Menyalurkan zakat dan wakaf

Oke. Aku tau pelajaran zakat dan wakaf sudah ada sejak SD (seingatku sih SD). Mulai dari disebut-sebut dalan pelajaran Rukun Islam, sampai banyak hapalan tentang dua hal tersebut.

Di sekolah juga selalu ada program zakat fitrah setiap bulan Ramadhan. Lalu, begitu menjelang Idul Fitri, mesjid-mesjid juga gencar mengingatkan perihal zakat. Jadi, sudah pasti zakat nggak mungkin terlewat, kan?

Tapi, tau nggak sih bahwa potensi zakat di Indonesia itu sebesar Rp217 Triliun setiap tahun? Sayangnya, itu hanya potensi. Kenyataannya, zakat yang diperolah hanya 5.6 T. Jauh banget dari angka potensial, kan?

Kok bisa? Mungkin ini bukan karena orang Indonesia nggak bayar zakat. Hanya saja, pembayaran mereka nggak tercatat negara. Misalnya, nih, kita langsung ngasih zakat ke tetangga fakir miskin. Negara nggak akan mencatat karena nggak tau.

Negara akan mencatat kalau kita berzakat melalu Baznas atau Lembaga Amil Zakat yang diakui negara. Selain zakat, ada juga wakaf. Potensi wakaf di Indonesia juga besar. Tapi, entah ya yang sudah tercatat. 😌

Memberi Langsung atau Melalui Lembaga?

Zakat atau wakaf, langsung atau tidaknya tergantung pilihan. Negara memang menyarankan untuk memberikan melalui lembaga resmi. Bukan apa-apa, negara bermaksud mengelola hasil tersebut untuk menuntaskan kemiskinan. Hasil zakat dan wakaf bisa disalurkan ke pelosok. Tapi, kalau ada tetangga yang dirasa memang memerlukan, kenapa nggak memberi yang lebih dekat dulu, kan? Aku yakin kamu kamu, yang baca tulisan ini, nggak akan tega melihat tetangga kelaparan. Syukur-syukur setelah menyudahi kelaparannya, bisa bantu usaha juga.

Menurutku, yang penting, zakat nggak salah sasaran. Sudah tau kan kriteria penerima zakat? Bukan sekadar orang yang tampak lebih kekurangan daripada kita. Masa kita tiap hari kita makan roti dari toko Breadlalala, lalu merasa perlu ngasih zakat gara-gara tetangga hanya makan roti merek NananaRoti dan kopi bergelas-gelas. Eh, taunya dia mampu beli lauk, dan sayur kalau nggak beli kopi dan kopi, tapi keukeuh mesti ada kopi. Yaa, itu mah namanya songong kali, ya, bukan fakir miskin. Perlu binaan mental lebih dulu kayaknya. Huehe. 😂

Nah, daripada salah sasaran gitu,  lembaga resmi kan punya data warga miskin lebih lengkap. Mereka juga punya akses jangkauan lebih luas. Nggak ada salahnya ber-khusnudzon menyalurkan sebagai harta kita melalui lembaga resmi, kan?

Anyway, salah satu hal yang membuat kita berpikir ulang untuk menyalurkan melalui lembaga resmi karena takut pemberian kita dikorup lembaga, kan? Iya, aku tau kok. Siapa sih hari gini yang nggak curigaan? 😂

Aku sih cuma bisa bilang, yang penting niat. Urusan korup sih mereka yang dosa. Korup mah di mana-mana juga bisa ada. Yang pasti, mending mengumpulkan ke Baznas atau LAZ resmi daripada lembaga abal-abal kan? Aku memang nggak bisa memastikan di lembaga amil zakat atau Baznas ada korupsi atau nggak. Sama halnya aku nggak tau ketua kelompok praktikum korup uang nge-print atau nggak.

Toh, yang penting niat kita kan agar zakat dan wakaf kita tersalurkan ke orang-orang yang tepat dan mengurangi kemiskinan bangsa. Nah, untuk Baznas dan LAZ, menurutku sih nggak masalah kalau kalian hobi gembar-gembor sudah ngapain saja, asalkan nggak lebay. Socmed-nya dimanfaatkan banget-banget. Mungkin dengan begitu, masyarakat akan lebih percaya, kan? 😁

Yang pasti, program Baznas dan Kemenag sudah ada cukup kemajuan. Mereka punya program Kampung Zakat. Daripada bingung mencari zakat dan wakaf harus disalurkan ke mana karena semua tetangga sudah kaya raya, mungkin menyalurkan ke Baznas akan membuat Kampung Zakat semakin banyak di Indonesia.

Kamu tahu Kampung Zakat?

Kementrian Agama RI melalui Direktorat Jenderal Bimas Islam menggagas program yang diberi nama Kampung Zakat.

Jadi, kalau kita menyalurkan zakat dan wakaf ke lembaga resmi, hasilnya akan disalurkan ke Kampung Zakat yang sekarang sudah ada di 7 titik, salah satunya ada di Lombok. Walau namanya Kampung Zakat, mungkin ada hasil dari wakaf maupun infaq, sih. Zakat kan lebih ke arah menyudahi kelaparan, bikin senang secara langsung. Wakaf lebih ke arah amal jariyah. Misalnya, wakaf mobil untuk ambulans atau wakaf uang untuk modal membangun sekolah.

Di Kampung Zakat, warga dibina supaya mandiri dan naik status sosial sehingga bukan lagi akan menjadi warga miskin. Fasilitas umum seperti MCK pun diperbaiki. Bersih pangkal sehat. Kalau sudah sehat, mau berusaha keluar dari kemiskinan akan lebih mudah, kan?

Sekarang, kampung zakat didirikan di lokasi 3 T: terdepan, terluar, tertinggal. Rencananya, akan dibangun juga di wilayah terdalam, jadi 4 T.  Semakin banyak bantuan terkumpul, semoga saja semakin banyak kampung terbantu.

Jadi, sudah tau mau menyalurkan zakat dan wakaf ke mana? Atau, mau mencetuskan hal semacam Kampung Zakat di sekitar rumah?

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *