Image source: Kaboompics, edited by me.

Hari itu, Jakarta digegerkan oleh teror bom.

Berita menyebar melalui media sosial dengan sangat cepat. Dalam satu menit, bisa ada banyak update. Mulai dari copy percakapan Whatsapp, sampai broadcast dengan embel-embel Mabes Polri. Ada yang bilang, “Ini asli.” Ada yang bilang, “Itu hoax.” Siapa yang tahu? Semua jadi rancu.
Orang-orang di sekitar lokasi kejadian yang berniat memberi laporan secara real time kepada keluarga atau teman, dikacaukan karena adanya berita-berita yang entah dibuat siapa dan sedang di mana. Berita benar pun pada akhirnya dicurigai hoax. Berita hoax, tampak sangat meyakinkan.
Selalu begitu, kan? Ketika ada kejadian, orang-orang kreatif mulai berimajinasi dan mengarang berita.
Hoax selalu ada di mana pun dan kapan pun. Kalau zaman dulu ada mitos, sekarang ada hoax. Keduanya sama-sama simpang siur.
Sekarang, hoax makin mudah menyebar. Sewaktu teror di Jakarta saja, banyak copy percakapan Whatsapp kuterima. Dari waktu yang tertera, berita itu hanya selang beberapa menit dengan berita di televisi. Makin banyak grup, makin banyak teman, makin banyak berita yang simpang siur. Ketimbang panik, aku justru pusing membacanya.
Aku sudah membaca ratusan hoax sepanjang hidupku. Well, lebih tepatnya sepanjang yang kuingat ketika aku mulai menggunakan handphone. Mungkin itu sekitar 10 tahun lalu, waktu umurku masih… masih sangat tepat untuk menjadi murid SMP.
Hoax yang awal-awal kuterima adalah yang berbau mistis. Mantra inilah. Mantra itulah. Ancaman kalau penerima tidak menyebarkan, akan terkena sial. Tawaran kalau penerima menyebarkan kepada sejumlah orang, akan dilimpahi keberuntungan. Aku hanya bisa memutar mata. Zaman sudah modern, masih ada yang percaya hal-hal seperti itu. Lebih lagi, yang mengirimkannya adalah teman-temanku. Aku malah berpikir, mungkin mereka mengirimkannya bukan kerena percaya. Mungkin mereka hanya cari perhatian karena kesepian. *ups

Aku sendiri kadang membuat hoax. Bukan karena kesepian, loh. Hanya menguji kreativitas. *nyengir malaikat*. Aku mengirimkannya hanya kepada teman-teman dekat. Aku yakin mereka tidak percaya dan tidak mengirimkannya kepada orang lain karena SMS itu tidak pernah kembali padaku (kalau hal itu menjadi indikator keberhasilan). Aku memang berhati-hati membuatnya. Bagaimanapun, aku hanya membuatnya untuk bersenang-senang. Aku tidak mau ada orang percaya. Sebetulnya, aku ini pembohong profesional, loh. Hihi.

Aku melakukan hal semacam itu tidak sampai satu semester. Aku betul-betul sudah bertobat.

Sayangnya, pembuat hoax lain sepertinya belum bertobat. Mereka bahkan semakin pintar. Seiring waktu, hal-hal mistis sudah sangat basi. Orang-orang mulai mencari sesuatu yang ilmiah. Pembuat hoax pun tidak ketinggalan trend. Mereka membuat broadcast dengan embel-embel “berdasarkan penelitian”, atau “menurut seorang profesor”, atau semacamnya. Tak lupa, dicantumkan juga nama lembaga-lembaga yang sekiranya akan membuat orang-orang mudah percaya.

Orang-orang pun semakin mudah percaya berkat embel-embel penelitian atau lembaga yang tercantum di sana. Mencari klarifikasi di Google? Mencari dengan bahasa Indonesia, hasilnya sama saja dengan broadcast. Kadang, ada juga yang bahasanya diperhalus dan dibuat lebih formal supaya lebih terkesan serius. Mencari dengan bahasa Inggris pun, bisa jadi hoax tadi adalah hasil terjemahan hoax dalam bahasa Inggris.

Kalau sudah begitu, beruntunglah orang-orang yang mempunyai kenalan yang ahli di bidangnya. Sayangnya, kadang, kita masih kalah pandai berkata-kata sehingga ketika menyebarkan berita benar, masih kalah dengan berita hoax. Berita benar dikira hoax, berita hoax dikira benar. Memang sulit membedakannya.

Daripada ragu-ragu apakah berita itu benar atau hanya hoax, jalan satu-satunya adalah tidak menyebarkan sama sekali. Kalau memang beritanya terlihat bagus, ada baiknya tetap disimpan dahulu. Nanti, kalau sempat, bisa ditanyakan kepada ahli. Kalau sedang sakit dan berobat ke dokter, kita bisa sekalian menanyakan tentang berita terkait masalah kesehatan. Kalau bertemu teman orang Farmasi atau Kimia, kita bisa menanyakan berita yang berhubungan dengan bidang itu. Kalau benar, bisa diteruskan kepada orang lain. Kalau salah, hapus saja.

Hal yang sulit adalah ketika orang-orang dalam keadaan panik, seperti ketika terjadi teror di Jakarta. Grup-grup ramai membicarakan kejadian tersebut. Belum lima menit, ada saja broadcast masuk. Siapa pun yang mempunyai keluarga atau teman di sekitar tempat kejadian menjadi panik. Orang-orang jauh pun panik.

Walaupun begitu, ada saja orang yang membuat kepanikan bertambah dengan menyebar berita-berita di media sosial. Ketika panik, kita bisa semakin mudah percaya dengan hal yang baru diterima. Tanpa berpikir panjang, berita itu pun disebarkan kepada orang lain.

Orang-orang yang terkurung di sekitar tempat kejadian mungkin tidak akan sempat membaca broadcast itu. Mereka sudah melihat dan merasakannya sendiri, untuk apa ambil pusing dengan media sosial? Sudah cukup memusingkan nyawa sendiri. Tapi, keluarga dan teman yang menerima berita semacam itu, bisa-bisa terkena serangan jantung, apalagi kalau tidak bisa menghubungi orang yang bersangkutan.

Entah siapa yang pertama kali membuat berita itu. Sekutu teroriskah? Orang isengkah? Satu hal yang pasti, candaan mereka tidak lucu. Mereka hanya membuat kepanikan semakin menjadi.

Hoax mempunyai efek positif, memang. Sedikit. Terlepas dari benar atau tidaknya, suatu berita bisa membuat kita lebih waspada.

Dulu, ada hoax tentang obat yang bisa membuat perempuan menjadi steril selamanya. Setidaknya, dengan hoax itu, kita menjadi semakin waspada dengan tidak menerima minuman dan makanan dari orang tak dikenal. Juga, menjaga minuman dan makanan tetap dalam pengasawan supaya tidak diracun.

Hoax juga membuat kita waspada untuk tidak pergi ke tempat-tempat tak dikenal seorang diri. Kalau bertemu anak kecil tersesat, memang sebaiknya menghubungi polisi. Terlepas dari anak itu sekutu orang jahat atau bukan, kalau pergi ke tempat tak dikenal seorang diri, bisa saja penjahat berkeliaran di sekitar tempat itu.

Walaupun begitu, berita bohong tetap saja bohong. Sebaik apa pun dampaknya, dampak negatif menyebarkan ketakutan bukan hal yang bisa dianggap sepele. Mungkin ada orang yang mudah paranoid sehingga berita bohong saja mudah membuatnya terpengaruh.

Ketimbang menyebarkan ketakutan, mungkin bisa dengan cara mengajak berimajinasi? Misalnya, di akhir berita hoax ditulis, “Semua yang di atas hanya fiktif belaka. Tapi, bayangkan jika semua itu nyata.” Aku yakin, pembuat hoax bisa membuat kata-kata yang lebih baik agar semua orang tahu bahwa itu bohong, tapi tetap membuat orang waspada. Asalkan niat.

Dengan perkembangan zaman, hoax semakin mudah dan cepat menjalar. Hoax yang semula hanya tersebar di aplikasi chatting, muncul di media sosial lain. Begitu pun sebaliknya. Fitur copy-paste memudahkan kerja kita, tapi memudahkan penyebaran hoax juga.

Bukan berarti kecanggihan zaman sekarang membawa dampak negatif saja. Berita yang sudah pasti kebenarannya pun mudah tersebar di media sosial.

Ketika ada kejadian yang membutuhkan penggalangan dana dengan cepat, copy-paste di media sosial bisa lebih efektif dan efisien daripada menghubungi orang satu per satu. Untuk orang yang jarang menonton televisi atau memantengi situs berita sepertiku, media sosial jelas membuatku tetap up to date.

Media sosial juga bisa menjadi penyelamat nyawa. Akun Twitter @Blood4LifeID, misalnya. Setiap hari ada update kebutuhan darah. Mungkin saja ini bisa menjangkau orang-orang yang belum terdaftar sebagai pendonor sukarela yang bisa langsung dihubungi ketika ada kebutuhan darah.

Asalkan niat baik orang-orang yang menggunakan media sosial untuk membantu tidak dijadikan inspirasi untuk mencari keuntungan pribadi, media sosial adalah media yang sangat membantu hubungan antarmanusia. Setiap hari, ada begitu banyak berita tersebar, bohong atau pun nyata. Tinggalah bagaimana kita memfilter semua berita dan baik-baik dalam bersosial media.

Anyway, aku tidak menuliskan “hoax” dalam cetak miring karena memang sengaja. Terlalu banyak kata “hoax” membuatku malas memiringkannya satu per satu. ^^v

 

You may also like...

13 Comments

  1. Setujuu… Pengguna medsos harus cerdas dengan cara memfilter semua berita. Jadikan medsos ini betul betul untuk menolong dan memperlancar perbuatan baik. Nice post,Fifah! 🙂

  2. kita ini memang selalu dikelilingi berita hoax ya, kita harus bisa menyaring mana yg benar dan gak benar

  3. jgn malas mikirin hoax dong faaaa hahaha

  4. Hehe…hoax semasa SMP itu yang disebut surat beranting, atau berita beranting. Bunda juga ngalamin tuh. Tapi bunda tidak mengikuti saran-saran yang diajukan, ternyata sampai sekarang bunda sehat-sehat dalam lindunganNya. Aamiin. Tapi kalo yang tgl. 14 Januari (Kamis) bukanlah hoax, memang berita yang benar terjadi dan teman bunda dengan beraninya (perempuan) dengan beraninya membidik dengan kamera hape, jenazah polisi yang tergeletak. Ya, ampuun, beraninya dia. Judulnya lucu ah, Mustinya Teror yang Mencekam, LOL.

  5. Hoax itu seperti makanan sehari-hari. Ada di mana-mana. Pinter-pinter aja

  6. Mari kita budayakan tabayyun 😉

  7. Biasanya hoax yang menyangkut keagamaan biasanya lebih mudah dipercaya dan cepat tersebar, padahal kalau sejarahnya dulu para ahli hadist punya budaya cek ricek yang ketat untuk mengecek sebuah hadist itu benar atau cuma hoax, beda dengan umat jaman sekarang yang begitu mudah percaya dengan berita nggak jelas. Saya suka cara pandangnya mbak memandang hoax, saya jadi kepengen buat hoax juga buat menguji kreatifitas. Pake "Semua yang di atas hanya fiktif belaka. Tapi, bayangkan jika semua itu nyata" tentu saja…

  8. kebanyakan hoax itu bisa memecah belah bangsa apaalgi kl behubungan dg SARA, menurutku sih gak ada bagus2nya berita hoax begitu. Jadi hrs pintar2nya kita membaca dan merechek kembali dan jangan sembarangan mensharenya

  9. Seringnya kalo ada broadcast aku cuekin si, abisan seringnya hoax jadi bikin hoex, hehehe. Nice post. 😀

  10. berita hoax memang cepat banget tersebarnya yah Mbak..
    semoga kita termasuk kedalamorang-orang yang gak terlalu gampang percaya dan menyebarkan berita hoax, amin..

  11. sekarang semakin banyak berita hoax. Harus semakin kuat saringannya 😀

  12. Hooh kalo masih bisa gumoh, gumoh deh mba, hahaha.

  13. Sharing is helping… kalo ga helping ga usah sharing, bener begitu kan pipah? Hehhe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *