Reportage

Kekuatan dari Bersosial (Media)

 

kopdar-cni

 

Kamu tahu rasanya bad mood berminggu-minggu? Kamu sadar itu salah. Kamu sadar itu menjatuhkanmu, tapi kamu tetap tengkurap. Meringkuk di dasar lubang.

Sungguh tidak enak. Lebih tidak enak daripada ketika malas menyerang. Ah, sudahlah.

Mungkin bad mood itu nyaris sampai puncak minggu lalu. 18 Desember. Aku seharusnya datang ke suatu acara. Tapi, aku sedang terkena sindrom enggan-bertemu-orang. Ada sebagian dari diriku yang berharap aku sakit saja supaya tidak usah datang. Masokis, ‘kan? Masa menginginkan diri sendiri sakit. Huh.

Setidaknya, logikaku masih jalan. Jadi, Minggu siang itu aku bisa membawa kaki jalan menuju Burger King Plaza Festival. I didn’t expect anything.

Sampai di lokasi, hampir semua sudah datang. Beberapa sudah tampak menghabiskan pesanan mereka. Sebetulnya, suasana cukup umm… kurang beraturan (menurutku yang suka sesuatu yang lurus ini). Suara bising langsung menyergap.

Tapi, seperti biasa, aku akan datar. Duduk (seolah) manis.

Ketika pembawa acara akhirnya muncul, aku merasa sangat lega. Akhirnya aku bisa berfokus pada sesuatu. Pembawa acaranya yang dulu juga membawa acara gathering dengan CNI. Yap, acara ini bekerja sama dengan CNI. Pembawa acaranya masih hobi ngejayus.

Acara dibuka dengan kuis. Karena tema acara adalah social media, dicarilah peserta dengan followers terbanyak. Tebak berapa followers pemenang kuis? 11000 lebih! Akun @daffana, milik Mbak Yayat. Keren sekali dirimu, Mbak.

Berbeda dengan acara lain, ada pengumuman live tweet juga. Biasanya ‘kan live tweet di akhir acara. Selamat untuk Kak Arisman Riyardi!

Dan, materi pun dimulai.

Social Media dan Adaptasi

Pertama, kami diajak kembali berkenalan dengan CNI. Sekarang, CNI sudah mempunyai aplikasi Android. Sebelumnya ‘kan sudah ada geraicni.com supaya bisa membeli produk-produk CNI secara online. Kini, CNI mengimprovisasi diri lagi dengan membuat aplikasi.

Zaman sekarang memang lebih banyak orang yang berbelanja online. Aplikasi memudahkan transaksi.

niko-riansyah

Menurut Mas Niko Riansyah, digital marketing CNI, generasi Z juga sangat suka multitasking. “Ketemuan” sudah tidak zaman lagi. Sudah ada FaceTime. Generasi Z percaya internet dan media sosial sangat membantu. Mereka sangat suka berbelanja online. Yaaa, ketemu teman saja lebih suka via online, apalagi berbelanja. Mereka juga termasuk strong buyer.

955ef09f930b0ed619608acc8779a65b

Kalau mau bermain dengan generasi Z, harus mempunyai kemampuan adaptasi dengan dunia mereka. Mereka sangat dinamis dan menyukai kepraktisan.

Selain strong buyer, mereka juga berjiawa enterprenuer. Yap, jadi mereka suka berbelanja, tapi juga mereka suka berusaha.

Cocok dong, ya, dengan CNI. Belanjanya mudah. Bisa juga untuk bisnis.

Social Media dan . . .

Materi berlanjut pada sesi selanjutnya. Sesi inti.

Sekarang ini, banyak pengguna social media yang setiap hari menebar hoax, memfitnah sesama. Menurut Teh Ani Berta, sudah seharusnya kita mengembalikan sosial media ke fungsi aslinya. Social media adalah untuk silaturahmi, bukan untuk mencari musuh.

teh-ani-berta

Kalau mau skill komunikasi yang baik, kita harus menyamakan dunia maya dengan dunia nyata. Di dunia nyata, setiap interaksi ada etikanya. Di dunia maya pun seharusnya demikian. Bukannya di dunia nyata berbaik-baik hati karena takut dijitak, sedangkan di dunia maya sesuka hati karena tidak ada yang akan menjitak. Duuuh, dijitak UU ITE mancaaap.

Sekalipun tidak takut UU ITE, ada hal yang lebih harus ditakutkan kalau berbuat seenaknya di social media: memutus tali silaturahmi. Jangan sampai muncul kalimat, “Ah, tadinya tidak kenal. Biar saja tidak kenal lagi juga.” Anggap saja teman di dunia maya dan dunia nyata sejajar. Toh, sama-sama manusia. Tapi, bukan berarti legal boleh sibuk main hp ketika bertemu teman nyata. Itu, sih, bisa membuat orang kesal dan ujung-ujungnya memutus tali silaturahmi juga.

Memutus silaturahmi bisa memutus pintu rejeki juga, ‘kan?

Zaman sekarang, makin banyak orang jenius. Orang-orang ahli berkeliaran di luar sana. Kita ahli apa? Kita jenius apa? Merasa tidak ahli? Merasa tidak jenius? Dari social media-lah kita bisa membuka peluang sendiri. Kalau niat, kita pun bisa belajar secara otodidak. Kalau niat. 

Nah, bagaimana mau membuka pintu rejeki dari sisi sosial kalau berbuat onar dan menganggu ketenangan sosial? Ada, sih, seleb socmed yang tenar berkat keonarannya, tapi itu mah tidak pantas ditiru. Sebelum mengharapkan rejeki berupa ladang emas, lebih dulu mengharapkan rejeki berupa teman yang banyak. *kok aku jadi sok bijak gini* Pokoknya, membuat orang lain merasa nyaman dan aman dengan socmed kita bisa memberi aura positif. Bermedia sosial ‘kan juga untuk berbagi manfaat.

ciptakan-kredibilitas

Supaya makin banyak yang aware dengan kehadiran kita di social media, konten tentunya hal yang harus dipikirkan.

Boleh saja memfokuskan diri membahas topik-topik terkini. Bagus, kok. Sekali lagi, selama bisa tidak mencari musuh. Tidak perlu provaktif. Tidak setuju dengan aksi 212 lalu? Ya, tidak usah menuai kebencian. Sebal lihat yang tidak setuju dengan aksi 212? Tidak usah nyinyir kiri kanan. Banyak cara menyampaikan maksud dengan baik. Kata orang, sih, kalau tidak bisa berkata baik, lebih baik diam. Umm… lebih baik cari topik lain.

Supaya konten kece dan ada “peyangganya”, bisa dengan membuat content plan. Itu loh, sudah merencakan mau cuap-cuap di socmed. Sudah dibuat draft juga. Untuk membuat content plan, Teh Ani juga berbagi panduannya:

  • Tentukan waktu

  • Tentukan jumlah konten yang akan dibuat. Kalau twit, baiknya minimal 5 cuitan, maksimal 15 cuitan.

  • Siapkan gambar/video

  • Kalimat demi kalimat harus putuh dan tidak menggantung. Kalau twit (lagi), setiap twit kalimatnya harus sampai titik. 140 karakter

  • Siapkan hashtag. Bikin hashtag ala sendiri? Boleh banget. Bisa menjadi penanda. Orang lain juga akan mudah ketika ingin mencari suatu konten.

Kenapa “kalau”-nya hanya twit? Karena Twitter yang paling terbatas. Facebook dan Instagram mah bisa menulis panjang-panjang. Instagram asalkan fotonya menarik, sudah mengundang orang untuk tap more“.

Bahasa yang digunakan dalam konten tidak harus baku dan kaku. Justru lebih baik dengan bahasa sehari-hari. Santai saja. Pembaca juga jadi tidak merasa membaca koran. Hehe.

Naaah. Dengan semua konten yang sudah dipikirkan masak-masak, jangan lupa juga membangun interaksi dan menjaring followers. Hal ini bisa dengan memberikan kuis kecil-kecilan. Pulsa Rp5000 juga sudah membuat orang lain senang kok. *pencinta gratisan*

After all, semoga makin banyak yang bermedia sosial dengan damai. Damai media sosialku!

Setelah sesi dari Teh Ani, ada pengumuman live tweet lagi. Alhamdulillah, aku dapat bersama Mbak Tuty Queen. Duuh, jadi malu padahal awalnya sudah tidak semangat datang.

Acara pun diakhiri dengan sesi foto.

Aku sama sekali tidak menyesal datang ke acara ini. Bahkan, aku yakin justru aku akan lebih menyesal kalau tidak datang. Sindrom enggan-bertemu-orang cukup terobati. Semoga tidak kembali lagi. Bersosial ‘kan bisa juga memotivasi.

Recharge semangat. Belajar lagi.

received_10207499153029554-01

8 Comments

  1. Fifah makasih banyak sudah hadir di acara ini ya walau lagi sakit 🙂

  2. semangat terus fifaah
    makasih sharenya yaa

  3. Iya banget, ketemu banyak orang bisa membuat semangat. Dulu waktu habis melahirkan, saya pernah dapet rasa yang males cenderung takut ketemu orang. Sebabnya ya perubahan tubuh dan hormonal. Tapi begitu maksain, eh ternyata jadi obat. Dan banyak ilmu yang didapat. Tfs…

  4. Kredibilitas dan branding adalah salah dua hal penting supaya bisa tetap eksis di media sosial ya mbak ?

  5. Di era serba digital ini, memang banyak peluang bisnis dan berusaha melalui sosial media. Apalagi buat kita-kita para freelancer ini ya Kak. hehe

  6. Acaranya seruuuu! Buat aku sosial media sama seperti tv, gadget or hal-hal lain yg punya sisi positif-negatif, secara pribadi aku lbh suka jadiin sosmed sarana berteman & sharing tulisan.. Males curhat2 ngga jelas & nulis hal provokatif krn akan merugikan diri sendiri juga 😀

  7. Hihihi,,,akhirnya gak nyangka ya…jadi happy ending. Tadinya enggan datang, malah dapet rejeki. Silaturahmi bisa mendatangkan rejeki, bukan? ^_^

  8. zaman sekarang kekuatan sosial media sangat besar sekali pengaruhnya ….terutama bagi pebisnis online

Leave a Reply

Required fields are marked*