Duluuuu, dulu banget. Aku suka banget mengunjungi kafe atau resto untuk mencari suasana baru. Mencicipi berbagai menu sudah pasti menjadi hal utama. Aku memang sukaaaaa makan. Tapi, mencari suasana juga termasuk hal yang menjadi pertimbangan.

Sekarang, aku makin jarang makan di luar. Makan di rumah lebih terjamin (mudah-mudahan). Dan, kalau makan di luar, aku makin pilih-pilih.

Bukan apa-apa, setelah sering baca artikel Halal Corner di Facebook dan Instagram, aku baru tahu bahwa nggak semua resto dan kafe yang tampak biasa itu memang halal. Aku juga baru tahu kalau ada resto yang menyajikan bir dan semacamnya, mending dihindari karena ada kemungkinan kontaminasi.

Maaf, yaaa, buat teman-teman yang pernah aku ajak ke sana.

Bahkan, belum lama ini, aku baru tahu dari akun Instagram ternama bahwa salah satu resto sushi franchise yang ada di Bogor ternyata menggunakan mirin. Huhu. Kalau nggak bertanya, nggak dikasih tahu. Huhu. Jadi, aku merasa perlu makin hati-hati.

Jadi, mending pilih resto fast food yang sudah jelas saja, deh. Lagian, setelah dipikir-pikir, resto tempat aku betulan pernah menghabiskan waktu berjam-jam justru resto fast food.

Resto itu nggak lain dan nggak bukan adalah McDonald’s. Haha.

Zaman masih memburu wi-fi dan colokan, McDonald’s adalah andalanku. Wi-fi McDonald’s memang indaaah banget. Cepat banget. Dan, kalau bisa datang di waktu yang tepat, bisa dapat spot dengan colokan.

Dulu, di Bogor ada 4 resto McDonald’s. Sekarang, kayaknya tinggal 3.

McDonald’s kayaknya resto yang baik banget bagi penggemar wi-fi. Sesering-seringnya aku dulu ke McDonald’s, belum pernah kerasa diusir secara halus padahal aku duduk di sana cukup lama.

Lamanya juga nggak dari pagi sampai sore, sih. Aku biasanya mulai pagi sewaktu masih sepi. Lalu, pulang sebelum dzuhur.

Mungkin karena masih jam sepi, ya, jadi santai saja tanpa takut menuh-menuhin resto. Dan, aku pulang sebelum dzuhur karena memang harus salat.

Lain lagi dengan teman-temanku, mereka pernah ke McDonald’s malam hari untuk mengerjakan tugas. Karena malam hari, jadi nggak diusir juga. Siapa juga yang mau hang out di McDonald’s tengah malam, ‘kan?

Memilih waktu yang tepat memang penting, sih, kalau mau berlama-lama di resto dengan nyaman. Lagian, ngapain, sih, berlama-lama banget di tempat makan?

Aku pribadi memang biasanya bisa mengerjakan banyak hal di luar rumah. Tapi, itu sebatas gambaran kasar. Untuk finishing, merapikan, memperhalus, biasanya aku kerjakan di rumah.

Mencari inspirasi di tempat umum mungkin sekadar me-refresh otak dengan perbedaan suasana. Selebihnya, proses produksi tetap dilakukan di rumah.

Kadang-kadang, aku malah sekadar keluar rumah supaya otak ter-refresh. Nggak bawa laptop. Tanpa berusaha membuat draft apa pun. Begitu sampai rumah, baru deh proses berpikir yang sesungguhnya.

Itu dulu, sih. Sekarang, kalau ke luar rumah, kayaknya malah jadi lelah gara-gara macet dan polusi. Kalau bisa di dalam rumah terus, aku kayaknya nggak akan keluar-keluar. Haha. Tapi hidup memang harus realistis. Sekadar kirim paket saja, harus keluar rumah (karena layanan ekspedisi yang pasti bisa paket nggak diplastikin lagi belum menyediakan fitur pick up).

Alasan lain aku makin prefer di rumah adalah layout tempat tinggalku sudah jauuuuuh lebih menyenangkan dibandingkan dulu. Jadi, home sweet home itu betulan ada.

Pantas saja buku soal berbenah laku banget, ya. Hehe. Apa lagi, kadang-kadang, buku seperti itu bukan cuma soal menata barang, tapi juga tentang menghasilkan energi baik dari rumah.

Ditambah, sekarang, aku bisa melihat sisi lain bumi bahkan dari rumah. Jadi, hidup ini memang menyenangkan.

You may also like...

2 Comments

  1. Dan di rumah pun kita memiliki satu sudut terfavorit ya….ga bisa di mana saja.
    Karena setiap dari kita memiliki namanya “HOME”

    1. Sudut favorit, bener banget, disitulah ide sering muncul. Thats home sweet home…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *