasa, beda juga kandungan Kalorinya. Rasa kismis raspberry mengandung 110 Kcal, sedangkan rasa kacang mengandung 100 Kcal. Intinya, semuanya tidak mengandung Kalori yang tinggi.

Jadi, mencegah penyakit degenaratif yang sering mengintai orang dengan gizi lebih sebetulnya tidak begitu sulit, asalkan mau memulai. Cukup dengan mulai memperbanyak aktivitas dan memilih cemilan pun bisa menjadi langkah pencegahan.

Kalau masih susah juga memulai, cukup ingat bahwa kita melakukannya bukan hanya untuk diri sendiri. Setiap langkah kita adalah untuk anak-anak kurang beruntung. Dengan begitu, semoga bisa menjadi motivasi.

^^

 

You may also like...

6 Comments

  1. Waw seruuuuu yaaa… fitbar tuh cemilanku sebelum nikah krna takut melaaaar. Eeeh sekarang pas punya anak nyusut sendiri..

  2. Leyla Hana Menulis

    aku jg setiap hari buang kalori nih. Wuiih bisa didonorkan ya? Keren..

  3. Aisyah As-Salafiyah

    Masya Allah seru sekali ya, olahraganya jadi bermanfaat buat diri sendiri dan orang lain.. ^^
    Oya aku juga baru tau lho kak kalau gandum dan oat itu beda, hehe.. 🙂

  4. Hayukk, donorkan, Mbak. 😀

  5. Waaa. Kok bisa? Biasanya kebalikan. Hehe.

  6. Iya, biar makin semangat olahraganya. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *