Seorang teman pernah mengatakan bahwa aku mungkin terlalu kenyang sewaktu masih kecil, terlalu kenyang untuk difoto. Aku memiliki dua album besar, belum termasuk album-album kecil yang entah jumlahnya berapa. Semua album itu penuh berisi fotoku, seorang anak berusia kurang dari lima tahun dan sangat suka melambai ke kamara. Itu dulu, lebih dari sepuluh tahun lalu. Sekarang, aku berbeda seratus delapan puluh derajat. Aku tidak memiliki satu pun album bertahun-tahun belakangan ini. Sekarang, aku tidak suka difoto.
Bagiku, berfoto adalah sebuah bentuk narsisme, terutama berselfie. Untuk apa berselfie kalau setiap hari melihat wajah yang sama di cermin? Aku puas melihat wajahku di cermin, tidak perlu melihat wajahku di monitor atau pun album foto. Toh, aku pertumbuhan dan perkembanganku tidak secepat dulu. Berfoto satu-dua kali dalam satu tahun sudah cukup. Tidak ada momen khusus, tidak ada foto.
Ibuku pernah berkata, kalau sudah tua, pasti senang melihat foto-foto itu. Bagiku, kalau sudah tua, melihat foto-foto saat momen penting saja sudah cukup dan memiliki foto orang-orang yang diakungi tanpa harus ikut serta di dalamnya, bukankah lebih dari cukup?
Sampai suatu hari, seseorang yang kuikuti di Twitter mengadakan lomba berhadiah buku yang sangat kuinginkan dan bertanda tangan pengarangnya. Aku membaca peraturan yang dia tweet. Sampai pada peraturan utama: men-tweet foto bersama sahabat. Aku langsung tak suka. Di sisi lain, aku sangat menginginkan buku itu. Apa yang harus kulakukan? Lebih dari empat tahun mempunyai Twitter dan tak sekali pun aku mempublikasikan wajahku.
Didorong keinginan kuat memiliki buku itu, aku pun memutuskan menggunakan foto favoritku: foto pernikahan seorang sahabatku dengan aku sebagai pengambil gambar. Tentu saja aku tidak ada di foto itu. Aku pun mengirim gambar itu. Tapi, setelah ku-tweet gambar itu, aku merasakan ketidakadilan. Aku memiliki lebih dari satu kelompok sahabat. Apakah adil hanya mempublikasikan keeratan persahabatanku yang itu?
Kemudian kupikir tidak ada salahnya aku mempublikasikan foto lainnya. Kali ini, kubuat menjadi kolase agar wajahku tidak terlalu jelas, yang penting terlihat keakraban kami. Saat mencari foto-foto yang tepat itulah aku menyadari sesuatu, betapa pentingnya foto.
Kulihat banyak foto. Sebagian besar adalah foto-foto yang kuminta dari temanku. Mulai dari foto bagus, sampai foto yang kurang jelas karena tangan bergoyang saat mengambilnya. Mulai dari foto candid, sampai foto selfie. Mulai dari foto yang diambil dengan ponsel berkamera keluaran pertama, sampai foto yang diambil dengan ponsel pintar. Semuanya memiliki kesamaan: tampak indah ketika melihatnya dari waktu berbeda. Sayangnya, hampir semua memiliki kesamaan lain: tanpa kehadiranku. Aku bisa melihat wajah bahagia mereka, tapi mereka tidak bisa melihat wajah bahagiaku. Aku tidak takut dilupakan. Teman sejati tidak aku melupakan temannya, bukan? Aku hanya ingin kami berbagi kebahagiaan yang bisa kami ceritakan, bahkan walaupu berupa foto jelek untuk bahan tertawaan.
Saat itu, rasanya aku ingin memanggil sahabat-sahabatku, mengajak mereka berfoto. Tidaklah penting mencari momen penting untuk berfoto. Setiap momen adalah momen penting. Saat berbalik lagi melihatnya, rasanya indah menggali ingatan mencari saat apakah foto itu diambil. Dan, mengambil foto selfie bukan lagi sekadar narsisme. Mengambil foto untuk diri sendiri, tanpa menempatkan kamera jauh dan memasang timer adalah hal yang layak dilakukan. Selfie (juga wefie) adalah sebuah cara memperlihatkan kebahagiaan kita sendiri terhadap kebahagiaan di suatu tempat atau di suatu momen. Mungkin saja wajah bahagia kita bisa membuat orang lain ingin mengunjungi tempat itu. Mungkin saja wajah bahagia kita berselfie di acara reuni bisa menginspirasi orang lain menyusun acara reuni juga. Saat berselfie atau berwefie, wajah bahagia itu akan lebih jelas dibandingkan saat foto tersebut diambilkan orang lain. Dan, perjuangan saat mengambil foto untuk diri sendiri – mengatur jarak agar wajah dan latar belakang jelas, mengatur tangan agar tidak gemetar, menahan agar ponsel tidak jatuh saat bergaya – adalah hal yang bisa menambah kesan tersendiri saat mengingat hal yang dulu bagi aku terasa konyol.

Sekarang, aku sangat berterima kasih kepada dua sahabatku, El dan Zed, karena pernah memaksa aku berwefie. Foto ini mungkin tidak terlalu berkesan bagi orang lain, tapi sangat berkesan bagi aku. Sekarang, aku bisa mengingat foto ini diambil saat pelajaran olahraga terakhir di SMA. Jadi, saat itu adalah saat terakhir kami mengenakan pakaian olahraga hitam biru itu. Foto ini diambil di depan Graha Candra Dimuka, aula yang besebrangan dengan lapangan basket kami melakukan ujian praktik. Bagian depan aula sekolahku memang menyerupai bagian depan rumah, terutama pintu gandanya.

Foto ini kami buat sebelum kami melakukan praktik senam diiringi lagu Waka-waka yang dinyanyikan Shakira. Sebuah ujian praktik yang sudah kami persiapkan selama berminggu-minggu. Saat itu, aku merasa momen itu tidak penting karena semua ujian sama saja. Sekarang pikirku, momen itu bisa mengingatkan pada perjuangan kami melakukan latihan: beradu argumen mengenai koreografi, berbingung ria memilih lagu, sampai acara berdebat karena tidak kompak. Walau bukan salah satu momen menyenangkan, tapi kalau dipikirkan sekarang, rasanya membahagiakan. Momen saat kami harus memutuskan sesuatu yang mungkin tidak mengubah jalan hidup kami adalah momen yang tidak dapat diulang. Kalau foto itu tidak diambil, aku tidak akan mempunyai foto berbaju olahraga. Aku pun mungkin akan melupakan perjuangan, tawa canda, keluh kesah, yang mengiri persiapan ujian hingga kegembiraan kami setelah ujian.

Sekarang, kusadari memiliki foto berseragam sekolah, terutama seragam yang membedakan sekolahku dengan sekolah lain, adalah hal yang berharga. Satu foto bisa mengungkap banyak kisah, bahkan kisah sebelum foto itu dibuat.

Dan, di akhir tulisan ini, aku juga ingin mengucapkan terima kasih kepada baju hitam biru (dengan sedikit aksen putih) itu.
Baju olahraga hitam biru itu tidak pernah mengeluhkan peluh yang kami limpakan padanya, yang meneteskan berjuta cerita.

Aku belum tua, hanya menua, tapi aku percaya perkataan ibuku benar.

* * *

 

You may also like...

15 Comments

  1. Keren ceritanya, coba selfienya sambil jungkir balik yak hihi

  2. Keren mbak, saya tua belum tua hihi btw saya juga ikutan.

  3. aku juga ga suka difoto sebenernya… Tapi berubah sejak tahun 2010, saat hobi traveling mulai rutin dilakuin..Dipikir2, orang-orang ga bakal percaya kalo aku bilang udh pernah ke sana, kesini, tanp ada bukti foto :D.. Jadilah sjk itu, aku mau difoto, itupuuuuun, liat tempatnya juga 😀

  4. iya ya. kalau cuma foto pemandangannya, bisa dikira nyatut punya orang lain. mesti sama kitanya juga.:)

  5. walah. hpnya malah mental yang ada. 😀

  6. happy blogwalking. 🙂

  7. wah bnyak juga ya yg ikutan Blog Competiton Selfie Story
    smeoga menang mbak 🙂

  8. Ya, terkadang ada2 saja yang bisa dijadikan #selfistroy 🙂
    Good luck yah dan salam kenal juga…

  9. Yang paling penting adalah memory yang terkandung dalam foto kebersamaan… nice…

  10. aamiin. 🙂

  11. salam kenal juga. 🙂

  12. iya. 🙂

  13. :') I'm teary read this blog. thanks for being my bestfriend af, zed.. love ya!! let's we capture more moment when we meet again.. soon.. I hope soon!

  14. thanks for allowing me join your circle. I hope soo.
    🙂

  15. iya mbak, tidak perlu momen penting untuk berfoto, freedom. salam kenal ya mbak Afifah Mazaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *