Sekolah sama saja

Kalau ada yang bilang sekolah sama saja di mana pun, aku termasuk golongan yang kurang setuju.

Sejak TK, aku sudah merasakan yang namanya pindah sekolah. Dulu, aku memang nggak terlalu merasakan perbedaan pindah sekolah selain soal teman.

Sekarang, setelah dipikirkan lagi, setiap sekolah mempunyai pengaruh berbeda.

Cara guru mengajar. Keterikatan antarteman. Kesempatan berkompetisi. Dan banyak lagi.

Pentingnya Networking

Hal yang nggak kalah penting adalah soal networking.

Ambil contoh pekerjaan pertamaku. Aku mendapatkan berkat seorang kakak kelas. Jangan bayangkan nepotisme, ya. Tapi, info soal lowongan kerja saat itu masih terbatas. Nah, aku mendapatkan info itu dari kakak kelas.

Pekerjaanku selanjutnya juga berkat networking. Kali ini bukan dari rekan satu sekolah, sih. Walau begitu, hal tersebut menandakan pentingnya networking.

Jangan berharap dengan adanya networking maka akan mudah diterima kerja karena ada “orang dalam”. Duh, jangan jadi manusia annoying gitu.

Networking ada untuk mempermudah jalur informasi. Bukan untuk nepotisme.

Paling juga, dengan adanya kenalan, pihak perekrut bisa lebih mengetahui seperti apa kebiasaan kita di mata orang lain.

Sekolah Sama Saja? Beda Sekolah Beda Jaringan

Nah, kembali ke soal sekolah.

Aku pernah kuliah di 2 tempat berbeda. Biasalah, tahun pertama masih banyak yang suka numpang menclok, ‘kan?

Dari sana, kerasa banget bedanya.

Tempat kuliah pertama itu di suatu jenjang sarjana PTN X jurusan suatu bidang ilmu alam. Mahasiswa baru dijejali banyak kegiatan. Semua mahasiswa harus hafal semua teman satu angkatan.

Tapi, hal yang menurutku menarik adalah suatu waktu, mereka baru saja membentuk grup WhatsApp baru. Lalu, seorang teman mengajakku masuk juga. Padahal, aku sudah lamaaaa pindah. Sudah lulus juga dari kampus lain.

Aku sih ikut-ikut saja, ya.

Dari hal yang aku amati, kekerabatan mereka sepertinya cukup dekat. Entah sih aslinya gimana. Kan aku sudah lama pindah. Tapi, yang aku amati sih demikian.

Aku membandingkan dengan kampusku yang lain. PTN juga sih. PTN Y. Tapi, rasanya agak berbeda. Mungkin karena beda jenjang. Di sini, di jenjang diploma, punya jadwal yang padat. Belajar. Belajar. Belajar.

Kekerabatan antarmahasiswa di kampus Y adalah soal pilihan. Mau kenal sama si S, ya bagus. Nggak kenal pun nggak apa. Tapi, kekerabatan dengan dosen justru lebih erat.

Makanya, kalau sekarang ditanya nama teman dari kedua kampus, sepertinya aku lebih kenal dari kampus pertama.

Dan, aku juga keluar dari grup Line kampus bahkan sebelum lulus. Hehe.

Kan aneh, ya. Aku masuk PTN X, lalu keluar. Pindah ke PTN Y. Tapi, aku nggsk join grup chat PTN Y. Malah join PTN X.

Well, awalnya aku masuk grup PTN X karena ikutan saja. Tapi, akhirnya aku merasa grup itu bermanfaat.

Ingat, ya, networking bukan hanya soal job dan semacamnya. Networking lebih dari itu.

Selain dari pengalaman di 2 kampus, aku juga melihat teman-teman di kampus lain. No offense untuk teman-teman PTS, tapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda.

Sampai di sini, aku bisa bilang kuliah sama saja di mana pun nggak sepenuhnya tepat.

Beda Sekolah Beda Kesempatan

Belum lagi, soal kesempatan mengasah kemampuan.

Di kampus X, sepertinya kesempatan terbuka lebar.

Di kampus Y, um … agak terbatas. Eh tapi bukan karena kampusnya sih. Lebih karena jurusannya. Dan itu sebetulnya bukan karena membatasi melebarkan sayap, tapi mungkin karena … haruskah aku membuat blogpost khusus tentang ini? Panjang soalnya.

Selain di bangku kuliah, bangku sekolah juga terbilang menentukan, loh.

Sewaktu di kampus X, aku mengikuti suatu kepanitiaan. Lomba untuk siswa SMA.

Aku mengunjungi beberapa sekolah untuk memberikan undangan. Dari sana, aku melihat ada sekolah yang welcome banget.

Ada juga yang kayak … duh, apaan ya. Boro-boro mengingikutsertakan siswanya ke dalam lomba itu. Infonya sampai ke guru pun nggak. Cuma sampai ke TU.

Padahal, hadiahnya lumayan. Bisa dapat tiket masuk PTN X.

Bahkan, walaupun nggak minat masuk PTN X, pengalaman ikut lomba termasuk berharga, loh.

Buat kamu yang masih sekolah atau kuliah, ayo berjuang! Supaya bisa terpilih ikut lomba.

Jadi, yah, kalau ada yang bilang sekolah sama saja di mana pun, maaf kita beda pendapat.

Sekolah ada soal networking. Jaringan yang baik dapat mempermudah diri kita. Selain itu, jaringan juga mengubah diri kita, menjadi lebih baik atau melempem.

Lebih dari itu, sekolah juga ajang mengembangkan skill.

Skill bisa berkembang lebih baik dengan lingkungan yang mendukung. Contohnya, pengajar yang kompeten, fasilitas yang memadai, kesempatan mengasah diri, kakak kelas dan teman yang baik. 

Di sisi lain, kalau takdir membuatmu nggak punya pilihan, mungkin artinya kamu harus lebih kuat. Supaya tidak tergerus arus. Lalu, suatu saat bisa melebarkan sayap.

You may also like...

2 Comments

  1. memang sih banyak faktor ya sekolah tuh, dari dosennya, cara ngajarnya, situasinya, lingkungannya, sarana dan prasarananya dan diri sendiri.

  2. Anakku yang pertama mba, sejak TK hingga SD pindah-pindah sekolah. Yang aku lihat sih tiap sekolah memiliki fasilitas dan cara guru mengajar juga beda. . Lingkup pertemanan lebih bervariasi. So far, selama anaknya enjoy tidak masalah sih dengan pindah-pindah sekolah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *