Hukuman! Siapa sih yang suka dihukum? Sama, aku juga nggak suka.

Masih bareng Kak Zelie dengan challenge Cerita Pertama alias menuliskan kisah saat pertama kali mengalami sesuatu.

Tema kali ini adalah “hukuman”. Hukuman apa yang pertama kali pernah kamu terima?

Aku pribadi nggak begitu ingat hukuman yang pertama kali kualami. Mungkin karena aku siswa baik dan nggak pernah dihukum.

Setelah diingat-ingat, tetap nggak nemu hukuman pertama. Jadi, aku cerita soal salah satu yang paling membekas saja, ya.

Sewaktu kuliah, ada salah satu mata kuliah yang mengadakan kuis tiap pertemuan praktikum.

Walau namanya praktikum, bukan berarti di lab (atau dapur, untuk jurusanku). Pertemuan praktikumnya di kelas. Jadi, bukannya praktik, jam praktikum mata kuliah tersebut digunakan untuk kuis-kuis.

Gimana menjelaskannya, ya. 

Jadi gini …

Sebut saja nama mata kuliahnya XXX

Di matkul tersebut ada jam kuliah dan jam praktikum

Jam kuliah isinya mendengarkan teori-teori. Mendengarkan penjelasan dosen. Kayak kelas biasa di sekolah.

Selanjutnya, ada jam praktikum. Jam praktikum untuk matkul XXX digunakan untuk kuis. Kuis biasa, seperti ulangan tertulis. 

Selesai kuis, kertas ujian ditukarkan sesama mahasiswa dan diperiksa bersama-sama. Jadi, langsung ketahuan dapat nilai berapa. 

Bye” di Saat Pertama

Di pertemuan praktikum pertama, semua mahasiswa di kelasku harus mengucapkan selamat tinggal pada nilai kuis hari itu.

Aku lupa penyebabnya apa. Tapi, ada sesuatu yang membuat dosen cukup marah. Alhasil, kami semua dikeluarkan dari kelas.

Jangan tanya bagaimana nilai kuis hari itu. Kalau dikeluarkan, bagaimana bisa mendapatkan nilai? Jadi, bye nilai kuis pertama.

Pertemuan Kedua …

Pertemuan kedua seharusnya menjadi penolong kalau nilai pertemuan pertama 0, ‘kan?

Walau ada 1 nilai yang 0, tetap ada kesempatan untuk dapat nilai akhir bagus kalau nilai rata-rata bagus, ‘kan?

Nah, harusnya begitu. Harusnya nilai pertemuan kedua langsung dibagus-baguskan.

Tapi …

Aku harus mengucapkan selamat tinggal juga pada nilai kedua.

Semua berlangsung lancar pada awalnya. Sampai pada detik-detik terakhir, aku merasa ada jawaban yang perlu diperbaiki.

Begitu waktu habis, aku masih menulis. Kebetulan, waktu itu aku duduk di depan. Mahasiswa yang duduk di baris paling depan harus menghitung jumlah lembar jawaban yang diangsurkan dari belakang.

Karena aku masih menulis ketika waktu habis, aku jadi terlambat menghitung.

Dosenku pun bilang sesuatu seperti: mau dikeluarkan sekelas lagi?

Jadi, ya sudah. Aku keluar sendiri.

Dadah, nilai kuis kedua.

Selamat Datang, Nilai!

Kehilangan 2 kali nilai jelas harus ditambal. Di pertemuan ketiga harus dapat nilai bagus.

Nilai setiap mahasiswa disebutkan masing-masing oleh pemeriksa. Dosen menyebutkan sebuah nama. Lalu, mahasiswa yang memeriksa nama tersebut akan menyebutkan nilai orang yang diperiksanya.

Deg-degan banget rasanya setiap mendengar nilai mahasiswa lain.

Begitu namaku dipanggil …

highlight of the day!

Nilai paling tinggi sejauh itu.

Bukan nilai yang bagus-bagus banget bagiku. Tapi, cukup jauh dibandingkan nilai-nilai mahasiswa lain.

Kamu tahu apa yang lebih buruk daripada mendapatkan nilai 0? Kehilangan kepercayaan dosen.

Setelah merasakan dikeluarkan dari kelas, untuk pertama kalinya aku belajar bukan hanya untuk angka nilai. Aku juga belajar untuk mengembalikan “wajah” di mata dosen.

Memang aku inginnya dapat nilai lebih *mon maap, kok jadi ambisius*, tapi mendapatkan nilai paling tinggi hari itu sudah patut disyukuri.

Dan, demi menambal 2 nilai, tentu harus lebih semangat.

Dengan segala insidennya, mata kuliah XXX tetap menjadi mata kuliah favoritku.

You may also like...

1 Comment

  1. Yaa ampun, kasian :”
    Bener sih, kepercayaan itu malah lebih mahal jadinya. Untung aku anak baik2, hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *