Aku. Nggak. Suka. Sekolah.

Dulu.

Dari dulu, aku nggak sekolah. Belajar dengan sistem tertentu yang kaku. Waktu-waktu yang seolah habis hanya dengan mendengarkan guru. Jeda waktu istirahat yang singkat.

Pokoknya, banyak hal yang bisa bikin aku nggak suka sekolah.

Apa lagi, menurutku, belajar nggak harus di sekolah. Belajar Fisika yang sesusah itu pun nggak harus di sekolah, ‘kan? Pergi memancing juga bisa sebagai sarana belajar Fisika, ‘kan? Ditambah belajar Biologi, malah.

Belum lagi, rasanya banyak yang terbuang karena nggak bisa memilih pelajaran apa yang diinginkan, pelajaran apa yang nggak dirasa perlu. Belum zaman tuh sistem SKS dan memilih mata pelajaran untuk tingkat sekolah. SKS dulu umumnya masih sebatas untuk bangku kuliah.

Walau begitu, aku tetap sekolah, sih. Tetap mengikuti pelajaran. Karena, yaaa, mau nggak mau harus mengikuti sistem sekolah kalau mau kuliah. Entah deh kalau bisa menjadi jenius banget banget banget di bidang tertentu, bisa kuliah tanpa sekolah, nggak, ya?

Kenapa pengin kuliah padahal nggak pengin sekolah? Karena kalau mau pekerjaan tertentu, perlu kuliah. Dan, aku bisa membayangkan bahwa di bangku kuliah banyak ilmu-ilmu yang memang praktikal. Perlu dipelajari secara rinci dan dipraktikkan dalam skala praktikum. Beda dengan sekolah yang praktikum saja jarang banget.

Dulu, kayaknya aku sering mengutarakan keheranan, ketidakpuasan, atau apalah namanya terhadap sistem pendidikan bangku sekolah di Indonesia. Dulu, aku merasa sistem sekolah lebih banyak membuang waktu siswa daripada memberikan manfaat.

Tapi, Itu Dulu

Sekarang, aku merasa sistem sekolah yang pernah aku alami not that bad. Malah, mungkin, aku seharusnya berterima kasih kepada sekolah.

Sekolah memang sering mengajarkan hal yang tampak nggak penting. Ngapain bola jatuh saja digitung kecepatannya, percepatannya, waktunya? Apa pulak itu gradien-gradien di pelajaran Matematika?

Seiring waktu, aku masih nggak pernah menghitung kecepatan bola jatuh. Aku juga nggak pernah sesuatu dengan gradien. Tapi, aku bisa merasakan manfaat dari segala pelajaran aneh yang diajarkan di sekolah.

Hal yang sesungguhnya dipelajari dari pelajaran-pelajaran adalah kemampuan berpikir. Kemampuan melihat sesuatu jauuuuh ke dalam seperti ketika mencari massa atom di pelajaran Kimia. Kemampuan untuk membayangkan sesuatu secara luas seperti ketika membayangkan garis-garis tak kasat mata di pelajaran Matematika.

Dengan terbiasa membayangkan sesuatu jauh ke dalam sekaligus meluas ke berbagai sisi, kita jadi bisa lebih mudah melihat berbagai kemungkinan ketika berhadap dengan suatu hal sehari-hari.

Kemampuan itu juga bisa mengurangi kemungkinan mengeluarkan judgement sok tahu terhadap sesuatu.

Contoh sederhana, nggak akan tuh kepikiran bertanya “kapan lulus? Kok belum sidang?”

Sebelum menanyakan pertanyaan itu, kita sudah bisa membayangkan segala kemungkinan yang bisa bikin mengerem pertanyaan tersebut daripada menimbulkan sakit hati.

Seharusnya, emosi juga jadi lebih stabil. Lebih mengendalikan diri.

Jadi, ngapain sekolah? Ya biar pintar. Pintar berpikir secara sistematis dan luas. Luas ke luar maupun luas ke dalam.

Percaya, deh. Sekolah mungkin nggak tampak menyenangkan, tapi yaaa belajar saja, deh. Di sana, otak akan terlatih berpikir, bekerja, pokoknya otak jadi bangun terus. Jadi siap untuk menghadapi banyak hal.

Dan, yaaa, kadang-kadang kita nggak tahu ke mana takdir kita. Tadinya nggak suka Kimia, bisa saja 5 tahun setelah lulus malah ada sesuatu yang bikin tertarik dengan Kimia. Jadi, nggak ada salahnya belajar.

Lagian, kalau bukan di sekolah, di mana lagi nemu makanan enak dan murah?

 

You may also like...

1 Comment

  1. karena sekolah enggak cuma bikin pinter tapi bikin tambah wawasan walau nilai enggak melulu 100 tapi kita jadi makin tahu tentang ilmu baru
    sukses terus yaaa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *