Nasi Dulang Cianjur Rahmawati

Hal yang paling harus disyukuri dari perkembangan wisata Kota Bogor adalah nggak  perlu jauh-jauh kalau perlu sekadar melepas penat singkat. Bagi warga Jabodetabek lain, Bogor menjadi pilihan tercepat, termudah, dan termurah untuk wisata, ‘kan? Naik kendaraan umum atau pribadi, 1-2 jam pun sudah sampai. Kalau ingin berlibur agak jauh atau ingin yang lebih dingin, Puncak masih menjadi primadona.

Di Bogor Kota pun, banyak tempat yang bisa disinggahi. Beberapa orang mungkin pernah melihatku semacam komplain soal tata letak beberapa tempat di Kota Bogor yang kurang pas dengan lokasinya. Maklumlah, remaja kinyis mah apa pun bisa jadi bahan kritik. Di sisi lain, kemajuan Bogor bikin tempat kuliner menjamur. Dulu, aku bahkan suka banget menclok dari satu resto ke resto lain yang kelihatan lucu. Iya, dulu, waktu zaman aku suka komplain itu. Remaja labil memang. Lol.

Nggak bisa dipungkuri juga, keberadaan banyaknya tujuan wisata menjadi kemudahan tersendiri bagiku sebagai warga Bogor sekalipun. Sekarang, aku bukan lagi menclok ke resto untuk sekadar merasakan vibes suatu tempat tapi lebih sering betul-betul untuk urusan perut dan rasa. Makin banyak pilihan yang bisa dimakan, kan hidup makin mudah.

Liburan Ringan di Bogor

Kalau pengen liburan ringan karena malas jauh-jauh, di Bogor juga bisa. Buat staycation ala-ala, pilihan hotel di Bogor ada banyak. Mau yang di tengah kota banget, ada Royal Padjajaran Hotel, Hotel Pangrango, dll. Mau yang agak melipir ke wilayah agak sepi tapi nggak jauh dari tengah kota, ada The Sahira Hotel. Mau hotel murah, bisa cari di Pegipegi, ada guest house atau indekost harian Bogor di sana. Mau hotel terbaik berbintang pun ada. Kan banyak banget pilihan hotel di Bogor, tinggal pakai saja fitur filter. Bahkan, bisa juga memilih hotel dengan ruangan bebas rokok di Pegipegi.

Royal Padjajaran Bogor

Royal Padjajaran Bogor
Royal Padjajaran Bogor

Jalan Kulineran

Kalau mau liburan ringan sambil wisata kuliner, fitur search Pegipegi bisa sangat membantu. Tinggal ketik “Padjajaran, Bogor” supaya langsung nemu hotel di sekitar wilayah kulineran. Jalan Padjajaran mungkin jalan paling sibuk di Kota Bogor. Walau begitu, di sepanjang jalan ini, banyak banget pilihan kuliner.

Agak berbelok sedikit di salah satu persimpangan Padjajaran pun, kita masih bisa menemukan banyak kuliner. Misalnya, berbelok ke persimpangan menuju Bangbarung untuk mencoba sajian ayam, bebek, atau ngopi cantik, atau berbelok di samping RS Siloam untuk mencoba kuliner ala mahasiswa di daerah Malabar.

Kali ini, aku memilih berbelok di persimpangan daerah Binamarga. Begitu keluar tol Jagorawi dan berbelok ke kiri, ada jalan yang disebut Jalan Binamarga. Begitu masuk, berbagai kuliner Sunda sudah siap menyambut. Di kiri jalan, ada semacam foodcourt bernama Wisata Kuliner Bogor. Di kanan Jalan, ada Restoran Bale Kabayan.

Tapi, tujuanku bukan ke sana. Di belokan pertama Jalan Binamarga, belok lagi masuk ke Jalan Kantor Pos. Di sini juga banyak banget pilihan kuliner.

Tujuanku adalah Nasi Dulang Cianjur Rahmawati, Jalan Kantor Pos nomor 5. Aku mungkin bukan fans berat makanan Sunda. Karena, yaaa, ngapain sih. Itu kan makanan sehari-hari, kecuali gurami atau lauk-lauk tertentu. Walau begitu, mendengar review pedas di Nasi Dulang Rahmawati yang “wow”, aku jadi penasaran merasa tertantang.

Jadi, inilah wisata kuliner pedas di Bogor.

Sederhana, tapi Exciting

Aku sempat mengira akan kesulitan mencari  restoran ini. Tapi, ternyata cukup mudah. Langsung ketemu, di sisi kanan jalan kalau masuk melalui Jalan Binamarga. Plangnya cukup jelas menurutku.

Nasi dulang Cianjur Rahmawati

Nasi Dulang Cianjur Rahmawati sebetulnya ada juga di foodcourt Wisata Kuliner Bogor Jalan Binamarga dan di dekat Mall Botani Square. Tapi, karena resto yang di Jalan Kantor Pos tampak lebih nyaman, aku memilih yang ini.

Resto ini mempunyai area outdoor dan indoor. Memasuki rumah makan ini, pikiran pertamaku adalah, “Wah, untung sepi.” Haha. Yaaah, aku sengaja sih datang saat weekday tepat sebelum jam makan siang normal. Ambience-nya pun sederhana. Bukan tipikal resto Sunda dengan lantunan musik Sunda menyambut disertai aroma bambu atau kayu. Malah, resto Nasi Dulang Rahmawati ini sekilas tipikal resto makan siang pekerja kantoran yang ingin makan siang adem tapi murah.

Nasi dulang Cianjur Rahmawati

Wisata kuliner pedas di Bogor

Yang pasti, resto ini terbilang nyaman. Bersih dan adem. Dua hal yang penting banget buatku.

Begitu datang, aku langsung tanya ke  mbak pelayan, “Ini ambil langsung?” Kan aku takut salah, ya. Hehe. Dan, diiyakan oleh mbak tersebut dan ditawari kalau mau ayam goreng kampung, ayamnya digoreng dulu. Aku tolak karena sesungguhnya mataku sudah terpaku pada hal lain. Aku superexcited karena nggak ngira akan menemukan makanan itu di sana. Makanan yang sudah sangat ingin aku coba sejak zaman dahulu kala. Makanan apa itu? Baca terus sampai bawah, ya.

Lalu, aku ditanya juga mau minum apa. Yah, teh tawar hangat ajalah aku mah. Tipikal Sundanese banget, ‘kan? Kemudian, mbak itu pun pergi mengambilkan teh tawar. (Dan kembali bahkan sebelum aku selesai mengambil makanan).

Nasi Dulang Rahmawati

Ada dua pilihan nasi: nasi merah dan nasi putih. Aku memilih nasi putih saja. Aku mau rasa yang sudah biasa aku makan sehari-hari untuk dipadukan dengan makanan dambaan seumur hidup. *lebay? biarin*

Wisata kuliner pedas di Bogor

Di ujung prasmanan, ada sekumpulan sambal. Aku memilih 2 saja. Sambal gandaria yang terkenal dan sambal terong. Nggak ada alasan khusus memilih sambal terong, cuma karena tampilannya menarik saja. Kalau sambal gandaria, tentu karena sambal ini yang bikin nama Nasi Dulang Cianjur Rahmawati sampai ke radarku.

Makanan Dambaan

Menu di piringku yang pertama kali aku coba tentu aja … TUTUT!

Nasi Dulang Rahmawati menu

Bilang saja aku norak, tapi aku memang belum pernah makan tutut. Cuma dengar-dengar cerita orang lain saja. Dan, sekarang aku sudah pernah nyobain tutut juga doooooong.

Aku coba tutut tanpa nasi karena betulan penasaran dengan rasanya. Aku sudah siap makan tanpa cantik dengan nyedot-nyedot tutut karena kata orang-orang, tutut harus disedot. Ternyata, nggak juga, loh. Tutut di piringku banyak juga yang tinggal diambil dengan garpu.

Tutut tuh kenyal mirip kerang. Nggak bau amis maupun bau tanah. Rasa bumbu kuningnya lembut. Eh iya bumbu kuning kan, ya? Pokoknya, mirip bumbu tutut yang banyak ada di foto-foto gitu, deh. Aku senaaaang, akhirnya makan tutut. Hahaha.

Shocking Sambal

Menu nasi Dulang Cianjur Rahmawati

Lanjut ke sambal. Aku langsung coba sambal gandaria. Aku coba pakai nasi lah ya, mana tega aku makan sambal doang.

Rasa yang pertama kali muncul … asam. Lalu, sepersekian detik kemudian … “Aku lagi makan atau lagi uji nyali?” Kenapa pedas bangeeet?

Aku belum pernah nyoba makanan pedas-asam. Pedas-manis atau pedas-asin mah kan biasa banget, ya. Nah, pedas-asam ini shocking banget bagiku. Aku nggak ngira pedas dan asam bisa disatukan tanpa membuat salah satunya terdiskriminasi. Asam kan biasanya rasa yang strong, ya. Pedas juga. Nah, bayangin deh mereka bersatu padu tanpa berusaha menutupi salah satunya. Well, pedasnya agak lebih strong, sih, tapi asamnya juga kerasa banget. Nggak salah memang sambal gandaria menjadi highlight di sini.

Mungkin karena rasa sambal gandaria yang mirip uji nyali, rasa sambal terong jadi kayak lebih manis. Walaupun begitu, tetap saja pedas banget. Tiba-tiba, aku merasa porsi nasi dibanding porsi sambal di piringku kurang imbang. Mau ngambil nasi lagi, tapi kan …

Nasi dulang Cianjur Rahmawati menu

Untung, aku pesan teh tawar hangat. Lumayan membantu menetralkan setiap kali sudah mulai over kepedasan. Untung juga, aku bawa sapu tangan. Makan pedas kan kadang-kadang bikin riweuh. Di sana ada tisu, sih. Tapi kan ngapain nyampah kalau nggak kepepet.

Oh, ya, aku belum cerita soal nasi dan oncom. Nasinya pulen kok. Yaaa, masa bawa Cianjur tapi nasi nggak pulen. Oncomnya sedikiiiiit pedas tapi justru nasi dan oncom ini yang juga menjadi penolong menghadapi dua sambal itu.

Akhirnya …

Total harga yang harus aku bayarkan Rp18700 sajaaaa, termasuk ppn 10%. Nih, barangkali mau lihat-lihat harga menu Nasi Dulang Cianjur Rahmawati.

Nasi Dulang Cianjur Rahmawati menu

Menu nasi Dulang Rahmawati

Tutut aku ambil terhitung setengah porsi. Oncomnya sesiuk. Sambalnya gratissss.

Murah banget, sih, menurutku. Apa lagi, rasa menu-menu yang aku coba tergolong memuaskan. Apa lagi, untuk porsi segitu, kalau habis, kayaknya pas banget untuk bikin aku kenyang tapi nggak kekenyangan. Kalau habis …

Soalnya, nggak aku habiskan langsung. Aku nggak mau mempermalukan diri di depan umum walau sudah ada sapu tangan. Hahaha. Untung, aku bawa kotak makan. Jadi, sisanya langsung aku masukkan ke kotak makan buat ditambah nasi di rumah. Banyak untungnya banget makan di sana. Lol.

Nasi Dulang Cianjur Rahmawati ini cocok banget untuk yang mau bagi yang mau wisata kuliner pedas di Bogor.

You may also like...

21 Comments

  1. Huuua…aku membayangkan jd ikut keringetan. Fix gak mau nyoba sambelnya…takut pingsan! Haha.. Tapi foto yg aneka lauk itu sangaaaat menggiurkan!!!

  2. Waduuuh Faaah, aku suka iseng jalan daerah itu, belum pernah lewat di Rumah Makan nasi Dulang Rahmawati ini, menunya lengkap banget ya, berapa macam itu? puluhan kayanya ya
    Makasih neng fifah, kapan-kapan aku ke sana ah

  3. Aku ngiler sama sambalnyaaaa. Maklum pecinta sambal tapi suka menghindari makan pedas kalau sedang traveling. Aku beberapa kali makan tutut. Tapi kalau sama cangkangnya belom pernah. Teria bersih aku mah

  4. Baca deskripsi rasa sambalnya, saya jadi ikutan seuhah…seuhaah…kebayang pedesnya. Benar-benar uji nyali dengan rasa asam pedasnya ya…
    Cocok sekali untuk.oenyuka makanan pedas, deh!

  5. Woalah di pegipegi juga bisa ceki2 tempat kuliner ya? Baru tau aku.

    Btw aku sampe sekarang gak yau tutut rasanya kayak apa. Katanya masaknya harus bener ya biar bisa dimakan dengan aman? Dulu masku pernah keracunan tutut karena masaknya gak bener.

  6. Waa.. Seru bgt ya ketemu sambal mantap begini. 3,5 th aku di bogor tapi baru tahu dalamnya royal pajajaran yg ternyata cozy bgt

  7. Wuaaah fifah tegaaa. liat cobek isi sambel gandarianya bikin aku neguk ludah nih hahaa

    Murce nih fifah melipir ah temenin kuy

  8. Sambalnya banyaaaak banget mba! Aku bisa panik liatnya .. cobain semua terus kepedesan kayak orang gila huhah huhah hehehe

  9. Ya Allah salah ini malam2 baca postingan kuliner. sedep bener mbaaaa sambil ngences bayangin makan tutut. Huhuhuhu…

  10. Asli aku penasaran banget kak Ama sambal Gandaria nya… Dulu tuh si emak suka buat tapi sekarang kan Gandaria agak langka ya di bekasi…

  11. Uji nyali yang bikin baper ish.. kalo uji nyalinya gini sih aku berani dong.. daftar paling depan kalo bisa hehe.. biar dapat pertama dan biasaya yang pertama masih bisa menikmati hidangan yang masih fresh dan banyak haha.. makanan aja nih aku.. tapi memang aku suka pedas.. jadi ya hayuk aja makan pedas

  12. Tutut is keong kali di sini, Mbak. Kalau di Demak, daerahku, makan keong itu kalau pas musim penghujan gini. Dimasak sama daun singkil (semoga di Bogor ada juga) sama labu plus cabe yang buanyak. Beeehhh…mantab lah. Ngabisin nasi.

  13. Huwa sambel gandaria, penasaran belum pernah mamam itu
    mba keongnya aduhai enaknya. Pengen banget juga semua menu masakan di Bogor belum pernah mampir ke Bogor

  14. Waduhhhh, jadi penasaran nih sama tempat makan yang nama akhirnya sama kayak nama panjang saya hahahaha. Terima kasih Mba ulasannya. Saya izin share ya Mba tulisannya, kalau-kalau mau baca lagi nanti hehehe

  15. Wah itu tutunya. Di Jogja ada kulinernya namanya sate keong ya dari tutut ini tapi udah ga ada cangkangnya gini.

  16. Hahaha mbayangin lagi ketampol pedes gitu huaaahh… Udah muka rasanya panas, tenggorokan terbakar, uwwhh… Aku juga sambal nih meskipun ga berani kalau udah pedes banget. Palingan dicolek2 doang. :))

  17. senang banget ya Mbak, makanan dambaan ada, lapar jadi hilang, apalagi dengan sambal yg menggugah selera gitu.. huaaa, senangnya double ya Mbak 🙂

  18. Aku juga bahagia banget kalau ketemu tutug.
    Hahaha~
    Biarin cemong sedikit pas makan…yang penting rasanya….yummm~

    Sambelnya ya Allah~
    Menggoda iman pissaan…

  19. Wah kalau soal wisata kuliner kasih aku deh apalagi kalau pedas sayangnya udah lama gak wisata kuliner, karena ku tak suka jalan sendiri hahaha. Btw kapan2 smga ada rejeki bisa berkunjung ke tempat ini

  20. Aku belum pernah ke Bogor mba, smoga tahun ini bisa kesana deh trus nyicipi kuliner ini. 😍

  21. wah dari gambar depannya saja sudah menggugah selera ya jadi pengen coba 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *