Belum lama media massa dihebohkan dengan penelataran anak di daerah Cibubur. Salah satu anak tidak diizinkan masuk ke dalam rumah dan tidak diberi makan selama kurang lebih satu bulan. Nasib saudara-saudara kandung anak itu pun tidak lebih baik. Rumah mereka bukan tampak seperti rumah tempat bernaung, melainkan hanya tempat untuk menampung karena mereka tidak memiliki tujuan lain.

Belum selesai kasus tersebut, kita kembali disuguhi kasus dengan anak sebagai korban: penemuan jasad Angeline di belakang rumahnya. Gadis delapan tahun itu diduga hilang atau kabur selama berminggu-minggu hingga polisi mencurigai rumah korban.
Belum lagi berita bayi yang dibuang. Entah sudah berapa ratus berita seperti itu. Bayi-bayi itu seolah sampah yang bisa dibuang begitu saja. Bukankah yang cocok disebut sampah adalah orangtuanya? Daripada dibuang, kenapa tidak diberikan ke panti asuhan? Panti asuhan pun panti asuhan dengan yayasan yang jelas, tentunya, agar pasti bawah panti asuhan itu bukan perdagangan anak berkedok panti asuhan. Kalau mau memberikan anak kepada orang lain, mungkin ada baiknya melihat latar belakang orangtua asuh terlebih dahulu agar kasus Angeline tidak terulang. Mungkin juga ada baiknya memberikan anak kepada orangtua yang sudah memiliki anak dan tampak mampu merawat dan mendidik anak-anaknya.

Aku pernah melihat seorang teman Facebook yang meng-upload foto anaknya dan di sana ditulis kalimat yang kira-kira artinya tidak ada anak yang membutuhkan ibunya, tapi tidak ibu yang bisa menjadi ibu tanpa anak. Seorang anak tidak membutuhkan orangtua untuk menjadi “anak”. Dia tetap akan disebut “anak”, sedangkan seseorang hanya bisa disebut “orangtua” kalau memiliki anak.

Menjadi anak bukan pilihan. Itu yang sering saya pikirkan sebagai anak. Di alam lain, kita mungkin memilih untuk diciptakan sebagai manusia, yang artinya tentu menjadi anak. Di sini, kita tidak memilih untuk menjadi anak, menjadi anak siapa, menjadi anak dari orangtua seperti apa.

Berbeda dengan menjadi orangtua. Kalau tidak mau menjadi orangtua, tidak perlu memiliki anak. Sesederhana itu pikiranku. Jadi, ruh kami tidak tersia-siakan hanya untuk hadir di dunia selama beberapa detik. Mental kami tidak tersia-siakan hanya untuk disiksa oleh orang yang mengaku sebagai orangtua kami. Perasaan kami pun tidak tersia-siakan hanya untuk diabaikan oleh ayah dan bunda.
Penelataran anak bukan hanya berupa tidak memberi makan, membuang anak di jalan, atau tidak memperbolehkan anak masuk ke rumah. Penelataran anak segala hal yang bisa merenggut masa kanak-kanak.
Beberapa hari lalu, aku melihat dua anak perempuan mengobrol di tengah jalan. Yup, benar-benar di tengah jalan. Keduanya mengobrol dan tertawa-tawa seolah mereka mengobrol di pekarang rumah. Bisa ditebak kan kenapa mereka mengobrol di tempat seperti itu?
Mereka mungkin bisa terlihat finefine saja dengan keadaan seperti itu, tapi aku yang melihat merasa mereka tidak finefine saja. Mereka mungkin tidak tahu bahwa mereka ditelantarkan, tapi yang seperti itu termasuk penelataran, bukan?

Aku belum punya anak, jadi belum mengerti kenapa orang-orang bisa punya anak tanpa mempertimbangkan biaya hidup. Oke, memang tidak boleh menghakimi karena mungkin orangtua si anak tiba-tiba bangkrut sehingga anaknya harus mencari nafkah sendiri atau mungkin orangtua si anak tiba-tiba sakit keras sampai anaknya harus mencari tambahan untuk biaya perawatan orangtuanya. Tapi, ada berapa anak jalanan dibandingkan perkiraan orang bangkrut atau sakit keras?

Menurut UUD 1945 Pasal 34 Ayat 1, fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.  Adanya pasal itu bukan berarti mengharapkan anak-anak dipelihara negara dan membiarkan mereka menjadi anak-anak terlantar, kan? Memangnya anak yang harus dipelihara negara hanya sepuluh orang. Lagipula, menurutku, lebih banyak anak yang ditelantarkan daripada anak terlantar. Anak terlantar adalah anak yang orangtuanya tidak punya pilihan melepaskan mereka. Mungkin orangtuanya meninggal dan tidak ada sanak saudara. Berbeda dengan anak yang ditelantarkan. Mereka mempunyai orangtua tetapi orangtua mereka mencari alasan bahwa penelataran adalah hal yang bukan pilihan.

“Merenggut masa kanak-kanak” pun banyak macamnya, baik dari segi fisik maupun psikologis. Dari segi psikologis, mengabaikan anak yang sedang berbicara pun bisa dibilang “merenggut masa kanak-kanak”. Hanya karena orangtua tidak mau mendengarkan, si anak bisa menjadi takut berbicara, takut berpendapat karena takut tidak didengarkan. Anak bisa merasa bahwa dia nothing. Karena masa kanak-kanak adalah masa pembentukan kepribadian, bisa saja anak itu menjadi takut berbicara sampai dewasa.

Kalian, para orangtua, bisa menggunakan kalimat yang enak didengar jika kalian enggan mendengarkan anak-anak kalian. Mungkin dengan kalimat “Sebentar, ya, Ibu masih cape. Ibu istirahat dulu 10 menit, nanti kamu bisa cerita” atau kalimat lainnya. Kalau kalimat halus tidak mempan dan justru anak merengek, aku tidak bisa sok tahu memberi solusi karena jatuhnya akan menjadi sekadar teori. Kalian yang sudah menjadi orangtua mungkin lebih tahu.

Kalian bisa kesal kalau tidak didengarkan. Menurutku, anak-anak mungkin tidak bisa kesal kalau tidak didengarkan, tapi mereka bisa sedih. Tentu saja, mereka selalu berusaha mengerti, tapi kita saja kadang lelah kalau terus-menerus berusaha mengerti, kan?

Anyway, aku adalah korban televisi. Aku sering menonton televisi sewaktu kecil. Sering kali ada adegan seorang anak pulang sekolah dan ditanya oleh orangtuanya “How was your school?” dan kupikir, pertanyaan itu adalah pertanyaan umum. Nyatanya, orangtuaku tidak menanyakan hal semacam itu. Sewaktu aku baru masuk sekolah, aku baru mempunyai adik dan juga baru pindah rumah jadi mungkin pertanyaan semacam itu tidak terlalu penting. Kalaupun aku cerita, jawaban yang diberikan pun tidak terlalu excited, sebatas “iya” atau “bagus”, tidak ada pertanyaan lanjutan. Ketika sudah agak besar dan orangtuaku menanyakan hal semacam itu, aku merasa aneh dan jawabanku sekenanya. Jadi, ini siapa menelatarkan siapa? Hehe.

Pengabaian orangtua terhadap anak bisa berakhir sangat tidak baik. Pernah dengar cerita anak membunuh orangtua? Atau anak menjadi orang jahat? Jangan sampai kejadian itu menimpa kita, tapi mental anak kan dibentuk sejak kecil. Lagipula, anak pun bisa berpura-pura kuat. Bisa saja dia mendapat perlakuan tidak mengenakan di sekolah tetapi tidak cerita karena takut orangtuanya khawatir. Di sisi lain, orangtuanya pun memberikan perlakuan tidak mengenakan.

Memang mungkin tidak semua anak menjadi lemah dengan penelataran. Ada juga anak-anak yang bangkit justru menjadi kuat dan sukses akibat peneletaran itu. Tapi, hal semacam itu sama seperti bermain peluang, berjudi dengan masa depan. Lagipula, pasti ada pertanyaan yang sama setiap kali media massa memublikasikan kasus dengan anak sebagai korban: kok tega? Jangan salahkan mereka kalau mereka merecoki hidupmu. Kalau bisa memilih pun pasti mereka mereka memilih lahir dan tumbuh di keluarga yang baik.

Hubungan orangtua dan anak adalah hubungan yang tidak mungkin dipisahkan, positif maupun negatif. Darah lebih kental daripada air. Kadang kita tidak menyadari kita saling menyakiti. Membuat mind set bahwa hal itu biasa.

Aku pun sadar bahwa tidak selamanya orangtua yang menelatarkan anak. Ada juga anak yang menelatarkan orangtua. Setidaknya, hal semacam itu bisa dicegah dengan tidak menelatarkan si anak. Kalau ketika sudah dewasa si anak menelatarkan orangtua, itu sih tidak tahu terima kasih.

Orangtua jarang melepas anak-anak mereka, jadi anak-anak yang melepas orantuga mereka. Mereka pergi. Mereka pindah. Pengakuan yang dulu penting untuk mengukur keberhasilan mereka – pujian ibu, anggukan ayah – tertutup oleh pencapaian mereka sendiri.  (Mitch Albom dalam Meniti Bianglala)

Kalau sudah membaca buku Meniti Bianglala karya Mitch Albom, tentu akan tahu seperti apa hubungan Eddie dengan ayahnya.

Penelataran bisa menjadi semacam siklus. Anak yang ditelantarkan orangtua bisa menelatarkan orangtuanya di kemudian hari. Anak itu bisa juga menelatarkan anaknya kelak dengan alasan ibu/bapak bisa kuat karena dulu ditelantarkan. Tapi, mau sampai kapan begitu?

Lalu, kalau membunuh anak dengan alasan agar si anak tidak merasakan hidup susah lebih baik menjadi bidadari surga? Memangnya pembunuh itu tidak lebih dulu direbus di neraka? Setiap manusia yang lahir pasti dilahirkan bersama rizkinya. Bukan berarti membiarkan anak mencari suapan nasinya sendiri, tentunya.

Setiap orang menginginkan rizki dan anugerah. Bukankah anak adalah bentuk lain dari rizki dan anugerah?

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *