Uncategorized

Terima Kasih, Ibu di RS. Aku Jadi Tahu Bahwa Jurnal Kesehatan Itu Penting

 


 

“Bu, adiknya sakit apa?”

“Sebentar, tadi saya catat.”

Kemudian, sang ibu mencari catatan tersebut. 1… 2… 3… Aku melihatnya mencari-cari di antara sidedesk. Kalau ibu itu mau mencari sampai ketemu, sebetulnya tidak masalah. Semakin lama aku berada bersama pasien, semakin aku terlihat “kerja”. Tapi, kasihan juga melihat ibu itu kesulitan mencari catatannya.

“Ya udah, Bu. Nanti saya pinjam catatan perawat.”

Yah, sebetulnya, pertanyaan itu hanya pertanyaan basa-basi yang diajarkan temanku. Kata temanku, lebih baik kalau kami berbasa-basi menanyakan hal seperti itu daripada langsung menanyakan kebiasaan makan pasien. Ahli gizi sebenarnya, sih, tidak apa kalau bertanya langsung. Kalau anak PKL (Praktik Kerja Lapangan) yang bertanya langsung tanpa basa-basi, bisa dikira songong, katanya.

Anak PKL juga boleh melihat rekam medik pasien. Itu, loh, yang aku bilang catatan perawat. Melihat bagian depannya saja, sudah ketahuan pasien mengalami apa. Walaupun tidak sejelas kalau membaca bagian dalamnya, setidaknya sudah ada gambaran kondisi pasien.

Oh, ya, aku PKL di salah satu rumah sakit ibu dan anak di Jakarta. Kami hanya diperkenankan “berkenalan” dengan pasien anak-anak saja. Jumlah pasien anak-anak lebih banyak daripada pasien dewasa.

Karena pasien kami anak-anak, orangtuanyalah yang kami tanya-tanya. Sebagian besar pasien masih balita. Ada, sih, yang sudah belasan tahun, tapi tidak banyak.

Informasi yang kami butuhkan sebetulnya kebiasaan makan pasien sebelum sakit. Sebagai pembukaan, kami biasanya menanyakan pasien sakit apa. Seperti kata temanku, supaya tidak dibilang songong.

Sayangnya, beberapa nama penyakit mungkin terlalu sulit untuk diingat. Aku yakin para orangtua bukannya tidak berniat mengingat nama penyakit anak mereka. Hanya saja, nama itu baru bagi mereka. Aku pun baru mengetahui istilah-istilah itu ketika PKL. Daripada menyebutkan istilah yang sulit, mereka biasanya mendeskripsikan dengan bahasa yang mudah dipahami.

Hal ini mungkin akan ribet ketika pindah tempat berobat. Mungkin saja, ketika si adik sembuh, keluarga mereka
pindah tempat tinggal. Kalau si adik sakit (jangan sampai, sih), mungkin tenaga medis akan menanyakan riwayat kesehatan mereka sebelumnya. Beberapa deskripsi dan gejala penyakit sekilas mirip-mirip. Ini pandanganku sebagai orang yang tidak begitu menyelami dunia medis secara mendalam, ya.

Walaupun begitu, aku pernah mendengar kalau ada orang yang berobat ke dokter ini, dibilang sakit ini.
Berobat ke dokter itu, dibilang sakit itu. Mungkin itu karena gejala beberapa penyakit hampir sama. Itu biasanya terjadi sebelum penyelidikan (duh, bahasaku) lebih lanjut. Lain halnya kalau sudah ditangani dan sudah sembuh. Tidak mungkin kan, pasien bilang,

“Dulu pernah sakit ini ini ini.”

Kemudian, si dokter beranggapan pasien dulu pernah mengalami penyakit ini. Nggak boleh, kan?

Ada juga, sih, orangtua pasien yang sangat rapi dalam menyusun berkas kesehatan anaknya. Aku selalu salut dengan orangtua yang seperti itu. Orangtuaku juga seperti itu, sih, tapi aku sendiri masih sembrono. Hehe. Yaah, aku harus belajar meniru mereka. Tidak mungkin selamanya aku bergantung pada orangtuaku untuk mencatat semua hal tentang kesehatanku. Kalau nanti, pergi ke dokter atau rumah sakit sendiri, aku mau memberikan keterangan spesifik supaya dokter lebih mudah memberikan tindakan yang tepat.

Orangtua yang langsung bisa menjawab pertanyaan basa-basiku juga ada. Mereka bisa mengingat nama penyakit yang bahkan aku pun perlu melihat rekam medik untuk memastikan tidak salah eja ketika menuliskannya. Aku juga salut dengan orangtua yang seperti ini. Walaupun begitu, aku tidak tahu harus berkata apa ketika orangtua hanya bisa memberikan deskripsi umum hal yang dialami anaknya. Aku hanya bisa bilang, “Nanti saya pinjam catatan perawat.”

Kalau dulu sudah ada aplikasi jurnal kesehatan MedicTrust, mungkin aku akan menyarangkan aplikasi ini kepada orangtua pasien.
Hasil pemeriksaan dokter bisa disimpan dalam aplikasi mobile ini. Ponsel kan termasuk barang yang akan diingat pertama kali dalam berbagai keadaan. Jadi, lebih mudah menyimpannya di ponsel. Selain itu, ada dua cara penyimpanan di aplikasi ini. Ada online dan offline atau menyimpan di memori ponsel. Aplikasi ini mempermudah pengguna memantau riwayat kesehatan ketimbang hanya mencatatnya di memo ponsel.

Selain nama penyakit secara spesifik, hal yang perlu diingat adalah hasil-hasil pemeriksaan. Hasil pemeriksaan lab, imaging, dan sebagainya. Kalau ini, sih, sepertinya tidak mungkin diingat secara keseluruhan. Pasien biasanya diberi berkas untuk disimpan.

Untuk beberapa kasus, pasien bahkan perlu melakukan cek berkala sendiri. Orangtua temanku ada yang harus selalu mengontrol tekanan darahnya sehingga mempunyai alat pengukur tekanan darah sendiri. Ketika harus cek kembali ke dokter, hasil pengukuran pribadi itu dijadikan bahan untuk melihat perkembangan kesehatan.

Mencatat dan menyimpan riwayat kesehatan bermanfaat bagi kita. Bermanfaat juga bagi tenaga medis. Mengetahui riwayat kesehatan pasien bisa mempermudah pekerjaan tenaga medis. Sekalipun kita datang ke dokter untuk alasan berbeda dengan penyakit sebelumnya, mungkin saja sebetulnya masih ada hubungan, tetapi kita tidak tahu. Kalau sudah tahu riwayat kesehatan pasien, mungkin akan lebih mudah memprediksi apa yang sebetulnya terjadi pada pasien dan tindakan apa yang sebaiknya diambil.

Mengetahui riwayat kesehatan pasien juga bisa membantu dokter gizi dan ahli gizi memberi diet yang tepat bagi pasien. Apakah pasien boleh mengonsumsi garam? Apakah harus makanan rendah lemak? Apakah pasien sedang menjalani pengobatan tertentu? Dan, sebagainya. Hal ini terutama diperlukan bagi pasien-pasien baru.

Oh, ya, riwayat kesehatan juga tidak melulu soal penyakit. Segala macam alergi juga bisa termasuk. Alergi yang sepele juga sering dilupakan karena jarang kambuh.

Pernah, waktu masih SMA, ada teman datang-datang heboh. Ternyata, dia baru pulang dari rumah sakit dan takut terlambat. Alerginya tiba-tiba kambuh. Dia lupa kalau punya alergi makanan. Pasti tidak enak kalau alergi tiba-tiba kambuh seperti itu.

Kalau karena makanan yang dimakan karena pilihan sendiri, sih, mungkin yang dibuat pusing hanya diri sendiri dan orangtua. Bagaimana kalau alergi kambuh karena makanan yang diberikan rumah sakit? Misalnya saja, lupa memberi tahu kalau ada alergi sehingga makanannya tidak dibedakan dengan pasien lain. Aku, sih, tidak mau dimarahi ahli gizi atau dokter gara-gara salah memberi makan. Hehe.

Selain alergi makanan, alergi obat juga sangat penting untuk dicatat. Nah, biasanya, alergi obat justru yang sering tidak begitu disadari. Apalagi, nama-nama obat lebih sulit daripada nama makanan. Dokter pun tidak akan tahu kita punya alergi apa kalau hanya melihat sekilas. Salah-salah obat, yang ada malah timbul reaksi alergi. Makin sakit, deh.

So, mencatat riwayat kesehatan memang penting. Daripada sekadar catatan biasa, lebih mudah melihatnya kalau dirapikan dalam sebuah jurnal. Dibuat juga kategori-kategori supaya mudah mencarinya. Membuat jurnal blogging bisa, masa membuat jurnal kesehatan tidak bisa. ^^v

Kalau tidak mau ribet, pakai MedicTrust juga bisa. Fasilitas di dalamnya sudah lengkap, bahkan bisa menyimpan hasil lab dan foto imaging. Kita hanya perlu membuat akun dan jadilah sebuah jurnal kesehatan. Kategori yang ada pun sudah lengkap. Satu akun bisa untuk membuat jurnal kesehatan satu keluarga.

Kalau mau tanya-tanya masalah kesehatan kepada dokter juga bisa. Ada banyak dokter yang sudah bergabung dengan MedicTrust. Aplikasi ini memfasilitasi konsultasi pribadi dengan dokter. Hal ini berbeda dengan konsultasi dalam forum. Di sini, hanya kita dan dokter yang tahu. Aku belum mencoba layanan ini karena aku merasa belum ada yang perlu dikonsultasikan. Hehe. Alhamdulillah.

Kalau mau tahu lebih lanjut tentang MedicTrust, bisa download aplikasi ini lebih dulu. Aplikasi ini sudah tersedia untuk Android dan iOS. Mau intip media sosialnya dulu juga bisa. MedicTrust sudah mempunyai akun Instagram, Twitter, dan Fanpage Facebook.

Membuat jurnal kesehatan di smartphone memang praktis. Kalau ada kejadian yang tidak diinginkan, hal yang pertama diingat pasti smartphone. Pada dasarnya, ketika terjadi hal darurat, hal yang pertama kali terlintas adalah menghubungi keluarga. Secara tidak langsung, terlintas untuk menyelamatkan smartphone juga. Karena sudah ada mempunyai jurnal kesehatan di smartphone, riwayat kesehatan pun ikut aman bersama kita.

Karena kesehatan sangat berharga, sekadar membuat jurnal kesehatan tidak akan merugikan. Mau membuat jurnal di buku, boleh. Membuat jurnal di smartphone, juga boleh. Mau membuat dua-duanya, sangat boleh. ^^

You may also like...

37 Comments

  1. Iya. Orang-orang sekarang juga makin smart sih. ^^

  2. yups, karena sehat itu penting 🙂

  3. semakin ke sini semakin acnggih ya, semua bisa pakai smartphone

  4. aku pilih bikin jurnal kesehatan di medictrust aja. kalo nulis manual, tulisanku jelek bngt 🙁

  5. Fifah infografisnya lucuuuu…selucu kamuuu

  6. Makasih dibilang lucu. Aku terharu. T.T

  7. Apalagi tulisan tanganku. Hehe. 😀

  8. Apajah data terjamin keamanannya?

  9. Medic trust…kaya rekam medik pribadi kali ya?

  10. Medict trust…bagus kayanya ya 🙂

  11. Ih infografisnya keren eum…. udah download juga aplikasinya.. tapi belum dipake. hehe..

  12. Kereen Fifah

  13. Boleh bangeeet. 😀

  14. Kerenan yang bikin jurnal kesehatan, Mbak. Hehe.

  15. Ini mah kerjaan Canva, bukan aku. 😀

  16. Siap, Kakak Evrina! 😀

  17. Dicicil aja masukin datanya. Ntar juga beres. Hehe. Kalau mau minta tolong masukin arsip ke pihak MedicTrus-nya juga bisa, kok.

  18. Nah, iya. Udah download belum? 😉

  19. Kalau masih asing, wajar kok. Yang penting mengerti keadaan anaknya. ^^

  20. Memang bagus. ^^

  21. Iya. Sederhananya sih gitu. 🙂

  22. Iya. Sederhananya sih gitu. 🙂

  23. Insya Allah aman, Mbak. Yang bisa lihat cuma kita. Dokter pun nggak bisa lihat kalau nggak kita kirim secara personal. ^^

  24. Medic trust…belum pernah coba, nanti coba deh, gereget juga kalu orangtua ditanay riwayat sakit anaknya dia ga tau jadi kaya yg ga perhatian sama anaknya 🙁

  25. Wahh.. Menarik nihh.. aplikasinya akan sangat membantu kita, terutama kalau sering pindah2 hidupnya seperti saya.. XD

  26. haha smile kasian deh kamu sakit hati, jangan lupa dicatat di jurnal kesehatan juga ya hehe

  27. Postingannya kereen euy, ajarin infografisnya dong Faah

  28. Wow, aplikasi luar biasa. Coba downlod juga ah. 😀 Makasih sharenya. 🙂

  29. aku gak pernah nyatet riwayat kesehatan dan penyakit, kayaknya harus mulai sekarang dicatet ya mbak meski masih inget pernah sakit apa aja takut pikun heheh.. nice info and grafis mbaa 🙂

  30. keren ih adikku ini. *ngaku2

  31. Aq suka sama infografisnya….ajarin ddooong

  32. Leyla Hana Menulis

    Oh pantes memang berpengalaman dan infografisnya cakep. Selamat ya Fifah 🙂

  33. jurnal kesehatan kalau dalam penelitian/riset mungkin akan semacam log book ya

  34. Lucu banget gambar-gambarnya. Thank you, Mba Afifah ^^

  35. swastikha maulidya

    Wah bisa dicoba ni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *