Opinion, Reportage

Suarakan #SuaraTanpaRokok Agar Suaramu Tidak Hilang Karena Rokok

Aku sangat yakin zaman sekarang sebagian besar orang tahu dewasa dan remaja tahu merokok sangat tidak baik bagi kesehatan. Kesehatan fisik sekaligus kesehatan dompet. Sayangnya, sebagian besar perokok masih saja denying. Bahkan, beberapa perokok akan berkata,  “Mati itu takdir Tuhan.”

Oh, great. Salahkan saja Tuhan kalau kalian meninggal. Salahkan Tuhan kalau kalian terkena kanker. Juga, salahkan Tuhan kalau kalian terkena penyakit aneh.

Tentunya, salahkan juga Tuhan kalau anakmu meninggal karena penyakit paru-paru, dear perokok.

It happened a few days ago. Ketika membaca status-status yang berseliweran di Facebook, ada seorang teman mengabarkan bayi temannya meninggal karena infeksi paru-paru. Terucaplah pertanyaan, “Ayahnya perokok?” Dan, seperti mungkin kalian semua sudah menduga, jawabannya “iya”.

Girls, kamu boleh cinta dengan calon suamimu, tapi kamu juga harus sudah lebih cinta dengan calon anakmu yang belum ada itu. Begitu juga dengan kalian calon bapak yang calon istrimu perokok. Apalagi kalau dua-duanya perokok. Huhu.

Kalau sudah kejadian seperti anak temannya temanku itu, mau mengutuk si bapak menjadi abu pun tidak akan menbuat si anak kembali.

Okay, pardon me atas kebaperan ini.

Tapi, serius, deh. Korban perokok bukan hanya bayi itu saja. Berdasarkan penuturan Ibu Dwi Martiningsih, Kepala Litbang BPJS, pads konferensi pers “Penyakit yang diakibatkan rokok” 27 Januari lalu,  BPJS mengeluarkan Rp7,57 trilyun untuk mengobati pasien dengan penyakit akibat rokok. Lalu, kalian masih mengeluh fasilitas kesehatan di Indonesia masih kurang memadai? Aku ulangi, lebih dari tujuh trilyun dikeluarkan akibat para perokok.

Penyakit Akibat Rokok

Masalah rokok di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Data Global Adult Tobacco Survey: Indonesia Report 2011 menunjukkan jumlah perokok aktif di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, sebanyak 67% pria dan 2,7% wanita merokok tembakau. Berdasarkan data The Tobacco Atlas, lebih dari 2.677.000 anak dan 53.767.000 orang dewasa mengonsumsi tembakau setiap hari. Masih dari The Tobacco Atlas, tahun 2015, lebih dari 217.400 orang di Indonesia meninggal akibat penyakit akibat rokok setiap tahun.

Mengutip Dr. dr. Agus Dwi Susanto Sp.P(K), Ketua Divisi Penyakit Paru dan Lingkungan RSUP Persahabatan,  angka penyakit-penyakit akibat rokok juga meningkat pesat di RSUP Persahabatan. Tahun 2000, kasus kanker paru ada sekitar 200, sedangkan tahun 2015/2016 meningkat menjadi 2000 kasus. Meningkat 10 kali lipat. Dari kasus tersebut, 83,6% pria penderita adalah perokok. 43,4% pasien wanita juga perokok.

Data RS Harapan Kita (1990-an) juga menunjukkan 80% penderita vascular disease adalah perokok.

Nah, para perokok itu, begitu sakit masih menggunakan dana BPJS. Unfortunately, hal ini tidak sebanding dengan kemampuan bayar. Kelompok kelas 3 rata-rata hanya mampu membayar Rp16.000 iuran BPJS dari yang seharusnya Rp25.000. Di sisi lain, kelompok ini mampu membeli rokok dengan harga Rp30.000.

Nggak malu tuh, Pak, Bu?

Rokoknya diganti rokok elektrik atau vape saja untuk mengurangi resiko bahaya?

Itu bisa-bisanya marketing saja. Rokok elektrik, vape, shisha semua sama saja berbahayanya. Pada dasarnya, bahaya rokok timbul dari proses pembakarannya. Proses-proses pada jenis rokok lain juga sama berbahayanya. Lagipula, zat-zat kimia yang masuk ke dalam tubuh terlalu sering akan berbahaya.

Peran Pemerintah dan Kita Semua

Ke mana saja pemerintah selama ini?

Pemerintah sudah merilis Undang-undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, yang menyebutkan bahwa tembakau daj produk yang mengandung tembakau dianggap zat adiktif dan akan diatur untuk melindungi kesehatan individu, keluarga, masyarakat, serta lingkungan.

Tahun 2014, pemerintah juga mengeluarkan peraturan tentang kebijakan bergambar yang harus ditampilkan pada setiap iklan dan kemasan produk tembakau. Plus, pemerintah juga mengeluarkan kebijakan kawasan tanpa rokok di tempat umum dan area kerja.

Kampanye pengendalian tembakau juga terus dilakukan melalui media massa dengan menampilkan korban dari penggunaan tembakau dan asap rokok. Sejauh ini, sudah ada enam fase dari kampanye tersebut. Fase keenam ditayangkan Januari-Februari 2017. Fase ini menunjukkan beberapa penyakit akibat rokok dan menampilkan beberapa potongan gambar asli dari para korban, seperti kanker paru dan kanker tenggorokan yang merenggut pita suara Robby Indra Wahyuda (alm).

Sejak Mei 2015, ada kampanye #SuaraTanpaRokok. Situs www.suaratanparokok.co.id, mengumpulkan kisah-kisah korban rokok, tips berhenti merokok, dan alamat klinik-klinik yang menyediakan layanan berhenti merokok.

Di media sosial, kampanye #SuaraTanpaRokok sudah menjaring lebih dari 20 juta orang di Facebook, Instagram, Twitter, dan YouTube.

Actually, 50-70% perokok ingin berhenti. Sayangnya, hanya 5% yang berhenti dengan sendirinya. Di sinilah peran orang-orang terdekat untuk terus memberikan motivasi.

Tahap-tahap awal mungkin akan sulit. Sifat adiktif rokok memberikan efek ketagihan dan rasa nyaman lain. Aspek kebiasaan juga mungkin menjadi hal yang sulit. Setiap hari pegang rokok, tahu-tahu ada yang hilang. Tapi, setelah tahap pembiasaan itu, dampak berhenti merokok akan mulai terasa ke arah lebih baik.

Oh, ya, untuk menghindarkan calon-calon perokok baru, sebisa mungkin hindari lingkungan perokok. Hindari juga iklan-iklan rokok. Iklan-iklan itulah salah satunya yang membuat jumlah perokok terus naik. Iklan-iklan itu tampak keren sehingga bisa membuat orang berpikir merokok bisa membuat keren. Aslinya mah, boro-boro keren, yang ada malah penyakitan dan miskin gara-gara beli rokok terus.

Wiss, ah. Rokok mah apanya yang bikin bahagia coba? Kebahagiaan-kebahagiaan yang didapat dari merokok cuma kebahagiaan semu. Daripada untuk beli rokok, mending untuk beli beras dan telur buat emak. Bikin emak bahagia.

11 Comments

  1. Riyardi Arisman

    Alhamdulillah, w jauh-jauh dari rokok hehehe.. semakin tahu nih, makasih sharenya.

  2. Sudah banyak kasus kematian karena rokok, tapi masih banyak yang merokok ya. Jangan pernah mencoba merokok karena bikin kecanduan.

  3. Setuju banget Say no to tobacco

  4. Papaku perokok aktif dan tak mudah untuk memintanya berhenti merokok 🙁
    Semoga tak banyak jatuh korban ya mba

  5. Aku suka geregetan dgn iklan-iklan rokok. Baik iklan di tv atau di jalan-jalan. Gambar dan kata-kata yg ditampilkan sengaja dibuat tampak keren. Jadi tak heran ada sebagian remaja yang ikutan merokok agar terlihat keren seperti yg mereka lihat. Hiks

  6. yaaa…gimana mau berhenti. harga rokok sepak 16.000 isi 12. ga peduli rokok apa itu tapi kalo sebatang aja ga sampe seribu dan bisa ngecer…?

    ini juga yang menarik perokok baru. faktor keterjangkauan.

  7. Perokok aktif gk bs berhenti kecuali dirinya sendiri ingin berhenti. Alhamdulillah kok suamiku gk suka rokok blas

  8. Semoga banyak orang tersadar tentang bahaya rokok ya mba 😀

  9. Alhamdulillah mulai th depan dikota saya, Padang, sudah melarang pemasangan papan iklan rokok

  10. Benci banget sama asap rokok..Kadang saya kasihan sama perokok yang sudah tidak bisa lagi lepas dari rokoknya..Karena saya ada teman yang sudah coba untuk berhenti, tapi tetap gagal.

  11. Harus lbh kuat kampanye anti rokok ni. Biar banyak orang menghindari rokok

Leave a Reply

Required fields are marked*