Kapan kamu terakhir ke toko buku?

Aku, sih, baru saja.

Ke toko buku daring.

Hehe.

Kalau ke toko buku konvensional, aku lupa kapan terakhir ke sana. Sudah lamaaaa banget.

Dulu, sih, aku suka main ke toko buku konvensional. Nggak ada rencana beli apa pun. Pokoknya, main saja. (Lalu, pulang dengan tambahan buku baru untuk di rak).

Toko buku yang dulu memang nyaman, sih. Tampak luas.

Sekarang, luas toko buku ya segitu-segitu saja. Sayangnya, sekarang toko buku jadi terkesan sempit.

Barang-barangnya terlalu banyak. Belum lagi, kadang-kadang bahkan toko buku sekelas Gramedia pun banyak buku yang belum diatur letaknya.

Toko buku yang paling dekat dengan tempat tinggalku tuh Gramedia Botani Square. Sayangnya, sekarang aku malas banget ke sana. Botani Square kan mall adem (iya, ada mall nggak adem) paling ramai di Bogor, berdasarkan pengamatanku. Gramedia-nya juga jadi ramai banget. Tapi, ramainya bukan cuma oleh manusia.

Barang-barang ditumpuk begitu saja di suatu sisi. Bagian alat tulis pun begitu. Ada tumpukan berantakan. Bukan berantakan oleh pengunjung, melainkan memang belum ditata oleh petugas. Kadang-kadang, ada juga petugas yang berkumpul di suatu sisi, seperti sedang merapikan sesuatu, tapi yah, kok tetap belum rapi?

Mungkin saking banyak barang dan banyak varian makanya jadi sulit rapi, tapi diapain kek supaya jadi lebih rapi. Mengurangi kuantitas per produk kalau mau menampilkan banyak varian. Atau, fokus di kuantitas per produk dengan varian yang lebih terbatas. Misalnya.

Dan, kalau mau beresin stok, nggak perlu dikeluarin semua seabrek gitu kek. Sedikit-sedikit saja, biar nggak menghalangi jalan. Huhu.

Masa perlu memanggil Marie Kondo untuk mengatur toko buku di Indonesia?

Aku jadi sebal, padahal cuma ngebayangin kondisi toko buku itu, bukan betulan masuk. Haha.

Beberapa kali aku masuk ke toko buku itu dan langsung merasa terusir. Saking banyaknya hal yang nggak rapi dan terlalu banyak barang.

Oh, aku memang mudah kehabisan energi kalau berada di lautan manusia. Tapi, ternyata aku juga mudah kehabisan energi kalau berada di tempat yang terkesan sempit, terlalu banyak barang dan penataan nggak runut berdasarkan hal tertentu yang sedap dipandang.

Gramedia Pajajaran masih lebih baik, seingatku. Walau begitu, tetap saja aku merasa Gramedia yang sekarang terlalu crowded.

Beberapa hari lalu, aku ke Margocity, Depok. Aku sempat melewati Toko Buku Gunung Agung, tapi nggak masuk. Sekilas sih tampilannya lebih rapi dibanding Gramedia.

Aku pernah masuk, sih. Isinya memang nggak selengkap Gramedia, tapi lumayan. Yah, masalah Gramedia tuh kayaknya terlalu ingin lengkap sampai bikin pusing. Jadi, ke Gramedia mah kalau sudah tahu mau beli apa (kalau benda yang diinginkan tersedia. Kalau nggak tersedia, ya belajar sabar saja). Kalau kayak ke Gunung Agung, masih bisa ada ruang untuk mikir mau beli ini atau beli yang itu. Tanpa perlu betul-betul ingin beli sesuatu sebelum masuk ke sana.

Aku kangen toko buku zaman dulu. Varian produk-produknya memang nggak sebanyak sekarang, tapi bikin bahagia. Dan, justru karena bahagia itu akhirnya dari nggak niat beli apa pun, akhirnya jadi beli sesuatu.

Toko buku yang display-nya bagus menurutku tuh TM Bookstore yang ada D’Mall, Depok. Toko bukunya kecil, tapi terasa nyaman. Cukup rapi. Petugasnya juga sedikit tapi pelayanannya oke.

Nilai tambahan, penataan kasirnya menarik. Bukan sekadar mesin kasir tok. Kalau penasaran, datang saja langsung. Hihi.

Setelah kesal karena mengingat-ingat Gramedia Botani Square, aku jadi adem karena mengingat TM Bookstore D’Mall.

Dari segi harga, TM Bookstore juga biasanya lebih murah. Sayangnya, lokasinya memang jauh. Kalau sengaja ke sana untuk nyari harga, ya salah. Kalau ke sana untuk nyari sesuatu tanpa betul-betul tahu akan beli apa, masih ada betulnya.

Misal, mau beli sketchbook merek ini atau merek itu.

Btw, aku terakhir ke TM Bookstore ya beli sketchbook. Itu juga karena sekalian ke Daily Foodhall.

Sekarang, kayaknya aku lebih sering ke toko buku untuk beli stationary daripada untuk beli buku. Untuk buku, lebih sering online karena biasanya buku yang aku inginkan tuh nggak tergantikan. Kalau stationary kan kalau nggak ada merek yang diincar, malah berarti sekalian bisa coba merek lain.

Jadi, sebetulnya toko buku atau toko alat tulis? Hehe. Yaaah, sketchbook juga kan buku.

Toh, keberadaan toko buku konvensional masih cukup membantu, kok. Terutama untuk saat-saat darurat. Dan, terutama untuk menemukan alat tulis. Hehe.

 

 

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *