Stasiun Bogor tahun 2016

 

Pengalaman traveling ke mana yang bagimu paling berkesan?

Bagiku, salah satu pengalaman traveling yang paling berkesan adalah ke …

Jakarta.

Yup, kamu nggak salah baca. Ja-kar-ta.

Ini cerita tentang bertahun-tahun lalu.

Aku lupa kapan, yang pasti ketika aku SD.

Yah, walau dibilang berkesan, memoriku agak bercampur-baur. Mungkin karena saking seringnya ke Jakarta dan melakukan hal yang mirip walau agak sedikit beda.

Walau sering dan memoriku campur-aduk, aku tetap merasa pengalaman-pengalaman itu sangat berkesan.

Naik Kereta AC atau Kereta Horror

Aku pergi ke Jakarta tentu saja bersama Ibuk, Bapak, dan adik. Beberapa kali naik mobil, beberapa kali naik kereta. Yang belum pernah sih naik bus (seingatku).

Pengalaman yang aku bilang berkesan itu ketika naik kereta.

Kadang-kadang, kami naik kereta Pakuan. Kereta listrik versi bagus, ber-AC, dan cepat karena hanya singgah di beberapa stasiun saja. Wujudnya agak mirip commuter line zaman sekarang, hanya saja jauuuuuhhhh lebih lowong. Nggak ada orang berdesakan. Satu gerbong bisa hanya diisi beberapa orang saja. Mungkin karena harganya yang terbilang mahal. Kalau dikonversi ke harga zaman sekarang, entahlah jadi berapa.

Commuter line zaman sekarang

Kadang-kadang, kami naik kereta ekonomi juga. Kereta listrik juga, pastinya. Aku belum tua banget, kok. Sepanjang hidupku sampai sekarang, kereta Jakarta-Bogor yang aku kenal cuma kereta listrik. Tapi, kereta ekonomi tuh versi yang sangat berbanding terbalik dengan kereta Pakuan. Kereta ekonomi sering penuh, bau, kotor, pintu di gerbong-gerbongnya bahkan nggak bisa ditutup. Pedagang pun bebas menjajakkan dagangan di dalam kereta.

Aku, sih, tentu saja lebih suka naik kereta Pakuan. Dingin dan nggak bau. Kereta ekonomi menurutku horror. Tapi, yaaah, aku sih nurut saja kalau diajak.

Jajan Sembarangan?

Salah satu memori yang aku ingat, kami pernah turun di stasiun besar. Aku lupa stasiun apa. Waktu itu, masih banyak pedagang di dalam stasiun. Sekarang kan palingan cuma toko-toko franchise, ya? Dulu tuh pedagang biasa juga ada.

Lalu, Ibuk dan Bapak makan di salah satu stand (?) para pedagang itu. Aku sih cuma menunggu. Dulu, mana mau kan aku jajan sembarangan. “Children see, children do” nggak berlaku padaku kalau soal jajanan. Yang berlaku adalah “children dibilangin jajan sembarang itu bahaya, children langsung kebayang kuman dan hal-hal yang bikin jijik”.

Kalau aku sih, kayaknya makannya nggak jauh-jauh dari ayam goreng tepung yang restonya menjamur di seluruh dunia. Resto ayam goreng masih jauh lebih bersih daripada makanan di stasiun kereta, ‘kan?

Tujuan Utama

Aku nggak tahu ini-dan-itu masih memori yang terjadi dalam 1 hari atau bukan, memori lain yang aku ingat adalah kami jalan kaki. Banyak jalan kaki. Banyaaaak banget. Aku lupa ke mana, tapi seingatku aku melihat banyak bangunan tua.

Keadaan di sekitar bangunan-bangunan itu semrawut. Lalu lintasnya, pedangan kaki limanya, crowded deh. Kadang-kadang, aku heran kami tuh sebetulnya mau ke mana? Seperti nggak ada tujuan utama (walau aku yakin ortuku pasti punya tujuan).

Kami juga pernah mengunjungi toko buku. Akhirnya, ya. Toko buku! Tapi, ternyata …

Toko buku yang saat itu kami datangi menurutku aneh. Suram. Karena apa? Karena buku-buku nggak menarik bagi anak-anak.

Tapi kemudian, kami pergi ke Toko Buku Gunung Agung. Toko buku Gunung Agung masih berjaya kala itu. Toko Buku Gunung Agung yang kami masuki kala itu menurutku besaaaar banget. Seingatku, toko tersebut merupakan bangunan tersendiri, kayak Gramedia Matraman zaman sekarang.

Di sana, baru deh aku senaaaaaang banget. Banyak produk yang diperuntukan bagi anak-anak.

Well, walaupun sepanjang perjalanan sepertinya aku bertemu banyak debu, panas, dan bau, aku rasa aku menyukai semua hal dalam perjalanan-perjalanan yang kuingat itu. Bukan cuma ketika ke Toko Buku Gunung Agung. Yaaah, mungkin aku sempat sebal sewaktu dibawa ke toko buku yang saat itu menurutku aneh dan sebal juga kalau naik kereta yang dinaiki ternyata ekonomi. Hehe.

Tapi, menilik ke belakang, sepertinya bikin anak-anak senang memang nggak perlu mahal. Aku yang sebetulnya nggak suka panas, bau, dan semacamnya saja senang dibawa jalan-jalan seperti itu. Ajaib banget.

Bahkan, kayaknya kebiasaan itu kebawa sampai sekarang. Kalau merencanakan jalan-jalan, aku biasanya menikmati keliling kota. Kalau memungkinkan, malah jalan kaki menjadi pilihan terbaik. Apa lagi, kalau bisa menemukan gedung-gedung tua dan melihat keseharian warga lokal.

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *