Buku apa yang mengubah jalan hidupmu?

Ada banyak buku yang mengubah jalan hidupku. Namun, ada 1 buku yang sangat berpengaruh besar dalam pengambilan suatu keputusan.

Di tema terakhir nulis bareng Cerita Pertama, aku dan Kak Zelie akan bercerita penulis favorit pertama kami.

Dalam kasusku, penulis ini bukan yang benar-benar pertama aku favoritkan. Namun, bisa dibilang, beliau adalah penulis nonfiksi pertama yang sangat kusuka. Salah satu bukunya sangat berpengaruh besar bagiku.

Sewaktu SMP, aku pernah membaca bukunya yang berjudul “Totto-chan Gadis Cilik di Jendela”. Aku kira buku itu buku cerita biasa. Ternyata buku itu adalah semacam kisah masa kecil beliau.

Di SMA, aku menemukan buku beliau yang lain.

Judulnya Totto-chan’s Children atau Anak-anak Totto-chan.

Buku tersebut berisi cerita perjalanan kemanusiaan Tetsuko Kuroyanagi.

Di usia dewasa, beliau menjadi Duta Kemanusiaan UNICEF.

Dalam buku tersebut, beliau mengisahkan pengalamannya mengunjungi berbagai negara dan menemui anak-anak.

Ada banyak anak yang menjadi korban kekeringan, perang, atau pun kemiskinan. Buku tersebut memaparkan berbagai keadaan.

Sepertinya, buku tersebut depressing?

Menurutku nggak. Memang banyak kisah sedih di buku “Anak-anak Totto-chan”. Namun, cara penyampaiannya sama sekali nggak membuat pembaca (aku) depresi.

Justru, penyampaiannya mampu membangun simpati. Mampu membuat terbersit, “Oh, begini toh keadaan di sana”. Dan, mampu membangkitkan keinginan untuk menjadi manusia yang lebih berguna.

So, yeah, setelah membaca buku tersebut, cita-citaku pun berbelok.

Sejak kecil, aku mempunyai cita-cita yang berubah-ubah. Desainer, guru, pilot, dan lain-lain.

Namun, ada 1 profesi yang sama sekali nggak aku ingin lakukan: dokter.

Aku nggak mau jadi dokter. Aku pun pernah berkata kepada teman kelas 10 bahwa aku nggak mau jadi dokter. Kalimatnya lugas penuh keyakinan.

Siapa sangka, di kelas 11, aku seperti menelan ludah sendiri. Setelah membaca buku ini, aku ingin menjadi dokter.

Kedengarannya impulsif, ya? Namun, dulu aku jarang impulsif, terutama untuk hal-hal semacam itu.

Walau begitu, memang agak terlambat, sih, kalau ingin kuliah kedokteran. Yaaa, kalau mau sekolah kedokteran di PTN kan harus belajar luar biasa dari kelas 10. Sekalipun pernah ranking, tapi kan belajarku biasa saja. Sekadar belajar untuk lulus UN dan untuk masuk IPB waktu itu.

Walau begitu, tetap saja aku ingin.

Buku “Anak-anak Totto-chan” sudah sangat mempengaruhiku.

Mungkin juga hasil akumulasi aku mendengar desas-desus dokter yang kerjanya nggak bener. Lalu, begitu membaca buku “Totto-chan’s Children“, aku pun ingin menjadi dokter yang bener.

Jadi, walau agak terlambat, aku tetap belajar.

Hasilnya? Ya jelas aku nggak jadi dokter. Cuma jadi mahasiswa dokter alias dosenku dokter. Haha.

Aku nggak pernah menyangka buku tersebut memberikan impak yang sangat berpengaruh sampai hari ini.

Impaknya bukan lantas aku menjadi blusukan ala Tetsuko Kuroyanagi. Namun, lebih ke arah, seolah dari satu benang, terjalin benang lainnya. Aku mau menjelaskan lebih jauh, tapi aku mau simpan secara pribadi saja.

Pastinya, bukan suatu kebetulan aku dipertemukan dengan buku “Anak-anak Totto-chan”.

You may also like...

1 Comment

  1. wah pasti bagus ceritanya, akan ku baca selengkapnya nanti 😀 terimakasih atas rekomendasinya kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *